Stadion Palaran

Diskusi Stadion Palaran menyambut IKN di awal 2023.

Opini: Rizal Effendi 

Sepak bola Indonesia lagi seru. Ada sidang Kanjuruhan, Kongres Luar Biasa PSSI memilih ketua umum yang baru, sampai soal penghentian kompetisi Liga 2 dan 3. Sementara di Kaltim, ada satu isu yang menarik, soal nasib kompleks Stadion Palaran, yang sudah bertahun-tahun tidak dipergunakan sekaligus tidak tersentuh upaya pemeliharaan.

Saya agak tenang menanggapi semua isu tersebut. Soalnya klub sepak bola kebanggaan saya, Manchester United (MU) lagi hebat-hebatnya setelah ditinggalkan Ronaldo. Setelah menang dramatis atas Manchester City 2-1, MU berada di urutan 3 klasemen Liga Inggris terpaut satu poin dengan City. MU berturut-turut menang 9 kali dalam semua kompetisi pekan-pekan ini. Dan Rashford benar-benar menjadi mesin gol, mampu mencetak gol terus tiap pertandingan.

Sidang Kanjuruhan baru dimulakan Senin 16 Januari 2023, kemarin di PN Surabaya. Ada 5 tersangka diajukan jaksa. Di antaranya ketua panitia dan 3 anggota Brimob. Polisi mengerahkan 1.600 petugas untuk mengamankan jalannya sidang dan situasi kota. Tapi wartawan TV agak heran karena hakim melarang siaran langsung. Keluarga korban juga kecewa karena jalannya sidang banyak kejanggalan.

Kongres Biasa dan Luar Biasa PSSI juga viral. Ini buntut dari Kasus Kanjuruhan, sehingga berbagai pihak mendesak dilakukannya penggantian pengurus. Bahkan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dipimpin Menko Polkam Mahfud MD merekomendasi jajaran Exco (executive committee) termasuk ketua umum segera mengundurkan diri.

Kongres biasa yang dibuka Menpora Zainudin Amali Minggu 15 Januari 2023, sudah selesai. Menyusul kemudian Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, yang akan berlangsung 16 Februari nanti. Ini lebih cepat dari jadwal semula 18 Maret. Keputusan itu atas saran dari badan sepakbola dunia FIFA. Dalam kasus Kanjuruhan, FIFA berbaik hati. Tak secuil sanksi pun dijatuhkan kepada Indonesia.

Kongres biasa PSSI mengesahkan laporan kegiatan serta pertanggungjawaban keuangan 2022 dan rekomendasi program dan anggaran 2023. Selain itu juga pengesahan pembentukan  susunan Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP) sebagai persiapan  awal menuju KLB.

Amir Burhanuddin dan Gusti Randa terpilih sebagai ketua KP dan KBP. Tugas utama mereka memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif atau Exco.

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule dan wakilnya, Iwan Budianto menyatakan mengundurkan diri dan tidak akan mencalonkan  lagi. “Setelah salat istikharah, saya merasa pengabdian saya di PSSI sudah cukup maksimal. Jadi saya tidak akan maju lagi dalam pencalonan,” katanya.

Calon pengganti Iwan Bule sudah mulai heboh. Ada Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti yang muncul sebagai pendaftar pertama. Lalu menyusul Menteri BUMN Erick Thohir, yang datang dengan “the wining team.” Dia mendaftar didampingi Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Jokowi dan sejumlah selebritas besar seperti Raffi Ahmad, Baim Wong, dan Atta Halilintar.

Kaesang sepertinya balas budi. Soalnya waktu dia menikah di Solo, Erick menjadi ketua panitia. Dia habis-habisan mencurahkan tenaga dan perhatian dalam perhelatan akrab dan luar biasa itu. Jokowi senang karena berlangsung sukses, aman, dan lancar. Kaesang dan Erick juga sama-sama memiliki saham di Persis Solo.

“Sebagai anak bangsa saya terpanggil untuk mengubah keadaan. Membuat yang bengkok menjadi lurus. Tugas saya memastikan mimpi kita bersama menjadi kenyataan,” ujar Erick kepada wartawan setelah mendaftar ke PSSI.

Tak lama setelah Erick, muncul wajah lama mantan sekretaris jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, yang mendaftar sebagai wakil ketua umum. “Mohon dukungannya. Sudah 20 tahun dunia ini saya jalani, dunia sepak bola memang sangat saya cintai,” katanya.

Entah sengaja atau tidak, Erick dan Tisha datang mendaftar mengenakan busana merah. Apakah itu pertanda mereka sudah kompak akan berduet bersama memimpin PSSI empat tahun ke depan? Kita lihat nanti.

Yang pasti, Erick bukan orang baru dalam dunia sepak bola. Dia pemilik klub Inggris Oxford United dan pernah menjadi presiden Inter Milan. Sedang Tisha juga punya pengalaman menjadi Wakil Presiden AFF 2019-2023. Ketika kasus Kanjuruhan, Erick diutus Presiden Jokowi menemui Presiden FIFA Giovanni Vincenzo Infantino. Dan sukses mendatangkan Giovanni ke Jakarta bertemu Jokowi dengan hasil Indonesia tidak dihukum.

La Nyalla yang menjadi pendaftar pertama tak kalah seru dengan pernyataannya. “Saya terpanggil dan mau membayar utang saya karena dulu pernah diberi amanah. Saya juga siap memberantas mafia di sepak bola Indonesia,” katanya lantang didampingi sejumlah pendukung, di antaranya Presiden Klub Persiba Balikpapan Gede Widiade.

Ketua DPD RI ini bukan orang baru di PSSI. Dia pernah menjadi ketua umum 2015-2019. Tapi kemudian dibekukan oleh  Menpora Imam Nahrawi hingga berujung sanksi FIFA. Kemudian digelar KLB, yang menetapkan nama Iwan Bule, jenderal bintang tiga Polri, mantan Kapolda Jabar dan DKI serta Pj Gubernur Jabar sebagai pengganti.

Ketua KP Amir Burhanuddin mengumumkan nama-nama yang masuk setelah pendaftaran ditutup, Senin malam. “Ada 5 calon ketum, 17 waketum dan 78 Exco,” katanya.

Selain La Nyalla dan Erick Thohir, ada 3 nama baru yang masuk. Yaitu Arif Putra Wicaksono, Doni Setiabudi, dan Ferry Jemi Francis. Yang menarik di calon waketum, selain Ratu Tisha, ada nama Menpora Zainudin Amali. Juga Andre Rosadi, Azrul Ananda, Sadikin Aksa, dan Yunus Nusi, sekjen PSSI.

Yunus juga mendaftar di Exco. Selain itu ada nama Raffi Ahmad, Achmad Baidowi, mantan pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI (Purn) Sonhaji, Achsanul Qosasi, Yesayas Oktvianus dan Gede Widiade, presiden Klub Persiba Balikpapan.

Di tengah suasana kongres PSSI saat ini, ada pihak yang tengah berduka. Ratusan pemain sepakbola di Tanah Air, terutama mereka yang berjuang di kompetisi Liga 2 dan 3 harus menelan kepedihan luar biasa. PSSI memutuskan kompetisi Liga 2 dan 3 tahun 2022/2023 dihentikan.

Penghentian ini memunculkan polemik dan kritik berat. Tentu yang sangat terpukul pemain. Maklum ini menyangkut piring nasi mereka. “Kontraversi penghentian Liga 2 dan 3 menjadi bukti ketidakjelasan tata kelola kompetisi sepak bola Indonesia. Wajar saja prestasi tim nasional tak kunjung baik,” ujar Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda.

“Akan kami somasi dan gugat PSSI,” kata Yan Mandenas, manajer Persipura Jayapura, yang merasa jadi korban. Dia termasuk salah satu pengurus klub di Tanah Air yang tidak setuju dengan penghentian itu. Termasuk juga Persiba Balikpapan.

Berbagai isu muncrat di balik penghentian kompetisi. Mulai soal dipalsukannya tanda tangan sejumlah pimpinan klub sampai soal pengkhianatan dan upaya kudeta yang dilakukan Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Yusi terhadap Iwan Bule.

“Ada pengkhianatan, ada manuver busuk yang dilakukan sekjen dan salah seorang Exco PSSI,” kata pengamat bola Tommy Welly, yang akrab dipanggil Bung Towel di kanal Youtube-nya seperti diberitakan ERA.id.

Saya belum mendengar komentar Yunus Yusi, tokoh sepak bola dari Kaltim ini soal tuduhan tersebut. Tapi dalam penjelasannya kepada wartawan, Yunus mengatakan, ada tiga alasan mengapa kompetisi Liga 2 dan 3 dihentikan. Yaitu, adanya permintaan mayoritas dari klub, sarana dan prasarana tempat pertandingan belum memenuhi syarat dan soal periode perizinan kompetisi berdasarkan Perpol No 10 Tahun 2022.

Menanggapi masalah ini, Menpora menjanjikan akan berbicara dengan PSSI dan Exco agar Kompetisi Liga 2 dan 3 tetap digelar. “Ya segera saya bicarakan untuk mencarikan jalan keluar,” kata Zainudin setelah menerima perwakilan klub dan pemain yang menjadi korban.

Sarang Hantu

Sementara itu dari Kaltim ramai disorot soal nasib kompleks stadion utama Palaran. Kondisi stadion itu sudah bertahun-tahun seperti jadi sarang hantu. Siapa saja yang baru keluar dari jalan tol Balikpapan-Samarinda, pasti melihat keadaannya yang sangat memprihatinkan. Kalau malam sangat menyeramkan.

Pelatih Persija Jakarta Thomas Doll ketika membawa anak asuhnya latihan di sana untuk Piala Presiden 2022, mengeluh berat. “Kondisi lapangan Stadion Palaran sangat buruk. Cocok untuk penggembalaan sapi, bukan untuk bermain sepak bola,” katanya mengelus dada. Padahal dulu rumput di stadion itu berstandar internasional. Rumput yang dipakai jenis zoysia matrella atau rumput Manila sesuai standar FIFA. Harganya sekitar Rp110 ribu per meter.

Pekan lalu saya lewat di sana. Lumayan, hutan dan semak belukar yang “menghiasi” kompleks itu sudah dibersihkan. Jadi tampak sekali kondisi lapangan yang rusak berat. Bagian pagarnya ada yang runtuh. Bangunannya penuh karatan dan retak. Tapi saya tidak sempat melihat kondisi di dalam stadion, apakah pohon-pohon yang tumbuh di sela kursi penonton masih ada. Saya tak cukup berani untuk masuk ke sana, apalagi kalau malam hari. Hiii.

Saya kira menarik juga ada pohon di sela-sela kursi penonton. Bisa jadi pelindung kalau lagi menonton pertandingan. Dan rasanya belum pernah ada pemandangan seperti itu di semua stadion yang ada di muka bumi ini. Barangkali ini yang namanya konsep “green stadium.” He, maaf, cuma bercanda.

“Sudah lama DPRD Kaltim teriak soal ini. Sayangnya kurang direspon,” kata Rusman Ya’kub saat jadi ketua Komisi IV. Rusman yang juga mantan ketua DPW PPP ini, juga aktif di olahraga. Dia didaulat menjadi ketua Persatuan Bowling (PBI) Kaltim.

Stadion Palaran dibangun dengan biaya APBD sebesar Rp800 miliar untuk PON XVII tahun 2008. Informasi lain menyebut Rp3 triliun. Arsiteknya Gusti Ngurah Antaryama bersama Tim ITS Surabaya. Kapasitasnya pun ada beberapa versi. Ada yang menyebut 35 ribu penonton, 44 ribu, bahkan 67 ribu. Kalau 67 ribu lebih besar dari Al-Bayt Stadium, tempat pembukaan Piala Dunia 2022 di Qatar dengan kapasitas 60 ribu penonton.

Kompleks Stadion Palaran yang mempunyai luas 88 hektare dengan 10 gelanggang olahraga itu, diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 18 Juni 2008. Lalu 5 Juli 2008 dijadikan arena pembukaan PON XVII, yang berlangsung meriah. Waktu itu saya hadir sebagai wakil wali kota dan ketua KONI Balikpapan.

Stadion Palaran masih sempat dipergunakan untuk babak final dan 8 Besar Divisi Utama Liga Indonesia 2008. Kemudian oleh Putra Samarinda (Pusam) dijadikan arena putaran ke-2 Indonesia Super League 2014 dan tuan rumah Piala Gubernur Kaltim 2018. Sedang Borneo FC menjadikan Stadion Segiri untuk kandangnya.

Selanjutnya di Stadion Palaran tak ada kegiatan lagi. Hampir 5 tahun hidup dalam kesepian. Akibatnya hampir semua fasilitas di kompleks itu rusak berat. Pernah dilakukan audit bangunan, dibutuhkan dana perbaikan sekitar Rp130 miliar. Dalam keterangan lain tahun 2020 lalu, Kepala Pengelola Stadion Utama Palaran Hasbar menyebutkan dari hasil audit bangunan diperlukan dana renovasi  sekitar Rp160 miliar.

Rencana perbaikan penuh terhadap stadion itu tak pernah terlaksana. Konon anggaran pemeliharaan gedung olahraga dari APBD hanya sekitar Rp1,3 miliar. Jauh dari kebutuhan.

Pekan lalu ada diskusi mengenai nasib kompleks Stadion Palaran dikaitkan dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN). Maklum jarak lokasi IKN di Sepaku dengan Stadion Palaran tidak terlalu jauh. Jadi sangat mungkin Stadion Palaran dihidupkan kembali.

Apalagi ada rencana Presiden Jokowi mengusulkan Indonesia jadi calon tuan rumah Olimpiade 2036  di lokasi IKN. Juga rencana membangun pusat pelatihan sepak bola atau training center di sana. Tentu Stadion Utama Palaran bisa menjadi salah satu pilihan fasilitas yang bisa dipergunakan dalam mendukung dan menunjang  rencana besar tersebut.

Tempo hari master psikologi Universitas Minnesota Amerika Serikat, Thomas Steward sempat melihat fasilitas olahraga di Kaltim pasca PON XVII termasuk Stadion Palaran. “Sangat bagus bisa untuk Olimpiade, sayangnya tidak terawat,” katanya, yang datang dalam rangka seminar internasional psikologi olahraga.

Penyelenggara diskusi soal Stadion Palaran adalah Koalisi Pemuda IKN, Forum Rakyat Kaltim Bersatu (FKRB) dan Perkumpulan Pengusaha Pangan dan Kuliner Nusantara (PPKN). Mereka menghadirkan mantan gubernur Kaltara Irianto Lambrie, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora)  Agus Tianur, dan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Ahmad Herwansyah.

Irianto menyarankan dibentuknya badan pengelola yang melibatkan semua pemangku kepentingan dari pemerintah dan swasta. Bersinergi dan diberikan wewenang yang luas untuk mengelola dan merencanakan. Biayanya bisa dari dana APBD, APBN, atau pihak ketiga.

Kadispora bilang kompleks Stadion Palaran masih dipergunakan. Tapi diakui sangat terbatas. “Persoalannya bukan soal perawatan saja, tapi juga minimnya peminat untuk menggunakan. Maklum masih terasa jauh, sementara di kota juga masih ada fasilitas serupa,” jelasnya.

Karena itu ada beberapa pendekatan lain dilakukan Dispora saat ini di lokasi tersebut. Penanaman 5 ribu pohon buah, pembuatan jogging track, jalur sepeda dan jalan kaki. “Biar ada yang mau datang ke sana,” kata Agus.

Pihak Dinas Pariwisata siap mendukung program yang dilakukan Dispora. Di antaranya menyiapkan konsep sport tourism untuk mendukung pengembangan ekonomi di kawasan Stadion Palaran. “Nanti disamakan  dengan trip wisata yang kami punya. Tinggal tergantung dari atraksi yang ditampilkan,” kata Herwansyah.

Chrismantiri, anak muda yang sering bersama saya punya usul. Jika memungkinkan Stadion Palaran juga dimanfaatkan untuk pagelaran seni dan konser musik berskala internasional. Zaman Bupati Kukar Rita Widyasari, dia pernah mengundang grup band legendaris dari mancanegara, di antaranya Sepultura, Hallowen, dan Testament. Bisa juga jadi pusat industri kreatif, karena lahannya yang luas dan tempat parkir yang memadai.

Tahun lalu Gubernur Isran sempat mengisyaratkan Stadion Palaran akan dikerjasamakan dengan pihak TNI. Akan dimanfaatkan untuk menjadi pusat pembinaan fisik dan olahraga di kalangan prajurit. Sayangnya rencana  ini tak terdengar lagi kabarnya.

Kita semua tentu setuju Stadion Palaran dihidupkan lagi menyambut IKN. Polanya bisa tetap dikelola Pemprov, dikerjasamakan atau dijual sama sekali. PP 28 Tahun 2020 memungkinkan pihak swasta mengelola barang atau aset milik negara dan daerah.

Kalau mau direnovasi dengan APBD, ada kesempatan pada tahun 2023 ini. Mumpung APBD Kaltim lagi melonjak tinggi. Gubernur Isran memperkirakan bisa mencapai Rp20 triliun. Sementara yang sudah disahkan sekitar Rp17 triliun. Jadi, masih ada Rp3 triliun yang belum diputuskan peruntukannya. Tinggal dibahas mekanisme regulasinya. Termasuk persetujuan DPRD. Kalau tidak usul ke APBN atau menggalang dana swasta.

Sebelum Stadion Palaran direnovasi harus jelas dulu konsep pemanfaatannya. Supaya perbaikannya tidak sia-sia. Saya menyarankan dijual, disewakan, atau dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Pilihan saya ke Erick Thohir  dengan tim pemenangannya. Di situ ada Raffi Ahmad (pemilik RANS Nusantara FC), Atta Halilintar (Bekasi City FC), atau Kaesang Pangerap (Persis Solo). Mereka semua bos besar.

Kalau rencana ini terwujud, pasti heboh luar biasa. Begitu Erick bulan depan terpilih jadi ketua umum PSSI, dia bersama timnya langsung menandatangani pembelian atau kerjasama pengelolaan Stadion Palaran. Wah, cantik sekali. Semoga jadi dan ditindaklanjuti. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status