OPINI: Lipur
Oleh:
Faisal Rahman
“Saya menjual karya-karya saya, demi menyambung hidup. Itu saja. Dan demi menyambung hidup, saya rela mengakui bahwa hitam adalah putih, atau sebaliknya. Saat orang-orang sibuk mencari kebenaran, saya sibuk menyempurnakan kebohongan.” Bonang P. Sirait, wawancara dengan majalah “People’s Literature“, Guangzhou, Tiongkok (2006)
NAMA ini saya kenal 2008 –18 tahun lalu. Di sebuah zine fotokopi hardcore/punk yang beredar di Samarinda. Warta tentangnya lugas; kontroversial. Sepotong karyanya juga ditampilkan dalam lembar halaman lain. Tidak banyak. Namun untuk remaja berusia 22 tahun seperti saya –saat itu– ini tentu bacaan istimewa.
Ia memang tak sekadar seniman dan penulis esai. Bonang adalah seorang oportunis sejati. Bagian paling menarik, dia adalah pemalsu karya seni. Kasus tentang lukisan tiruan “Don Quixote” karya Pablo Picasso yang dibuatnya 25 tahun lalu, kini masih menjadi legenda –sekaligus perdebatan di dunia seni.
Dalam buku hariannya “Satu Gelas Lagi/Sada Galas Muse” (2013), Bonang menceritakan bagaimana ia menjual sebuah karya tiruan itu kepada seorang kolektor asal Georgia. Ia tidak hanya meniru gaya. Tapi juga mengimitasi waktu –kondisi fisik karya yang pudar, kertas kuning, dan permukaan cat yang retak– untuk menciptakan karya tiruan yang nyaris tidak bisa dibedakan dari yang asli.
Bertahun-tahun kemudian, sketsa yang sama ditemukan di Tbilisi –Georgia– dan diklaim sebagai karya otentik Picasso oleh para ahli. Pendapat ini justru memicu polemik. Penerbitan buku harian Bonang secara anumerta pada 2013 itu –berisi pengakuan tidak langsung– membelah opini publik dan mengukuhkan reputasinya sebagai seorang pemalsu jenius sekaligus pemikir radikal.
Tentu ada cerita di balik itu. Bonang menganggap, perbedaan antara karya asli dan palsu hanyalah soal harga. Tidak masuk akal. Ia memandang plagiarisme dan imitasi bukan sebagai pencurian. Tetapi proses evolusi budaya.
Inilah strategi di mana meminjam ide orang lain, dan menggabungkannya dengan unsur-unsur karya orang lain ke dalam karya sendiri, adalah sebuah keharusan untuk kemajuan. Bonang menolak hierarki dalam estetika. Dan meludahi mentah-mentah romantisisasi terhadap otoritas kepengarangan.
Saya cukup susah payah menelusuri karya-karyanya –mungkin pula sampai saat ini. Untuk mencari jawaban itu, dulu saya harus berkorespondensi dengan banyak user anonim di internet. Yahoo Messenger. MiRC. Dan masuk ke pelbagai forum “ajaib”.
Beberapa di antara mereka sempat bertanya alasan mengapa saya mencari nama itu. Pertanyaan itu tentu pula menyiratkan satu hal; mereka tahu. Saya menjawabnya dengan singkat. “Kebijaksanaan”.
Kata itu tentu bukan bentuk kesompralan. Ia adalah tanda bahwa saya mencari sesuatu yang lain dari bedebah ini. Pesan tersirat itu mereka pahami. Tapi hanya segelintir yang merespon. Dan hasilnya tetap saja nihil.
Pencarian tentang sepak terjang Bonang itu bermula dari rasa kekesalan. Saya tidak menemukan apa-apa tentangnya di search engine Internet Explorer dan Mozilla Firefox ketika itu di Warnet Sumangat, Jl. Imam Bonjol, Samarinda. Informasi dari Yahoo Messenger dan MiRC yang saya temukan di masa-masa itu, cenderung hanya desas-desus.
Kini, setelah semua berlalu, nama itu kembali menghardik ingatan saya pada sebuah penggalan memori. Saat mendiang seorang pengusaha asal Samarinda pernah berniat membeli sebuah lukisan senilai Rp500 juta pada 2010 lalu. Seorang kurator dari Surabaya yang mendampinginya mengatakan, lukisan itu kemungkinan besar palsu. Dan nama Bonang disebut. Cerita ini disampaikan sang istri yang juga telah wafat kepada saya saat itu. Namun beliau tak mengetahui lukisan apa yang ingin dibeli itu.
Cerita tentang nama Bonang di zine fotokopi hardcore/punk, koneksi saya saat itu dengan seorang pengusaha lokal yang berniat membeli sebuah lukisan, seolah berkelindan. Perasaan ini yang kadang membuat kekesalan saya semakin membuncah.
Di zaman kini, cerita tentang Bonang nyaris serupa mitos. Tidak banyak informasi tentangnya di internet –meski dengan keyword khusus. Terlebih di Chat GPT. Keingintahuan saya terhadap sosok ini mungkin telah tandas sejak kali pertama kali menelusurinya. Hanya sedikit informasi yang bisa saya baca tentang petualangan Bontang sebelum abad milenium dan dalam 25 tahun terakhir.
Bonang dikabarkan telah lama menghilang. Konon tinggal di Tiongkok. Terakhir ia terlihat di Chongqing tahun lalu. Informasi yang beredar, Bonang memilih hiatus menulis. Desas-desus lain menyebut, keputusan itu dilakukan setelah Cumbu Sigil wafat –nama pena seorang penulis fiktif dan anonim yang diciptakan sastrawan Indonesia, Martin Suryajaya.
Kabar burung lain menyebut, Bonang –kemungkinan– melanjutkan hobi menekuni keterampilan dan perdagangan karya seni palsu di Guangzhou. Bersama seorang kurator bernama Xiao Yuan –dikabarkan tertangkap basah menjual tiruan karya seni palsu dan diadili beberapa tahun lalu.
Konon pula, Bonang menemukan dunianya di Dafen, sebuah kota kecil dekat Shenzhen –dikenal sebagai pusat produksi lukisan imitasi terbesar di dunia. Di sanalah ia menyempurnakan keahlian sebagai peniru mahakarya Eropa dan merumuskan filosofi radikal.
“Kelak kebohongan juga akan dianggap benar, sebab kebohongan yang adiluhung sebenarnya hanyalah kebenaran yang inkompeten. Setiap gambar, contohnya, dimulai sebagai keinginan (hasrat) atas gambar lainnya. Selalu ada dorongan untuk menyalin, menggantikan, atau mengkontradiksi kenyataan,” kata Bonang, dalam salah satu kutipannya yang terkenal.
Selain Bonang, sebenarnya ada dua nama lain yang ditulis dalam zine fotokopi hardcore/punk itu. Raung Ditira dan Terang Maharani. Sialnya, hingga saat ini saya tak menemukan informasi apapun juga tentang profil keduanya di ruang digital.
Kabar yang beredar tentang Raung hanya tentang janjinya yang tidak akan menulis dan menerbitkan buku. Sebelum Goenawan Mohamad tersungkur di liang lahat. Sementara Terang Maharani, dikabarkan berkelana ke Thailand, mengerjakan riset mendalam soal Anuman Rajadhon. (*)
Penulis adalah Pemimpin Redaksi KLIKSAMARINDA.co. Penikmat seni serta musik punk dan black metal.



