Pisang Juara

Opini: Rizal Effendi

SAYA termasuk orang yang sangat gemar makan pisang (Musa paradisiaca). Hampir setiap hari saya mengonsumsi pisang. Bahkan malam hari atau subuh saya makan pisang.

Selain rasanya enak, manfaatnya juga luar biasa karena banyak mengandung kalium, antioksidan dan unsur vitamin. Jadi baik untuk pencernaan, menurunkan tekanan darah, menurunkan risiko stroke, meningkatkan stamina olahraga, kaya akan magnesium yang membantu sistem tubuh agar dapat berfungsi normal, ada unsur mangan yang berperan penting dalam pertumbuhan tulang dan penyembuhan luka, mengandung serat tinggi dan meredakan nyeri ulu hati.

Terus terang saya sering membeli sendiri pisang di pasar atau di warung-warung pinggir jalan. Maklum saya tahu betul mana pisang yang berkualitas, masak atau matang alami dan mana pisang yang “dipaksa” masak melalui karbitan.

Pisang yang masak alami biasanya warnanya cerah dan dalam satu sisir masih ada yang mentah atau setengah matang. Seminggu sekali saya juga membelikan sesisir pisang kepok untuk ibu saya yang sudah lanjut. Pisangnya direbus dan dimakan tiap pagi.

Hampir semua pisang yang dijual di pasar umumnya melalui proses karbitan supaya cepat matang. Karbitan itu artinya menggunakan bahan zat kimia yang bernama kalsium karbida agar pisang yang mentah bisa cepat matang di luar proses normalnya. Mulai dulu dilakukan pedagang pisang begitu.

Kenapa harus dikarbit? Karena pedagang pengumpul atau petani sendiri ketika menjual pisangnya kepada warung atau pedagang di pasar dengan sistem borongan atau karena ingin cepat mendapatkan uang. Jadi pisang dipanen ada yang benar-benar sudah tua, ada juga yang masih setengah tua dan bahkan masih ada yang terbilang muda. Pisang setengah tua dan masih muda hanya bisa matang lebih cepat kalau dikarbit.

Saya sering ke Pasar Klandasan di Balikpapan, Pasar Baru, Pasar Buton dan Pasar Pandan Sari, jarang sekali saya bisa mendapatkan pisang yang bagus. Kalaupun ada hanya sekali-kali saja. Harga pisang bervariasi mulai Rp 5 ribu sampai Rp 20 ribu per sisir tergantung besar kecilnya pisang dan jenis pisangnya. Tapi di pasar modern bisa sampai Rp 25 ribu per sisir.

Di Pasar Pagi Samarinda, pedagang pisang banyak jualan di sisi kiri kanan Jalan Jenderal Soedirman. Saya lihat banyak pisang yang kualitasnya cukup bagus. Warnanya cerah-cerah dan gemuk-gemuk. Walaupun jalan di situ macet dan semrawut, tapi saya suka lewat di sana karena bisa melihat pisang yang segar dan sangat menarik.

Umumnya masyarakat termasuk saya mengonsumsi pisang kepok atau manurun (g), pisang mahuli, pisang raja, pisang susu dan pisang ambon. Kalau di pasar modern seperti di supermarket sepertinya banyak didominasi pisang cavendish, mirip pisang ambon tapi beda warna.

Mereka yang membuat paket buah untuk handai tolan yang lagi sakit atau acara tertentu biasanya menggunakan pisang cavendish, karena warnanya yang kuning cerah dan tahan lama. Tapi kalau orang Jawa atau Madura kawinan, sering dipajang di pintu gerbang acara adalah pisang raja satu tandan penuh yang sudah masak.

Pisang mahuli kelemahannya kalau terlalu masak kulitnya jadi lengket. Kalau pisang ambon kelewat matang jadi lembek dan berair. Kalau pisang raja jika terlalu masak cenderung menciut. Sedang pisang susu justru harus matang betul, kalau tidak masih terasa kelat atau sepat.

Di pasar ada satu jenis pisang yang dikonsumsi mentah dan spesialis untuk membuat bumbu rujak buah dan rujak cingur. Namanya pisang batu atau pisang klutuk.

Kemarin, saya beli Rp15 ribu sesisir isi 10 di Pasar Klandasan. Terkadang dijual per biji antara Rp1.500-Rp2.500 per biji. Pisang ini tidak banyak ditanam petani.

Fungsi pisang batu selain menambah rasa, juga punya khasiat agar mereka yang mengonsumsi rujak tidak sampai sakit perut.

Ada lagi pisang yang sangat istimewa. Pisang ini jarang dijual dan tidak banyak diketahui masyarakat.

Dua cucu saya Kylo dan Jena sangat suka karena size-nya yang mungil dan enak dimakan. Pisang ini lebih panjang dari pisang mahuli tapi lebih kecil diameternya.

Pedagang sering menamakan pisang Palembang. Padahal pisang Palembang banyak jenisnya. Ada juga yang bilang pisang Pontianak. Tapi dalam literatur saya tidak menemukan riwayatnya.

Pisang mungil ini dulu sering saya beli di supermarket Suzana milik teman saya Pak Yulius. Malah Pak Yulius memberi saya sebatang bibitnya untuk ditanam. Terkadang ada juga di petak pasar ikan Klandasan.

Belakangan saya sering beli di warung kecil di Km 6 Jalan Soekarno-Hatta. Minggu kemarin sepulang saya menghadiri undangan resepsi pernikahan anaknya Pak Kumis di Jalan Dahor, saya lihat ada mobil warung menjual pisang mungil itu.

Ibu Sunarmi, sang penjual malah menyebutnya pisang Pontianak.

“Ini dari kebun saya sendiri, cuma ada sebatang saja di kebun,” katanya. Dia kaget saya turun dari mobil masih mengenakan jas. “Eh Pak Rizal ya,” katanya terkesima.

Pisang mungil ini tidak terlalu banyak dijual. Kalaupun ada hanya setandan atau beberapa tandan saja. Maklum yang tanam juga tidak banyak. Jarang dijual sisiran karena kecil jadi tidak menarik dan dianggap pisang gagal tumbuh. Mereka menjual antara Rp 20 sampai Rp40 ribu per tandan.

Sudah Diekspor
Asal tahu saja, pisang yang paling hebat dan sempurna itu adalah pisang kepok. Pisang kepok ini nama latinnya Musa acuminata balbisiana Colla.

Di Jakarta, pisang jenis ini disebut pisang Kalimantan, khususnya dari Kaltim. Kebun terbesarnya ada di Kabupaten Kutai Timur seluas 1.700 hektare dan masih ada 500 hektare lagi untuk pengembangan. Karena itu Kutim ditetapkan sebagai kawasan food estate pisang kepok.

Saya sering lihat beberapa truk setiap hari membawa pisang kepok dari Kutim ke pulau Jawa. Ada yang dipasarkan menjadi pisang goreng dan keripik pisang dari Kalimantan. Ada juga yang dibuat menjadi makanan bayi.

Belakangan ini saya dengar pisang kepok Kutim sudah mulai diekspor baik ke Malaysia maupun ke Amerika, Kanada, Pakistan, Yunani dan Taiwan.

”Target kita kirim pisang kepok kelima negara tujuan di seluruh dunia,” kata Ketua Koperasi Taruna Bina Mandiri Kutim, Priyanto.

Menurut Priyanto, ekspor perdana pisang kepok Kutim tujuannya ke Malaysia pada Oktober 2019. Gubernur Kaltim, Dr Isran Noor, yang langsung melepas.

“Hebat Kutim ini. Setelah batubara dan sawit, pisangnya pun memberi kontribusi besar kepada Kaltim,” kata Isran yang pernah menjadi Bupati Kutim.

Hampir seribu ton pisang keluar dari kebun Kutim terutama Desa Kaliorang, juga Krubun, Sangkulirang dan Karangan dengan nilai transaksi mencapai Rp35 miliar.

Ketika berkunjung ke Kaltim November tahun lalu, Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin tertarik dengan pisang kepok Kutim.

“Wapres langsung memesan 10 bibit pisang kepok untuk ditanam. Kalau cocok akan dikembangan di lahan perkebunannya di Banten dan Lampung,” kata Priyanto.

Kenapa pisang kepok saya sebut pisang yang paling hebat dan sempurna? Selain pisangnya bisa dibuat makanan apa saja termasuk lempeng Kong Djie yang baru saya promosikan. Jantungnya sangat lezat sebagai lalapan makanan atau dibuat menjadi tumis jantung pisang. Di dalam jantungnya ada bunga pisang, yang ternyata bisa dibuat kripik.

Kemudian daun pisang kepok adalah daun pisang yang kualitasnya sangat bagus untuk kemasan nasi kuning, pundut nasi, atau barongko serta pepes ikan karena tidak mudah sobek dan bocor.

Sedang batang atau gedebognya sering dipakai untuk janur, properti wayangan dan bahkan untuk alas memandikan jenazah. Gedebog pisang ternyata juga laris di Amerika.

Satu potong kecil dijual $5,95 atau sekitar Rp85 ribu. Sama orang Paman Sam, batang pisang dibuat macam-macam di antaranya untuk ramuan obat, makanan lezat dan jus batang pisang, karena kaya nutrisi yang bermanfaat untuk kesehatan.

Waktu kecil saya juga sering menggunakan pelepah pisang untuk main tembak-tembakan atau bunyi-bunyian. Jadi hampir tidak ada yang terbuang dari pisang kepok mulai batang, buah, jantung, bunga, daun dan pelepahnya.

Pisang kepok Kutim dikembangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim dengan nama Pisang Kepok Grecek (PKG). Kalau tidak salah grecek itu bahasa Kutai yang artinya bagus dan menarik. PKG merupakan tanaman khas atau plasma nutfah dari Kaltim (sesuai SK Menteri Pertanian), karena itu harus dijaga dan ditingkatkan produksinya.

Bibit unggul PKG menghasilkan buah pisang kepok berwarna kuning cerah dengan dagingnya yang padat dan terasa lebih manis. Beda dengan pisang kepok putih dan krempeng yang banyak dijual di pasar. Pedagang gorengan sering menggunakan pisang kepok putih karena harganya lebih murah meski rasanya tidak terlalu manis.

DPTPH Kaltim berharap PKG dikembangan di seluruh Kaltim. Mereka menyiapkan kebun induk dan bibit melalui kultur jaringan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (DP3) Balikpapan, Ir Heria Prisni mengatakan potensi pisang kepok cukup tinggi di wilayahnya. Hanya beberapa waktu lalu tanahnya harus dipulihkan karena terserang bakteri pusar riung.

Untuk memenuhi kebutuhan, pisang dari Balikpapan sementara ini ada yang datang dari wilayah sendiri, ada dari PPU, Samboja dan Kutim, tapi ada juga yang datang dari Mamuju, Sulbar.

Waktu putri bungsu saya, Febi masih kuliah di UGM Yogyakarta, dia sempat jualan pisang gapit Beruang Madu seperti pisang epe’ di Makassar. Pisang kepoknya saya kirim dari Balikpapan. Terkadang saya titip dengan pejabat yang berkunjung ke sana, biar biaya kirimnya gratis.

Di depan rumah saya, ada kebun mini yang saya tanami pisang kepok dan pisang mahuli. Sudah beberapa kali panen.

Pisang mahulinya sangat istimewa karena berwarna kuning cerah dan gemuk. Kalau masak sering pecah karena kegemukan.

Sering saya kirimi beberapa pejabat Pemkot Balikpapan, termasuk Kepala DKK dr. Dio dan Direktur RSU Beriman dr. Ratih Kusuma serta dr. Elies dari RS Pertamina. Biar kalau saya berobat atau vaksin bisa mendapat pelayanan seperti yang lain.

Saya lupa apa pernah saya kirim ke Bu dr. Retno Sitoresmi, Direktur RS Sayang Ibu. Soalnya dokter yang satu ini suka membuat kue.

Kali-kali nanti bisa diproduksi jadi roti pisang Bu dr Retno. Lalu dijual di Pasar Ramadhan, yang sebentar lagi dibuka. Pasti keren. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status