Membaca Kadrie Oening

Gelora Kadrie Oening Samarinda

Opini: Rizal Effendi

 

GENERASI milenial Samarinda mungkin tidak terlalu tahu dengan tokoh bernama Haji Muhammad Kadrie Oening. Walaupun nama Jl HM Kadrie Oening di kawasan Air Hitam, Samarinda Ulu, masih sering dilewati.

Beliau sebenarnya Wali Kota ke-3 Samarinda setelah Kapten Soedjono AJ dan Letkol Ngoedio BcHk. Pak Kadrie Oening wali kota pertama dari sipil. Dia  memangku jabatan selama 13 tahun antara 1967 sampai 1980. Pernah tiga tahun sebagai penjabat. Selain jabatan resminya dua periode. Sebelumnya Pak Kadrie Oening pernah diperbantukan menjadi wedana di Balikpapan dan camat di Sangkulirang.

Orang-orang seangkatan Beliau sebagian besar sudah meninggal dunia termasuk Pak Kadrie Oening sendiri. Pak Kadrie Oening yang dilahirkan di Samarinda 15 Februari 1923, meninggal dunia pada 8 Juni 1989 dalam usia 66 tahun.

Hari ini, Rabu, 8 Juni  2022, tepat 33 tahun  saat beliau berpulang ke haribaan Allah subhaanahu wata’ala. Kita berdoa semoga almarhum tenang di alam barzah dan tersenyum menyaksikan hasil perjuangannya membangun Samarinda, yang juga Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur.

Pada masa Kadrie Oening menjadi wali kota, saya masih sekolah dari SMEA ke Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman. Jadi sebagian saya masih ingat sepak terjang sang wali kota yang berani dan tegas membangun Samarinda dengan berbagai gagasan, yang luar biasa. Salah satunya ketika Beliau menghapuskan tidak kurang 2.000 angkutan becak dan menggantikannya dengan taksi Colt.

Itu dilakukan Beliau tepat pada 1 Januari 1975. Pengusaha dan pengemudi becak demo. Karena kehilangan usaha dan pekerjaan. Tapi berhasil diredam Pak Kadrie Oening. Alasan beliau becak selain tidak cocok sebagai sarana angkutan umum, juga tidak manusiawi.

Nama Kadrie Oening kembali diangkat menyusul peresmian nama Gelanggang Olahraga (Gelora) Stadion Sempaja menjadi Gelora Kadrie Oening, Senin, 30 Mei lalu. “Semuanya, semua fasilitas di sini masuk Gelora Kadrie Oening,” kata Gubernur Isran Noor.

Kompleks Stadion Sempaja terdiri dari stadion sepak bola berkapasitas 15 ribu penonton, hotel dan asrama atlet, GOR Serbaguna, GOR Bulutangkis, GOR Beladiri, lapangan futsal, masjid, serta kantor  Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim.

Fasilitas olahraga ini mulai dibangun pada masa Gubernur Suwarna AF dalam rangka pelaksanaan PON XVII tahun 2008 di Kaltim. Kemudian sarananya dilengkapi lagi oleh Gubernur Awang Faroek Ishak dengan membangun Sempaja Convention Center yang mampu menampung 3.000 orang dengan biaya Rp414 miliar.

Ketika menyampaikan sambutan, Gubernur Isran Noor sempat menirukan vokal Pak Kadrie Oening yang agak cadel dalam melafalkan kata yang ada huruf “r”. Itu menjadi ciri khas tokoh yang satu ini. “Beliau masih ada kaitan keluarga dengan ibu saya,” kata Gubernur.

Isran mengaku pernah mengenyam pendidikan di sekolah perawat (SPR) di RSUD Samarinda. Tapi karena merasa tidak cocok, dia memutuskan berhenti dan melapor kepada Wali Kota Kadrie Oening. Meski dimarahi sang wali kota, dia tetap direstui pindah ke sekolah lain sampai akhirnya kuliah di Fakultas Pertanian Unmul.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Drs. Agus Tianur mengaku bahagia usulan pengubahan nama yang digagas sejak beberapa tahun lalu, akhirnya disetujui Gubernur Isran. Awalnya diskusi dari berbagai tokoh dan keluarga. Salah satu hal yang menginspirasi penamaan sejumlah gelanggang olahraga di Tanah Air seperti Gelora Bung Karno dan lainnya. Apalagi wilayah Sempaja, salah satu wilayah yang dibuka Pak Kadrie Oening.

“Atas nama keluarga, kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Gubernur atas penamaan ini. Kami yakin Pak Gubernur tidak lupa kalau rumah almarhum HM Kadrie Oening pernah ada di depan stadion ini,” kata Sam’ani mewakili keluarga.

Tokoh seangkatan almarhum, H Syarifuddin Gairach, begitu bersemangat membangun kenangan bersama Kadrie Oening. Syarifuddin tokoh senior Golkar yang waktu itu duduk sebagai wakil rakyat.

“Ilmu beliau itu sangat tangguh (taguh). Apa yang dilaksanakan beliau, kombinasi pengabdian hanya untuk Allah SWT dan menjadi pemimpin itu tidak saja hanya bisa memerintah tapi juga turun dan berjuang untuk rakyatnya,” jelasnya.

TANDA TANGAN “ALLAH”

Yang paling menghebohkan dari Pak Kadrie Oening karena tanda tangannya bertuliskan “Allah.” Soal ini sempat disinggung Syarifuddin Gairach dan Gubernur Isran Noor. Tapi Pak Kadrie Oening sepertinya ingin menegaskan kepada warganya bahwa apa yang dilakukan dia dalam membangun dan menata Kota Samarinda semata-mata karena Allah SWT. Jadi niatnya lurus. Siap mempertanggungjawabkan kepada Allah.

Beliau memang sangat religius. Masjid Raya Darussalam di Kawasan Pasar Pagi pembangunannya dipimpin Pak Kadrie Oening. Mulanya masjid itu di tepi Sungai Mahakam sederet dengan Kampung HBS, yang juga berhasil dipindahkannya. Padahal waktu itu Kampung HBS dikawal seorang pejabat Pemprov Kaltim.

Urusan pindah memindah dan menata kota, memang Pak Kadrie Oening tidak pernah ragu. Sebelum Karang Mumus, Pak Kadrie Oening sudah pernah memindahkan warga bantaran sungai di daerah Selili ke Sungai Pinang Dalam (Supida) I, II, dan III.

Kantor Pemkot Samarinda yang waktu itu di samping rumah dinas wakil gubernur berhasil dipindahkan ke bangunan megah di atas bukit Jalan Kesuma Bangsa, seperti terlihat sekarang. Taman Makam Pahlawan yang tadinya di belakang Hotel Pirus juga dipindahkan ke Jalan Kesuma Bangsa, sehingga lebih layak dan rapi. Di situ juga jenazah Kadrie Oening dimakamkan.

Kawasan perniagaan Citra Niaga dulunya lokasi kumuh eks kebakaran tahun 1958. Ada pasar sementara yang berdampingan dengan lokalisasi liar WTS “Gulinggang.” Lalu ditata Pak Kadrie Oening menjadi  Taman Hiburan Gelora atau yang dikenal dengan sebutan THG.

Pak Kadrie Oening sangat berperan besar dalam bertambahnya luas wilayah Samarinda dari 169 km persegi menjadi 2.727 km persegi atau sekitar 15 kali lipat wilayah sebelumnya. Dengan pertambahan itu, Samarinda mendapat tambahan kecamatan yaitu Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa, dan Samboja.

Banyak wilayah dan jalan baru yang dibuka Pak Kadrie Oening. Beliau berani berjalan kaki masuk ke wilayah yang masih hutan di Segiri, Sempaja, dan Lempake. Pokoknya tak pernah lelah. Semua dia terobos tanpa bisa dihalangi.

Kalaulah nama Kadrie Oening dipaterikan pada kompleks olahraga, tidak salah juga. Setelah purnatugas sebagai wali kota, dia terpilih sebagai ketua KONI Kaltim. Pak Kadrie Oening juga salah satu penggagas pembangunan Stadion Segiri, markasnya Persisam. Selain sebagai lapangan sepakbola, Stadion Segiri sempat dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan MTQ Nasional ke-9 tahun 1976 di mana tampil sebagai juara qari dan qariah Kaltim, M Ali Yusni dan Kustaniah. Bahkan Ali Yusni menjadi qari pertama Indonesia meraih gelar qari internasional di Malaysia pada waktu itu.

Uniknya, Pak Kadrie Oening juga berdarah seniman. Pernah terlibat pementasan drama di masa perjuangan melawan Belanda. Suka menulis puisi. Yang saya ingat, ada buku antologi puisinya berjudul Seorang Lelaki di Terminal Hidup  dan Tiga yang Tidak Masuk Hitungan.

Saya kutipkan salah satu puisi Pak Kadrie Oening berjudul Aku Kekasihmu. Menunjukkan tekad beliau selalu ingin dekat dengan Al Khaliq.

 

Aku Kekasihmu

Jikalau aku kuasa,

kuingin kembali ke awal dunia,

sampai mengenal yang mulia,

agar lepas dari siksa neraka.

 

Kuhadap wajahku,

kupandang wajahmu,

kulepas pendengaranku,

kudengar suara kalammu

 

Betapa semula daku,

meninggalkanmu,

tapi demi kasihmu,

kurasa selalu pandanganmu

 

Kurasakan dikau,

menjelajah tubuhku,

tiada jarak aku,

patutkah aku khianat,

aku kekasihmu 

Samarinda, April 1974.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status