Rizal Effendi di depan Jalan Hendriawan Sie, Balikpapan

Opini Rizal Effendi

 

AKSI unjuk rasa atau demonstrasi mahasiswa terjadi di seluruh Indonesia termasuk di Samarinda dan Balikpapan, Senin 11 April. Pelaksananya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia. Ada beberapa tuntutan disampaikan. Di antaranya soal penolakan amandemen UUD 1945, penundaan Pemilu 2024 dan penolakan masa jabatan presiden tiga periode. Selain itu juga soal kenaikan dan kelangkaan barang pokok masyarakat termasuk BBM.  Alhamdulillah semua berjalan lancar meski ada beberapa insiden. Aparat keamanan terutama polisi dan TNI berusaha keras menjaga demo berjalan tertib. Apakah demo berlanjut, kita lihat saja perkembangannya ke depan.

Melihat aksi demo, saya jadi teringat aksi demo mahasiswa tahun 1978. Kebetulan saya masih mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Sebagai pengurus Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa, saya ikut memimpin demo mahasiswa Unmul di kampus Unmul Jalan Flores. Di antara tuntutannya adalah menolak Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) masuk dalam Garis-Garis Besah Haluan Negara (GBHN) dan rencana pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang digagas Ibu Tien Soeharto, Ibu Negara, yang berbuntut juga aksi penurunan  Presiden Soeharto.

Ketika demo berlangsung dengan aksi pembacaan puisi, aksi teatrikal dan orasi, di luar pagar kampus ratusan keamanan berjaga-jaga. Yang menarik, pasukan keamanan waktu itu dipimpin Dandim 0901 Samarinda Letkol Syarifuddin Yoes, yang belakangan menjadi Walikota Balikpapan (1981-1989).

Gara-gara aksi demo yang disiarkan langsung oleh Radio Mahasiswa Unmul, ada 4 orang penanggungjawab demo dijemput  Kodam VI/Mw, yang waktu itu bertindak  sebagai Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) dari Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Komkaptib). Keempat orang itu itu adalah Syaiful Teteng (belakangan jadi Sekda Kaltim), Arifin Tawan, Kusmayadi dan satunya lagi adalah saya. Sementara radio mahasiswanya dibredel oleh Rektor Unmul saat itu Prof. Sambas Wirahadikusumah. Beberapa waktu kemudian ada beberapa mahasiswa lagi yang  dipanggil Laksusda.

“Setidaknya kita sudah pernah berbuat untuk Bangsa ini seperti mahasiswa lainnya,” kata Syaiful M mengenang. Syaiful salah seorang seniman kampus terlibat dalam pembacaan puisi satire dan siaran Radio Mahasiswa Unmu bersama tokoh mahasiswa lainnya waktu itu. Ada Anjar Rahman, Maruji Hamid, Heri Bahrul dan tokoh kampus lainnya dari Untag dan IKIP di antaranya Ence Ridwan, Djailani Hanafi dan Mugeni Badaruddin.

Perlu diketahui, Kopkamtib adalah lembaga super yang dibentuk Presiden Soeharto yang memiliki wewenang untuk melarang aksi unjuk rasa, melakukan penangkapan terhadap figur politik yang kontra pemerintah, melarang diskusi publik dan penyensoran media massa. Bertindak sebagai Panglima Kopkamtib pernah Jenderal Soeharto sendiri, juga Laksamana Sudomo dan terakhir sampai dibubarkan 5 September 1988  adalah Jenderal TNI Benny Moerdani.

Ketika saya dibawa ke Balikpapan, yang ditugaskan menjemput dan mendampingi saya adalah Kasie Intel Kodim 0901 Kapten Wuisang, yang belakangan masih sempat ketemu saya di Pemkot Balikpapan, ketika saya menjadi wakil walikota pada tahun 2006. Kapten Wuisang saat itu menjadi Kepala Hansip dengan pangkat terakhir letnan kolonel.

Syukur waktu ditahan kami berempat tidak dimasukkan dalam kerangkeng sel, tetapi dititipkan di bangsal prajurit persis di depan RS Tentara  dr R Hardjanto, di Jalan Tanjung Pura 1, Klandasan Ulu, Balikpapan Kota. Sekitar 12 hari kami menjalani pemeriksaan dan akhirnya dibebaskan tanpa proses lebih lanjut. Saya masih ingat dibebaskan persis pada hari Jumat. Lalu sempat diundang makan di rumahnya Pak H Syahruni, Kepala Dinas PU Balikpapan saat itu.

Gara-gara demo serentak seluruh Indonesia itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Daoed Joesoef mengeluarkan surat keputusan tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), yang menyebabkan institusi mahasiswa terutama Dewan Mahasiswa tidak boleh lagi ada. Organisasi itu diganti Badan Koordinasi Mahasiswa, yang sama sekali tidak boleh mengadakan kegiatan bernuansa politik. Jika melanggar langsung diberi sanksi keras, yaitu pemecatan.

JALAN HENDRIAWAN SIE

Salah satu aksi demo mahasiswa di Indonesia yang terkenal dan bersejarah adalah Tragedi Trisakti. Itu terjadi 12 Mei 1998. Tragedi Trisakti adalah peristiwa gugurnya 4 mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta ketika menuntut turunnya Presiden Soeharto.

Keempat mahasiswa yang tewas akibat terkena tembakan peluru petugas itu adalah Elang Mulia Lesmana (20), Heri Hertanto (21), Hafidin Royan (22) dan Hendriawan Sie (20), yang asli putera kelahiran Balikpapan  3 Maret 1978.

Menurut catatan Kontras, aksi unjuk rasa yang terjadi di berbagai tempat dan kampus saat itu menyebabkan 681 orang terluka. Sebelumnya juga Tragedi Semanggi I dan II, yang juga menimbulkan korban jiwa.

Dari cerita saksi mata, Hendriawan masih sadarkan diri ketika dua peluru menembus tubuhnya. Kepala UPT Otorita Universitas Trisakti Arri Gunarsa segera membopong tubuhnya yang berlumur darah. “Aduh panas, Mak. Panas Pak,” katanya merintih ketika dilarikan ke RS Sumber Waras. Setiba di rumah sakit, Hendriawan meninggal dunia karena kehabisan banyak darah.

Tragedi Trisakti menjadi simbol dan penanda perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru. Setelah tragedi itu, perlawanan mahasiswa  dalam menuntut reformasi semakin besar dan masif, hingga akhirnya memaksa Presiden Soeharto untuk mundur pada 21 Mei 1998 digantikan Prof BJ Habibie, yang sebelumnya adalah wakil presiden.

Demonstrasi mahasiswa di Universitas Trisaki itu merupakan rangkaian dari aksi mahasiswa yang menuntut reformasi sejak awal 1998. Aksi mahasiswa semakin terbuka dan berani sejak Soeharto diangkat menjadi presiden untuk ketujuh kalinya dalam Sidang Umum MPR pada 10 Maret 1998.

Hingga kemudian pada 18 Mei 1998 mahasiswa berhasil menguasai kompleks Gedung DPR/MPR sampai mereka naik ke atap gedung. Beberapa hari kemudian tepatnya 21 Mei 1998, mahasiswa berhasil menjatuhkan kekuasan Presiden Soeharto yang sudah berlangsung 32 tahun.

Atas pengorbanan yang luar biasa itu, Hendriawan Sie dan ketiga temannya dianugerahi gelar Pahlawan Reformasi dan Bintang Jasa Pratama oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Mereka menjadi teladan yang luar biasa bagi Bangsa ini dalam memperjuangkan demokrasi dan keadilan,” kata SBY.

Sementara di Balikpapan, nama Hendriawan Sie diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Gunung Sari ke arah Jalan Martadinata sebagai Jalan Hendriawan Sie. Itu adalah tempat tinggal orang tua Hendriawan Sie, Hendrik Sie, dan Karsiah di mana Hendriawan dilahirkan dan dibesarkan sampai dia tamat SMA 5. Kedua orang tuanya ini sekarang tinggal di Jakarta karena Hendriawan sebagai putra semata wayang mereka dimakamkan di Pemakaman Al Kamal, Kebon Jeruk Jakarta sehari setelah peristiwa penembakan itu.

“Kami benar-benar terpukul dan tidak bisa melupakan kesedihan itu. Bayangkan kami hanya punya putra tunggal, harapan kami yang akhirnya pupus. Tapi kami juga bangga karena dia berbuat untuk Bangsanya,” kata Ny. Karsiah, yang sering ikut aksi demo menuntut keadilan. Ny. Karsiah semakin terpukul karena belakangan dia berpisah dengan Hendrik Sie.

Saya kemarin, sempat menyusuri Jalan Hendriawan Sie. Suasananya lengang. Tapi saya masih merasakan seakan Hendriawan Sie, masih hidup di sana. “Kami bangga dan mendoakan Hendriawan mendapat tempat selayaknya di sisi Tuhan dan menjadi contoh dan teladan buat anak-anak kami,” kata Agus, warga di situ. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status
error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda.@gmail.com