Karena Banjir Bukan Takdir Samarinda (Bagian III) – KLIK SAMARINDA
Fokus

Karena Banjir Bukan Takdir Samarinda (Bagian III)

(Last Updated On: August 15, 2019)

Senin sore 10 April 2017. Jembatan yang terbuat dari kayu ini terdorong deras arus Sungai Karang Mumus hingga roboh. Dampaknya, sekitar 50 kepala keluarga di Gunung Lingai, terjebak banjir. Mereka hanya berdiam di sekitar pemukiman karena akses jembatan yang merupakan jalan satu-satunya bagi warga tak lagi tegak berdiri.

Jembatan Hijau Gunung Lingai ini roboh sekitar pukul 17.00 WITA. Kejadian tersebut sontak membuat warga setempat panik. Terutama warga di RT 9 Gamg Baru 2, Kelurahan Gunung Lingai. Warga hanya bisa pasrah. Beberapa di antaranya meminta bantuan melalui media sosial Facebook.

Erinda, misalnya, meminta bantuan kepada seluruh warga Samarinda agar memberikan jalan keluar atas musibah robohnya Jembatan Hijau Gunung Lingai. “Dimohon kepada warga Samarinda. Kami sebagai warga Gunung Lingai RT 9 minta hati nuraninya kepada seluruh warga Samarinda untuk minta bantuannya untuk menginfokan ke seluruh organisasi masyarakat atas jembatan kami satu-satunya yang putus diterjang banjir,” ujar Erinda.

Padahal, sejumlah organisasi masyarakat telah memberikan peringatan kepada Pemkot Samarinda agar memperhatikan Jembatan Hijau Gunung Lingai. Misalnya, dari pegiat lingkungan di Sungai Karang Mumus (SKM) Samarinda, Misman. Dirinya telah memberikan peringatan kepada Pemkot Samarinda agar memperbaiki jembatan itu. “Jadi wajar kalau roboh, bahkan sangat wajar. Jadi yang tepat harus diperbaiki lebih tinggi dengan tiang penyangga tidak memagar Sungai Karang Mumus,” ujar Misman.

Ada lagi banjir yang melanda sejumlah perumahan di Samarinda. Korbannya Marsan,  warga di Perumahan Bukit Indah, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda harus bergegas mengangkati barang.

Banjir telah datang, sore itu, Rabu 19 April 2017. Perumahan Karpotek dan Perumahan Bukit Indah kerap menjadi langganan banjir sejak beberapa tahun terakhir. Terutama sejak aliran drainase di sekitar salahsatu sekolah dasar negeri di kawasan itu mengalami penyempitan. Apalagi sejak ada pergudangan dan ramainya aktivitas lain di belakang perumahan ini. Hutan-hutan di belakang perumahan ini dan daerah resapan airnya sudah hilang. “Makanya setiap hujan banjir,” kata Marsan.

Sejak pukul 17.00 WITA, usai hujan beberapa menit, ratusan rumah di dua perumahan tersebut tergenang air. Beberapa bagian dalam rumah warga bahkan telah terendam. Ketinggian air bervariasi, sekira 10 sentimeter dan 15 sentimeter.

Akibatnya, yang paling dirasakan warga adalah kerusakan jalan. Kondisi ini cukup membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua. Di area itu, banyak jalan yang berlubang. Kalau banjir, jalan tertutup air. “Pengendara yang lewat kadang jatuh dari motor karena melintas terlalu cepat di jalan berlubang yang tidak kelihatan karena tertutup air,” papar Wawan, seorang warga lainnya. Wawan menyatakan, rusaknya jalan di kedua perumahan itu lantaran terlalu sering tergenang air dan dilalui kendaraan berat yang menuju pergudangan.

Daerah lainnya yang terpapar banjir Samarinda adalah Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang. Genangan air di daerah tersebut mencapai 1,5 meter. Sejumlah warga memutuskan untuk tetap tinggal di rumah. Sementara sebagian warga lainnya memutuskan untuk mengungsi ke rumah kerabat. Pun, tak sedikit warga yang harus dievakuasi akibat banjir yang terjadi.

Menurut data Kecamatan, di daerah Temindung Permai tercatat sebanyak 3.944 KK dari 13.398 jiwa menjadi korban luapan Sungai Karang Mumus. Pascabanjir, warga membutuhkan bantuan makanan dan obat-obatan. “Di samping makanan yang langsung bisa dikonsumsi, kita juga membutuhkan obat-obat gatal, diare, dan sebagainya,” ujar Lurah Temindung Permai, Dili Satrio Handoko.

Banjir dengan ketinggian air mencapai 60 cm akibat luapan Sungai Karang Mumus (SKM) meluber ke badan jalan seperti di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Bandara, Jalan Dr. Soetomo di Kelurahan Sidodadi, Jalan Letjend S. Parman, Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan KH Hasan Basri. Pemukiman yang terendam banjir tersebut tersebar di Kelurahan Sempaja Timur dan Kelurahan Sempaja Utara di Kecamatan Samarinda Utara, Kelurahan Gunung Lingai dan Kelurahan Temindung Permai di Kecamatan Sungai Pinang, dan Kelurahan Sidodadi di Kecamatan Samarinda Ulu.

Warga yang ingin beraktivitas harus melintasi banjir dengan jarak yang cukup jauh. “Lumayan mengganggu. Sudah tidak bisa beraktivitas. Dua hari ini terus meningkat,” ujar Aliansyah, seorang warga di Kelurahan Bandara, Samarinda.

Lain lagi peristiwa yang terjadi di Jalan Pemuda, Kelurahan Temindung, Kecamatan Sungai Pinang. Banjir membuat seorang nenek renta bernama Ello (65) terjebak di dalam rumahnya seorang diri. Dalam 3 hari, rumahnya terkepung banjir.

Petugas kepolisian, TNI, dan petugas Dinas Sosial Kota Samarinda menyelamatkan seorang nenek pikun yang hidup sendirian di rumahnya. Evakuasi berlangsung setelah anak angkat korban meminta pertolongan petugas. Selama itu pula, Nenek Ello enggan meninggalkan rumah. Petugas mengevakusi Nenek Ello ke atas perahu karet dan langsung membawa korban ke truk BPBD Kota Samarinda menuju penampungan sementara di Dinas Sosial Samarinda.

Petugas kepolisian, TNI, dan petugas Dinas Sosial Kota Samarinda menyelamatkan seorang nenek yang hidup sendirian di rumahnya, di Jalan Pemuda, Kelurahan Temindung, Kecamatan Sungai Pinang. (Foto: Dok)

Warga di beberapa wilayah Kota Samarinda pun turut mengungsi akibat banjir. Di Kecamatan Sungai Pinang, mayoritas warga mengungsi saat PLN memadamkan aliran listrik. Pemukiman pun gelap gulita saat malam. Tetapi, warga dan petugas tetap bersiaga. Petugas BPBD Samarinda bahkan menyediakan perahu karet untuk membantu warga yang ingin melihat kondisi rumahnya atau mengantarkan makanan bagi warga yang masih berada di lokasi banjir.

Di Perumahan Gunung Lingai terdapat 926 kepala keluarga di 15 RT yang terdampak banjir. Warga mengungsi setelah pihak PLN memadamkan listrik. “Jumlah keluarga yang mungkin bermalam di rumah keluarganya tidak sampai 10 persen dari 998 warga sini. Masih banyak yang tinggal di rumah. Rata-rata, rumah mereka ini bertingkat. Jadi mungkin di bawah tenggelam tapi di atas masih bisa digunakan,” ujar Camat Sungai Pinang, Siti Hasanah.

Di pengungsian, sebagian warga mendirikan tenda penampungan di atas lahan kosong yang berada tidak jauh dari rumahnya. Tenda berbahan terpal itu  dibangun di sebuah lahan kosong yang tidak terendam air. Di atas lahan itulah, Rahma bersama dua tetangga lainnya membangun tenda sebagai tempat sementara untuk memindahkan sejumlah barang pribadi dan tempat tidur agar bisa beristirahat selama rumahnya terendam banjir. Rahma mengaku ketinggian air mencapai 1 meter di dalam rumahnya. Banjir kali ini merupakan banjir terbesar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir baginya. “Khawatir sih, kalau naik ke sini kita mau ke mana lagi mengungsi? Di rumah ada 5 orang,” ujar Rahma.

Rahma berharap agar hujan tidak turun sehingga air benar-benar suruut dan mereka bisa kembali ke rumah masing-masing. Rahma bersama suami dan 3 anaknya berada di tenda penampungan. Bersama warga lainnya, mereka berharap adanya bantuan dari pemerintah yang belum juga datang saat mereka berada di sana.

Rahma menjadi sekelumit kisah yang mecuat saat banjir melanda Samarinda. Ada banyak lagi lagi kisah lainnya. Menghindari antrean kendaraan di lokasi banjir, kendaraan yang mogok, pemilik toko yang memindahkan barang dagangannya, hingga evkuasi korban banjir dan petugas yang melakukan patroli di tengah pemukiman warga yang sepi.

Namun, di luar itu, kenyataan lain adalah adanya fakta tentang curah hujan yang sedang tinggi di Samarinda. Berdasarkan pengamatan Badan Metreologi Klimatologi dan Geofisika Bandara Temindung Samarinda, puncak curah hujan cukup tinggi terjadi pada bulan April dan bulan Mei 2017 dengan intensitas hujan tinggi. Sementara memasuki bulan Juni-Juli diperkirakan sudah memasuki musim kemarau.  

Karena itu, hujan yang mengguyur Ibukota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda, kerap membuat aparat pemerintah juga masyarakat siap siaga menghadapi banjir. Diguyur hujan tanpa henti, banjir menjadi keniscayaan di Samarinda. Apalagi jika kondisi debit air Sungai Mahakam yang juga sedang tinggi-tingginya. Dari pengakuan sebagian besar warga, sejak beberapa tahun terakhir belum ada perhatian serius dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk mengatasi banjir.  (*)