Pak Jos

Jos Soetomo

Opini: Rizal Effendi

LAMA sudah tidak terdengar dalam berbagai acara resmi ada komando “applause” (tepuk tangan) kepada audiens atau undangan. Pertama, karena Covid jadi jarang dilaksanakan acara tatap muka langsung. Kedua, sang tokoh komando “applause” yaitu Haji Muhammad Jos Soetomo atau Pak Jos kondisinya sudah lanjut. Pemilik dua hotel Bumi Senyiur dan Gran Senyiur di Samarinda dan Balikpapan ini belakangan banyak di dalam rumah dan duduk di kursi roda akibat penyakit tua yang dihadapinya.

“Ya Pak Haji sakit jadi beliau banyak di rumah saja,” kata seorang petugas Hotel Senyiur ketika saya tanya. Hal yang sama juga sering disampaikan oleh sekretaris pribadinya, Umar Khotob. Pak Jos tinggal di Jalan Pahlawan Nomor 65. Rumahnya yang berada di atas bukit terlihat asri.

Di tengah kondisinya yang sudah lanjut, Jos Soetomo, Senin (4/4) ini berulang tahun ke 77. Tokoh pengusaha keturunan Tionghoa dengan nama aslinya Chiang Ching Tek ini, lahir di pedalaman Kutai, tepatnya di Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong, pada tanggal 4 April 1945.

Bayangkan di desa yang terpencil itu (sekarang masuk wilayah Kabupaten Kutai Timur), sebelum Indonesia merdeka, orang tuanya sudah nekat tinggal di sana. Kabarnya, waktu itu hanya ada sekitar 100 kepala keluarga yang tinggal di Senyiur. Dua di antaranya keturunan Tionghoa, termasuk keluarga Jos Soetomo.

Keluarga Pak Jos merantau ke Senyiur karena daerah itu sejak dulu terkenal akan potensi kayu damarnya. Ayah Pak Jos saat itu juga berbisnis menjual garam. Garam memang sangat dibutuhkan warga pedalaman saat itu. Jadi mereka dengan mudah diterima warga setempat.

Sering kalau saya meliput berita ke pedalaman sampai ke Apo Kayan (Kayan Hulu dan Kayan Hilir), modal saya membawa garam. Dengan oleh-oleh garam, saya mudah berkomunikasi dengan suku pedalaman, terutama warga Dayak.

Satu-satunya warga pedalaman Kaltim (sekarang masuk wilayah Kaltara) adalah warga Dayak Lundayeh di Krayan, Kabupaten Nunukan, yang tidak pernah kesulitan garam. Uniknya, di desa Long Midang Krayan dekat perbatasan Malaysia Timur yang jauh dari laut itu, ada dua sumur di kaki gunung yang menyemburkan air asin. Lalu air asin itu diolah warga setempat menjadi garam.

Garam gunung di Krayan diyakini memiliki kandungan yodium yang tinggi. Karena itu banyak dijual masyarakat ke luar dan bahkan jadi oleh-oleh wisatawan yang datang ke sana. Menurut data WWF, dataran tinggi Krayan memiliki 33 mata air garam, walau tidak semuanya bisa diproduksi.

Kembali kita ke cerita Pak Jos. Meski hanya sekitar 8 tahun dia tinggal di Senyiur, tapi dia tak pernah melupakan kampung halamannya. “Itu modal saya, karena itu saya harus selalu ingat dari mana sumbernya saya. Orang lain boleh melupakan kampungnya. Saya tidak. Senyiur itu kebanggaan saya,” kata Pak Jos ketika tahun lalu diwawancarai wartawan Disway Kaltim dan nomorsatukaltim.com dalam acara Imlekan di rumahnya.

Menurut ayah 12 anak dan puluhan cucu ini, imlekan itu kearifan lokal etnis Tionghoa seperti budaya Jawa, Banjar dan Bugis. “Saya tetap menghargai dan mengangkat etnis Tionghoa meski saya sudah mualaf, penganut agama Islam,” tambahnya.

Itu sebabnya Pak Jos dalam kearifannya mengembangkan syiar Islam, dia membangun masjid beraroma Tionghoa yaitu tiga Masjid Cheng Hoo  di Balikpapan, Batuah Kukar, dan Samarinda.

Sementara itu, sebagai bukti kecintaan dengan kampung halamannya, tiga hotel yang didirikan Pak Jos selalu diberi label Senyiur. Selain di Samarinda dan Balikpapan, ada satu lagi hotel Pak Jos  di kaki Gunung Welirang, Kecamatan Prigen, Pasuruan Jawa Timur. Hotel itu diberi nama Hotel Royal Senyiur.

Sebenarnya Pak Jos ingin membangun satu hotel lagi di Samarinda bekerja sama dengan Pemprov Kaltim di zaman Gubernur HM Ardans SH. Hotel Lamin Indah sudah terlanjur diratakan. Tahu-tahunya batal karena tidak selesai urusan kesepakatannya. Sampai sekarang lahan eks Lamin Indah di bukit samping Hotel Mesra tetap terbengkalai.

RAJA KAYU SUMBER MAS

Di tahun 70-an, nama Pak Jos melambung luar biasa sebagai Raja Kayu dari Kaltim seiring dengan booming-nya penebangan dan penjualan kayu tropis dari Kaltim. Sumber Mas nama perusahaan Pak Jos, benar-benar sebagai sumber mas-nya Pak Jos. Selain jual kayu glondongan, Pak Jos juga membangun pabrik plywood di Loa Janan dan satu lagi di Jawa Timur. Anak perusahaannya juga tumbuh di antaranya  PT Kayan River Industries Plywood (KRIP), PT Meranti Sakti Indah Plywood (MSIP), PT Meranti Sakti Indonesia (MSI), PT Dirga Rimba, dan PT Estetika Rimba.

Karena itu, kekayaannya melonjak luar biasa. Pak Jos dari Raja Kayu juga menjadi Raja Tanah. Dia  membeli tanah di mana-mana terutama di Samarinda dan Balikpapan, juga di luar Kaltim. Hampir tiap sudut jalan ada tanah dan bangunan milik Pak Jos, seperti yang dilakukan oleh tokoh spritual Haji Muhyar dari Samarinda Seberang sekarang ini. Selain membangun Hotel Gran Senyiur, Pak Jos juga membangun lapangan golf di Karang Joang Balikpapan. Dulu di samping pabrik plywoodnya di Loa Janan, juga ada lapangan golf.

Saking berlebihnya uang Pak Jos, ada yang menebar isu miring waktu itu. Bayangkan, katanya, ganjal ratusan guci antik milik pak Jos di kediamannya menggunakan lipatan uang asli.

Pada tahun 2017, Globe Asia menempatkan Jos Soetomo masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia.  Dia menempati urutan ke-93 dengan kisaran kekayaan USD430 juta atau setara Rp 5,5 triliun setelah tax amnesty. “Pak Dahlan (Dahlan Iskan CEO Jawa Pos waktu itu) lebih kaya dari saya. Saya hanya di urutan 93,” katanya.

Pak Jos juga  menampung sejumlah pejabat Kaltim yang purnatugas bergabung di perusahaannya. Di antaranya mantan Ketua DPRD Kaltim Kol. Soekotjo, mantan Bupati Berau Masdar John dan juga H ARS Muhammad (mantan Walikota Balikpapan 1960-1963). Pak Jos selalu mengundang makan kepada setiap pejabat pusat atau Menteri atau Panglima ketika datang ke Kaltim meski tak menginap di hotelnya.

Di tengah kejayaannya, Pak Jos sempat tersandung kasus pajak senilai Rp6 miliar di tahun 80-an. Saya bersama wartawan majalah Tempo Zaim Uchrowi sempat ditugasi mewawancarai Pak Jos dalam kasus itu. Syukur dia divonis bebas meski sempat shock dan mengganggu usaha yang sudah yang dibangunnya.

HARUS BERSYUKUR

Yang luar biasa dari tokoh Pak Jos adalah semangat kebangsaannya, semangat membangun di bidang pendidikan, keagamaan dan olahraga. Tutur katanya unik, penuh istilah filsafat dan nilai keagamaan.

Dia suka bicara dalam bahasa Banjar Samarinda. Kerap menggunakan kata “nyawa,” yang artinya dalam bahasa banjar adalah kamu atau Anda. Sering menyebut istilah fastabiqul khairat seperti nama yayasannya, yang dalam bahasa Arab mempunyai arti berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Juga dia sering mengutip firman Allah Swt dalam surat Ibrahim ayat 7  yaitu “La’in syakartum la’azidannakum wa la ing kafartum inna ‘azabi lasyadid.” (Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku  sangat pedih)

Itu sebabnya dia punya perhatian sangat luar biasa dalam urusan syiar Islam. Para alim ulama diberinya tempat bermarkas di hotelnya. Dulu ratusan masjid semua dapat bantuan dari Pak Jos untuk merenovasi. Sudah ribuan orang mulai dari kampung halamannya sampai Samarinda dan sekitarnya diberangkatkan ke Tanah Suci atas biaya Pak Jos.

Pak Jos saat ini duduk sebagai Dewan Penyantun Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Kaltim, yang kampusnya baru saja diresmikan Wakil Presiden KH Ma’aruf Amin awal November tahun lalu. Meski duduk di atas kursi roda, dia yang mengenakan toga universitas penuh semangat menyambut Wapres yang sempat memberikan orasi ilmiah acara Dies Natalis ke-7 UNU di Hotel Bumi Senyiur. Pak Jos juga duduk sebagai penasehat Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Nasional dan penasihat  Forum Kebangsaan Kaltim.

Sebagai tokoh bangsa Pak Jos selalu mengumandangkan kata “Harmoni”  atau keselarasan. Indonesia perlu bersyukur, katanya, sebagai bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. “Kita ini berbeda-beda tapi satu dalam harmoni. Orang Bugis ibaratnya jadi telinga. Jawa jadi lengan, Banjar jadi wajah dan lainnya juga bagian dari organ tubuh kita. Jadi jika ada yang melukai salah satu suku, sama saja dia melukai tubuhnya sendiri,” jelasnya.

Melalui Yayasan Sumber Mas, Pak Jos memberikan perhatian luar biasa terhadap dunia pendidikan. Dia membangun kompleks sekolah yang lokasinya tak jauh dari Kampus Unmul Gunung Kelua.

“Bagi saya Pak Jos adalah sosok pengusaha patriotik yang cinta tanah air dan patut diteladani,” kata  Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo, yang hadir pada perayaan HUT ke-71 Pak Jos, enam tahun silam.

Meski berlebihan luar biasa, Pak Jos ternyata tidak mau memanjakan putera-puteranya dalam merintis usaha. Wahyu Soetomo, salah seorang puteranya yang terbilang akrab dengan saya mengatakan, orang tuanya melatih mereka harus bekerja keras.  “Saya sempat menggadaikan tiga rumah untuk merintis usaha di bidang konstruksi dan property,” katanya.

Ketua Balikpapan Ladies Club (BLC), Ingris Assa, mengaku senang dengan tokoh Pak Jos. “Hampir setiap pagi kami bertegur sapa meski lewat WA. “Dia memang tokoh bangsa yang pantas diteladani,” kata tokoh Minahasa ini. Pak Jos kerap ikut membantu BLC dan bahkan pernah hadir dalam perayaan HUT BLC.

Selamat ulang tahun Pak Jos. Applause untuk Pak Jos. Panjang umur dan sehat selalu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status