Clicky

Dahlan

Rizal Effendi bersama Dahlan Iskan di lokasi Titik Nol IKN. (Foto: Dok)

Opini: Rizal Effendi

ALHAMDULILLAH, Jumat (29/4)  kemarin saya mengawal Pak Dahlan Iskan ke lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku. Malam sebelumnya saya diberitahu Pak Zaenal Muttaqin (ZAM), wartawan kepercayaan Dahlan bahwa Pak Dahlan ada di Samarinda. “Subuh kami sudah bergerak dari Samarinda,” katanya kepada saya.

Sehari sebelumnya Pak Dahlan datang ke Samarinda, kampung halamannya juga. Pak Dahlan sempat bertemu Gubernur Kaltim Dr. Isran Noor dan bahkan sempat ke Jantur, Muara Muntai, Kutai Kartanegara. “Saya lupa bawa Rizal biar ramai,” katanya.

Saya bersama rekan saya, Zaenal Abidin, habis subuhan sudah bersiap. Saya bilang nanti saya menunggu di persimpangan Km 38 Samboja. Lalu kami menuju ke sana lebih cepat.  Saya tahu tipe Pak Dahlan tak suka menunggu. Dulu kalau menjemput di Bandara Sepinggan kita terlambat, Pak Dahlan seenaknya saja naik ojek. “Jangan suka membuang waktu,” katanya memberikan pelajaran.

Pak Dahlan konsisten dengan sikap itu. Baik ketika dia menjadi pemimpin redaksi, menjadi Dirut PLN, bahkan Menteri BUMN. Saya sempat tidak enak dengan rombongan kepala daerah ketika diajak Pak Dahlan ke China ada yang pernah ditinggal di hotel. “Biar beliau menyusul,” kata Pak Dahlan tenang.

Di dunia jurnalistik ada istilah “deadline,” waktu terakhir membuat dan menyelesaikan pekerjaan membuat berita. Lewat deadline berita tidak bisa dimuat atau ditinggal meski sudah diliput capek-capek. Jantung saya sering berdebar-debar kalau meliput final sepakbola malam hari. Apalagi kalau ada perpanjangan waktu bermain. Maklum zaman dulu pekerjaan membuat berita masih manual. Harus datang ke kantor redaksi atau ke press center. Sekarang cara kerja seperti itu tidak lagi. Wartawan sekarang bersyukur dengan kemajuan teknologi, membuat berita di lapangan atau dalam WC sekalipun sudah bisa. Cukup dengan HP yang digenggam.

Pelajaran menghargai waktu itu sangat saya terapkan ketika menjadi walikota. Saya sering sebelum jam 07.00 pagi sudah di kantor. Kalau menghadiri acara saya selalu datang sebelum waktu yang ditentukan walau saya tahu jarang ada acara yang dilaksanakan tepat waktu. “Saya tak suka orang yang menunggu-nungu saya. Lebih baik saya yang menunggu. Saya merasa sebagai walikota bukan raja, tapi pelayan masyarakat. Karena itu saya sangat menghormati dan terbuka kalau ada orang yang ingin bertemu saya. Dalam waktu apapun meski sebelumnya tidak janjian.

Saya senang bisa bertemu Pak Dahlan. Maklum cukup lama tidak bersua langsung. Dia bos saya, ya juga guru saya. Ketika Pak Dahlan dipromosi ke Surabaya menjadi koordinator Majalah Tempo dan belakangan CEO Jawa Pos, saya meneruskan tugas Pak Dahlan di Samarinda. Pak Dahlan sudah jadi wartawan di zaman Gubernur Kaltim H Abdoel Wahab Sjahranie (1967-1978). Masih pakai sandal jepit (sekarang sukanya sepatu kets atau sneakers) dan sangat sederhana. Kesederhanaan itu juga menjadi salah satu ciri khas Pak Dahlan yang diajarkan kepada saya dan teman-teman.

Pak Dahlan pekerja keras. Kalau datang ke daerah tidak pernah ada di hotel. Dia bergerak terus. Malah dulu sering tertidur di ruang redaksi.  Tidak ada kata tidak bisa. Waktu belajar bahasa China, sempat tinggal di kampung China. Dan sangat kuat memorinya. Dia tak pernah mencatat kalau mewawancarai seseorang. Saya dan teman-teman Jawa Pos Group pernah diajak Pak Dahlan mewawancarai Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi di istana kepresidenan, Putrajaya Kuala Lumpur tahun 2000-an awal. Kami semua mencatat dan merekam. Maklum bertemu seorang kepala negara, takut salah kutip. Tapi ketika kami menulis, Pak Dahlan jauh lebih lengkap.

Saya juga kaget Pak Abdullah Badawi juga sederhana, sangat familiar dan tidak suka protokoler. Ketika kami diajak makan, Perdana Menteri sendiri yang melayani. Satu per satu kami diberi piring. Tak ada petugas saji di ruang itu. Tak ada petugas pengawalan. Sebuah pelajaran baik buat kita walau kita terbilang orang mampu dan berkuasa.

Pak Dahlan sangat kuat dengan ide dan visi. Kita pernah membuat koran di Tanah Suci pada musim haji tahun 90-an. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh pekerja atau pengusaha media di Tanah Air. Waktu itu Jawa Pos bekerja sama dengan perjalanan haji Tiga Utama (milik pengusaha Ande Abdul Latif dari Makasaar) dengan koran Al Madinah di Jeddah. Yang menarik, juru bahasa kami di Makkah adalah Prof KH Said Aqil Siradj, mantan Ketua PBNU, yang saat itu masih kuliah di Universitas Ummul Quro Makkah. Di sana juga saya pertama kali bertemu KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang tinggal di rumah Kiai Said saat melaksanakan ibadah haji. Saya selalu ingat dan sering saya sampaikan ke orang lain cerita humor kesebelasan pesantren bertanding sepakbola. Itu cerita Gus Dur, yang memang suka melempar humor segar. Dia menceritakan kelucuan akibat kiai pesantren tidak pernah menonton sepakbola.

KE TITIK NOL

Hampir dua jam kami berada di lokasi IKN. “Alhamdulillah saya bisa menangkap langsung suasana di lokasi ibu kota negara yang baru ini,” kata Pak Dahlan bersemangat. Penampilan Pak Dahlan nampak segar, padahal menempuh perjalanan panjang dari Sumatera ke Kaltim. “Sehat ya, Zal,” katanya akrab.

Ada tiga lokasi yang ditinjau Pak Dahlan, kemarin. Pertama, ke menara yang sering dijadikan salah satu objek foto orang yang datang ke sana. “Sebenarnya ini bukan menara IKN, Pak. Tapi menara tempat kami mengontrol api kalau terjadi kebakaran hutan,” kata Iswanto dari pengawas PT ITCI Hutani Manunggal (IHM).

IHM adalah perusahaan tanaman industri milik pengusaha Medan Sukanto Tanoto (Royal Golden Eagle/RGE), yang dijadikan lokasi IKN. Berdasarkan SK Menhut No 184 tanggal 23 April 1996, IHM diberikan konsesi hutan di Sepaku itu seluas 161 ribu hektare lebih, yang ditanami tanaman pohon Eucalyptus sp dan Acacia Mangium.  Dari lahan seluas itu, sekitar 47 ribu hektare diambil untuk keperluan ibu kota baru.

“Saya kira di sini sebagian hutan alam yang ditumbuhi pohon meranti, bengkirai, dan ulin. Ternyata semuanya yang terlihat Eucalyptus ya,” kata Pak Dahlan.

Bersama Pak Ismanto, Pak Dahlan sempat berdiskusi keistimewaan pohon yang punya serat panjang, yang pada umumnya akan menghasilkan kertas yang lebih kuat. “Eucalyptus termasuk yang punya serat panjang,” kata Ismanto.

Sejauh ini, IHM masih diperbolehkan menanam dan memanen pohon di lokasi IKN sampai nanti pembangunan IKN dimulai. Pak Dahlan kemarin bisa menyaksikan langsung puluhan truk yang mengangkut kayu hasil tebangan di lokasi tersebut. Kayu-kayu itu kemudian dikapalkan menuju Pelawan Riau untuk dijadikan bahan baku kertas di Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) milik Sukanto juga.

Ismanto menjelaskan IHM berbeda dengan dengan PT ITCI Kartika Utama, HPH milik Angkatan Darat yang dijual kepada Hashim Djojohadikusumo, adik Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Lokasi seluas 173 ribu hektare itu memang berdekatan dengan lokasi IHM. Dulu hasil tanaman industri di PT ITCI Kartika Utama dikirim ke pabrik kertas Kiani Kertas di Mengkajang, Berau milik Prabowo.

Dari menara, Pak Dahlan dipandu ke lokasi Titik Nol IKN, tempat Presiden Jokowi menyatukan air dan tanah yang dibawa 34 gubernur se Indonesia, pertengahan Maret lalu. Dia sempat memperhatikan sejumlah pohon yang dibawa para gubernur. “Ada yang mati nggak?” katanya bertanya sambil membuat video.

Beberapa pengunjung yang kebetulan ada di sana, sempat minta foto bersama. Termasuk juga Pak Ismanto dan Insp Pol Dua Sumarsono dari Polsek Sepaku bersama dua anak buahnya. “Kapan lagi bisa ketemu Pak Dahlan,” kata mereka. Sekcam Sepaku Kustaman mengaku menyesal ke Balikpapan sehingga tidak bisa ketemu. “Aduh padahal idola saya Pak Dahlan,” katanya lewat WA.

Pak Dahlan juga sempat naik ke bukit tempat Presiden Jokowi berkemah. Fasilitasi sanitasinya masih ada dan dikunci. Saya terengeh-engeh naik ke sana. Apalagi udara panas dan puasa. Tapi Pak Dahlan tenang-tenang saja bersama Polisi Sumarsono yang mendampinginya. “Ini Pak Sumarsono, sudah bertahun-tahun tugas di sini. Sudah jadi warga Sepaku,” kata Pak Ismanto.

Sebelum pulang Pak Dahlan menyemangati saya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan. “Maju terus jangan berhenti di walikota saja. Apa ke legislatif atau ada pilihan ke gubernur,” katanya memukul pundak saya. “Juga kalau bisa didorong ke IKN bos,” kata Pak Zam menimpali, yang dulunya dia juga yang mendorong saya ke pemilihan walikota Balikpapan mendampingi Pak Imdaad Hamid tahun 2006 silam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status
error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda.@gmail.com