Martabak India

Rizal Effendi (tengah) menyerahkan buah lai kepada Dubes India, Pradeep Kumar Rawat. (Foto: dok)

Opini Rizal Effendi

Kamis kemarin, saya mengunjungi teman saya keturunan India, Abdul Nasir (65). Dia pemilik toko mebel di  Pandan Sari, persis depan Masjid Manuntung. Penampilannya tetap gaya orang India meski dia asli warga negara Indonesia. Wajahnya dihiasi janggut panjang berwarna putih kecokelat-cokelatan. Sesekali dalam acara undangan, dia tampil berpakaian ala penyanyi dangdut “Pandangan Pertama” A Rafiq yaitu kurta pijama, kemeja longgar sampai ke lutut. “Biar orang tahu masih ada keturunan India di daerah ini,” kata ayah satu anak dan satu cucu ini.

Ucapan Nasir ada benarnya. Dimakan perjalanan waktu, warga India di Kaltim khususnya di Samarinda dan Balikpapan memang hampir punah. Padahal pada tahun 70-an cukup banyak. Mereka terkenal sebagai pedagang kain dan alat-alat olahraga. Kalau kita belanja tak mudah ditawar, tapi barangnya bagus dan lengkap.

Ada dua toko kain India yang terkenal di sepanjang Jalan Panglima Batur, Samarinda, yaitu  Toko Akbar dan Toko Pancar Dua Belas. Sayang keduanya sudah tutup. Sepertinya kalah bersaing dengan toko kain Jawa Indah, yang sekarang menguasai pasar Samarinda. Kebetulan anak kedua pemilik toko itu adalah teman saya, Aliyakat Ali dan Nasir. Kami bersahabat sejak di bangku sekolah.

Dengan Aliyakat, saya akrab waktu masih sekolah SMEP dan SMEA. Badannya yang bongsor mudah  dikenali. Walau berdarah India, sehari-hari dia menggunakan bahasa Banjar. Beberapa tahun lalu dia meninggal dunia. Sedang dengan Nasir saya akrab waktu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), yang kampusnya masih di Jalan Flores. Gara-gara Nasir, hampir dua tahun saya tidak lulus mata kuliah Ekonomi Industri. Dosennya, Drs. Kaharuddin Anas, yang juga Sekretaris Dekan waktu itu, marah besar karena sepeda motor Honda Benly-nya dikempesi.

Tapi gara-gara berteman orang India juga, saya jadi suka menonton film India waktu itu. Pertama, gratis karena di tahun 70-an ada dua bioskop di Samarinda, yaitu Bioskop Garuda di Jalan Diponegoro dan Kutai Theatre (Bioskop Mahakama) di Jalan Pelabuhan. Seminggu sekali, bioskop itu memutar film gratis untuk keluarga ABRI. Kedua, saya suka film India karena ceritanya penuh nyanyian dan tarian warna-warni. Terkadang sedih dan jagonya selalu menang di akhir cerita. Masa putarnya sangat panjang sampai 180 menit alias tiga jam.

Saya masih ingat aktor terkenal India, seperti Sridevi Kapoor yang membintangi 150 film. Ada Amitabh Bachan, Rajesh Khana, Shasi Kapoor dan Dharmendra. Nama  aktor terakhir ini menjadi suami artis cantik India Hema Malini, yang juga ibu dari  aktris muda Esha Deol.

Saya pernah menonton film Anand dibintangi Rajesh Khanna dan Amitabh Bachan, yang berhasil meraih penghargaan. Film tahun 70-an ini sangat menguras air mata karena menceritakan penderita penyakit kanker, disadur dari buku dr. Bhaskar, yang menangani seorang pasien kanker bernama Anand Sehgal.

Bicara film India, saya juga jadi teringat dengan Gubernur Kaltim Dr. Awang Faroek Ishak ketika bermain golf. Pak Awang, panggilan akrab gubernur dua priode masa bakti 2008-2018 ini, sering memosisikan dirinya seperti Inspektur Vijai. Awalnya selalu kalah, tapi di ujung permainan di hole-hole terakhir selalu bermain baik dan menang. “Baru tahu dia dengan Inspektur Vijai,” kata Pak Awang, yang sekarang anggota DPR RI dapil Kaltim dari Partai Nasdem.

Menurut Nasir, karena jumlah keturunan India di Samarinda dan Balikpapan tidak banyak lagi, oleh sebab itu sejak tahun 1975 sudah tidak ada organisasi perkumpulan warga India. Saat ini di Samarinda hanya tertinggal dua toko keturunan India di Panglima Batur dan Jalan Dr. Soetomo. Sedang di Balikpapan, masih ada 9 toko. Semuanya di Pandan Sari, Balikpapan Barat termasuk toko yang dimiliki Nasir bernama Toko Mebel NEHA, mengambil nama putrinya yang pernah menjadi mayoret Marching Band Patra Dharma.

“Sebenarnya sembilan toko yang ada di Pandan Sari ini, masih ada kaitan keluarga semua. Ada yang masih tetap berjualan kain, mendirikan toko olahraga dan toko mebel,” kata Nasir, yang sudah menyatu dengan warga setempat.

Nasir sendiri juga ikut menjadi pengurus Masjid Manuntung. Dia sempat mengajak saya belanja kue basah di Warung Haji Wati di depan masjid. Kebetulan, masih ada amparan tatak pisang, yang menjadi kesukaan saya. Beberapa warga menegur saya, masih ingat ketika saya menjadi  wali kota. “Saya minta foto, Pak, biar jualan saya tambah laku,” kata gadis penjual lauk pauk sambil mengambil HP-nya.

SAYA HADIAHI BUAH LAI

Meski warga atau keturunan India sudah tak banyak lagi tinggal di  daerah ini,  hubungan dagang Kaltim dan India terus berkembang. Sebagian batubara Kaltim diekspor ke India. Nilainya mencapai 17,36 miliar dolar pada tahun 2021, naik 80,87 persen dibanding tahun 2020 yang mencapai 9,6 miliar dolar AS.  Yang menarik ada lidi kelapa sawit yang juga dijual ke India baik untuk keperluan sapu dan juga  ibadah. “Nilainya 23 ribu dolar AS,” kata Kahumas Pemda Kaltim, Drs HM Syafranuddin.

Saya sempat akrab dengan Duta Besar India Pradeep Kumar Rawat, yang sekarang sudah digantikan Manoj Kumar Bharti.  Pradeep sempat berkunjung ke Balikpapan dan mengirim tim kesenian pada perayaan HUT Kota Balikpapan.  Saya juga sempat diundangnya ke Kedutaan Besar India di Jakarta pada acara perayaan Hari Republik India ke-71, 24 Januari 2020. Pradeep kaget saya bawakan oleh-oleh buah lai (Durio kutejensis), buah durian khas Kalimantan.  “Buah apa ini, saya belum pernah lihat,” kata Pradeep dengan wajah sukacita menerima bingkisan saya di tengah perayaan yang dihadiri para pejabat Indonesia dan tamu-tamu dari kedutaan negara lain.

Dubes India yang baru, Manoj Kumar Bharti juga sudah  berkunjung ke Kaltim, pertengahan Januari lalu. Dia membawa sejumlah pengusaha India. Manoj  disambut Wagub Kaltim Hadi Mulyadi. Beberapa pembicaraan bisnis dan kerjasama dibahas. “Ada beberapa program yang ditawarkan Dubes, mulai kebudayaaan, wisata dan pendidikan. Pengusaha India mau investasi di Kaltim. Bahkan Dubes menawarkan beasiswa  India yang setiap tahun memberikan kuota 100 orang untuk warga Indonesia,” kata Wagub.

Yang menarik, Dubes ingin suatu saat ada perusahaan film India mengambil lokasi syuting di Kaltim.

Wagub langsung menawari lokasi pulau Derawan dan Maratua di Kabupaten Berau yang sangat indah atau Museum Mulawarman di Tenggarong jika berkaitan dengan sejarah masa lalu. Apalagi sejarah kerajaan Hindu tertua ada di Kutai, sejak tahun 400 Masehi silam. Mudah-mudahan bintang utamanya, Shahrukh Khan. Pasti banyak yang bilang hum tumhe pyar karte hae alias aku cinta kamu.

Saya bilang ke Nasir, meski warga keturunan orang India sangat berkurang di Kaltim, toh roti canai dan martabak India masih banyak yang jual. Tidak saja di Balikpapan dan Samarinda, tapi  juga di Tenggarong dan Tanah Grogot. Setiap Ramadan, martabak kare di Warung Barokah, Loa Tebu, Tenggarong sangat laris dipesan sampai ke Samarinda. Juga martabak India Ibrahim di Jalan Basuki Rahmat, Tanah Grogot.

Sebelum pulang kemarin, saya dititipi sambosa, makanan khas India dari olahan istri Nasir, Zarina Begum. “Salam untuk Ibu, ya Pak,” kata Zarina akrab. Sambil menenteng ke mobil, saya teringat lagu India, Kuch Kuch Hota Hai yang dibawakan Shahrukh Khan dan Kajol dan sangat populer di Indonesia. Asyik sambil makan martabak di waktu buka. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status