News

Penjaga Terumbu Karang dari Muara Badak

Kutai Kartanegara, KLIKSAMARINDA – Bayangan terlihat menunjukkan angka sepuluh ketika kapal bantuan Dinas Pariwisata merapat di pelabuhan Pantrita Lopi Desa Tanjung Limau Muara Badak Kutai Kartanegara.

Di atas kapal, terlihat seorang pria berusia 57 tahun sedang mengemudikan kapal bermesin 200 PK. Dialah Muhammad Mansur, Koordinator Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Muara Badak.

Muhammad Mansur adalah penerima penghargaan Kalpataru pada tahun 2022, sebagai penyelamat lingkungan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Ia menerima penghargaan tersebut berkat perannya dalam menjaga dan melestarikan terumbu karang dan ekosistem laut di Muara Badak.

Mansur memimpin Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bina Lestari dan berperan penting dalam mengembangkan wisata bahari di wilayah Muara badak.

Siang ini, Mansur beserta Rian, satu asistennya, datang untuk menunjukkan potensi bawah laut di pesisir Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Dari atas kapal yang dikemudikannya, Mansur menunjukkan rapatnya tanaman mangrove di sepanjang perjalanan kami menuju lokasi penyelaman. Dulu tidak ada yang peduli dengan keberadaan mangrove di kawasan ini. Namun saat ini semuanya mulai ikut menjaga dan merasakan manfaat dari keberadaan hutan mangrove.

“Saya pernah dikira gila, bahkan apa yang saya lakukan dianggap tidak masuk akal bahkan kerap dicibir oleh masyarakat,” kata Mansur.

Bagai pelaut yang menjaga kapal tetap bersih, Mansur menceritakan kenangan di tahun 2009 lalu. Saat itu banyak nelayan yang mengaku kalau laut Muara Badak memiliki potensi terumbu karang. Namun sayangnya, akibat kesalahan masyarakat dalam melakukan penangkapan ikan membuat terumbu karang-terumbu karang itu hancur atau rusak.

Melihat hal itu, dan didorong oleh rasa tanggung jawab dan kesadaran bahwa ia akan terkena dampak buruknya jika tidak bertindak, Mansur langsung mendatangi dan memberikan peringatan kepada para nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan cara yang salah.

Namun sayang peringatan yang disampaikannya tidak mendapat dukungan dari para nelayan, bahkan kembali bapak satu anak ini dikatakan sebagai orang gila. “Mana ada terumbu karang di Muara Badak,” kata Mansur menirukan kalimat orang yang mencibirnya.

Laksana ombak yang menghantam karang, takkan hancur oleh buih, pria yang juga pengajar di salah satu Sekolah Dasar di Tanjung Limau ini tidak patah semangat. Cemoohan diibaratkan buih atau percikan kecil, sementara tekad yang kuat adalah karang yang tak tergoyahkan.

Beragam upaya dilakukan untuk pembuktian itu. Termasuk menghubungi sahabatnya, Mukhlis Effendi, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman.

Mansur mengungkapkan bahwa hasil survei yang dilakukan bersama membuktikan adanya terumbu karang di Muara Badak. Namun, kondisinya rusak akibat penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan oleh nelayan setempat.

“Kami survei bersama-sama membuktikan terumbu karang dan ketemu. Terumbu karang itu nyata di Muara Badak, namun semuanya rusak akibat ulah para nelayan yang menggunakan alat tangkap yang salah,” kata Mansur.

Upaya Mansur dan timnya untuk menyebarkan informasi tentang temuan terumbu karang di Muara Badak awalnya tidak banyak mendapat perhatian. Namun, setelah mereka terus berjuang dan membuktikan keberadaan terumbu karang yang indah dan beragam pada kedalaman 3-45 meter, banyak pihak yang mulai tertarik dan terlibat.

Beberapa perusahaan besar seperti Pertamina Hulu Sanga Sanga, yang kemudian berpartisipasi dalam upaya perlindungan terumbu karang dari kerusakan akibat aktivitas pengeboman dan pukat harimau.

Dengan data yang akurat, Mansur dan timnya melakukan edukasi kepada masyarakat setempat, terutama para nelayan, tentang pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang. Mereka menyosialisasikan dampak negatif dari metode penangkapan ikan yang merusak, seperti pengeboman ikan dan pukat harimau, serta mengajak nelayan untuk menjaga kelestarian terumbu karang yang telah dipetakan.

Upaya Mansur dan timnya menjadi contoh inspiratif bagaimana inisiatif lokal dan kolaborasi dengan berbagai pihak dapat membawa perubahan positif dalam melindungi sumber daya laut. Dengan kerja sama dan kesadaran bersama, mereka mampu meningkatkan kepedulian masyarakat dan mendorong tindakan nyata untuk melestarikan ekosistem laut yang berharga.

Dengan dukungan luas, Mansur dan rekan-rekannya membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bina Lestari, yang menjadi langkah strategis untuk memperkuat upaya pelestarian ekosistem pesisir. Dengan anggota yang terdiri dari 30 nelayan setempat, Pokmaswas ini dipimpin oleh Mansur sebagai garda terdepan dalam pengawasan dan perawatan wilayah pesisir di Kecamatan Muara Badak.

Mansur dan Zebadiah pengunjung asal jakarta saat menuju lokasi penyelaman. (FOTO: Suriyatman)

Pokmaswas Bina Lestari, yang dipimpin oleh Mansur, fokus pada pencegahan penangkapan ikan ilegal dan perawatan terumbu karang di perairan Muara Badak.

Dengan dukungan dari Kepala Desa Tanjung Limau dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, serta PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), mereka menjadi contoh nyata keberhasilan kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah, dan sektor swasta dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Peluh dan lelah yang terkumpul menjadi hujan yang menyirami padang tandus, kini padang itu telah menjadi kebun yang subur, membuktikan bahwa pengorbanan dan jerih payah telah mengubah situasi yang sebelumnya sulit menjadi penuh kesuksesan.

Keberhasilan upaya konservasi di Muara Badak kini terlihat dengan jelas. Perairan sekitar tidak hanya menawarkan pemandangan bawah laut yang indah, tetapi juga menjadi habitat berbagai jenis ikan, termasuk spesies langka seperti grey shark (hiu lonjor) dan leopard shark (hiu macan tutul).

Ini menunjukkan bahwa ekosistem laut di wilayah tersebut telah pulih dan menjadi lebih seimbang.

Penemuan hiu di perairan Muara Badak memang menjadi kabar yang luar biasa. Mansur mengungkapkan kekagumannya dengan kalimat yang singkat namun penuh makna.

“Sesuatu yang di luar prediksi, di sini benar-benar ketemu hiu. Ini hal luar biasa dan itu ada di Kecamatan Muara Badak.” Ia menambahkan bahwa penemuan ini menunjukkan betapa kayanya biodiversitas laut di wilayah tersebut, membuktikan keberhasilan upaya konservasi yang telah dilakukan.

Mansur menyebutkan bahwa kini masyarakat bisa menikmati keindahan terumbu karang di Muara Badak tanpa perlu pergi jauh. Dengan akses yang lebih mudah dan terjangkau, Pantai Panrita Lopi menjadi destinasi wisata populer yang ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Transplantasi karang yang dilakukan Mansur dan timnya membawa dampak positif signifikan bagi nelayan dan masyarakat sekitar. Dengan meningkatnya populasi ikan di sekitar terumbu karang, nelayan mendapat hasil tangkapan lebih banyak.

Selain di laut, Mansur juga mengalami pengalaman pahit saat pohon mangrove yang baru ditanam dicabuti oleh oknum nelayan yang merasa terganggu dengan aktivitas tersebut.

Namun, setelah setengah tahun berlalu, pohon mangrove mulai tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi nelayan dengan meningkatkan populasi ikan di sekitar area tersebut.

Nelayan yang sebelumnya menolak akhirnya sadar akan pentingnya mangrove dan mulai ikut menanamnya. Selain menjadi habitat ikan, pohon mangrove juga menjadi tempat bermain bekantan yang mencari buah dan daun mangrove.

Keberadaan mangrove dan bekantan ini kemudian menjadi daya tarik wisata baru, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem. Ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dapat membawa manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam menjaga kelestarian lingkungan laut, Mansur bersama Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Muara Badak menerima penghargaan Kalpataru Tingkat Provinsi Kaltim 2022 dalam kategori Penyelamat Lingkungan dari Gubernur Kaltim.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusi nyata mereka dalam melestarikan lingkungan dan sumber daya laut di wilayah tersebut.

Mukhlis, seorang dosen FPIK Universitas Mulawarman, mengungkapkan bahwa terumbu karang di pesisir Kutai Kartanegara memiliki potensi luar biasa, membentang dari Kecamatan Muara Badak hingga Marangkayu.

Dengan kedalaman antara 3 hingga 45 meter, terumbu karang ini bisa dinikmati dengan snorkeling saat air surut. Mukhlis menekankan pentingnya memperhatikan waktu penyelaman untuk menjaga kejernihan air. Setiap spot memiliki keunikan tersendiri, seperti Batu Hiu yang terkenal dengan kemunculan hiu dan Batu Bom dengan hamparan karang yang luas.

Upaya rehabilitasi dan transplantasi terus dilakukan sambil mengedukasi masyarakat untuk menjaga kelestarian terumbu karang.

Mukhlis menegaskan komitmennya untuk melestarikan terumbu karang di Muara Badak meskipun ada anggapan bahwa menjaga batu karang tidaklah penting.

Zebadiah AP, seorang penyelam asal Jakarta mengatakan, Kecamatan Muara Badak kini menjadi destinasi wisata alternatif yang menarik bagi pecinta laut. Dengan ditemukannya terumbu karang di lepas pantai, wilayah ini menawarkan pengalaman wisata bahari yang lengkap, mulai dari pantai hingga keindahan bawah laut.

“Wow, keindahan bawah laut di sini benar-benar luar biasa! Airnya jernih, terumbu karangnya warna-warni, dan ikan-ikan kecil berenang dengan lincah di sekitar, menciptakan pemandangan yang sangat mempesona!” kata Zebadiah AP.

Sementara itu Elis Fauziyah, Head of Comrel & CID Zona 9 mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan Mansur dan teman-teman sudah sejalan dengan komitmen PHSS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Pada periode 2020 hingga 2021, PHSS memberikan bantuan melalui kegiatan konservasi terumbu karang model apartemen, penanaman mangrove, perluasan transplantasi terumbu karang hingga sertifikasi menyelam.

“PHSS mendukung inisiatif pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh Bapak Mansyur di Muara Badak, melalui program CSR Jaga Pesisir Kita dengan beberapa kegiatan berupa pelatihan menyelam, pelatihan baywatch, penanaman mangrove dan perluasan area transplantasi terumbu karang,” kata Elis Fauziyah.

Dengan dedikasi dan kerja kerasnya, Mansur membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat membawa perubahan nyata. Semoga kisahnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menjaga dan melestarikan keindahan alam Indonesia. (*)

Penulis: Suriyatman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
DMCA.com Protection Status