News Politik

Merangkul Milenial Lewat Brand Lokal: Tak Dibayar (3)

Mereka bergerak mendukung Rusmadi dalam ruang-ruang sempit dengan lampu temaram. Hanya sedikit cahaya yang masuk ke sana, bahkan saat siang hari. Sesekali mereka keluar rumah mencari udara segar; sekadar mencari inspirasi dan suasana baru.

SEORANG remaja berumur 20 tahun terlihat sibuk di depan layar MacBook Pro-Apple. Di sekitar mejanya, ada minuman soda dan camilan kentang goreng, lengkap dengan saos tomat dan sambal.

Di meja lain, remaja berumur serupa juga terlihat sibuk merekonstruksi cerita via animasi 3 dimensi. Di depan laptop Motorola AT&T, berkali-kali ia mencoba pelbagai software berbayar yang telah terinstal di dalamnya.

Beberapa remaja lain juga terlihat sibuk di depan layar laptop masing-masing. Ada yang menulis artikel, membuat desain grafis, dan melakukan coding template di situs/web dengan nama www. kawalrusmadi.com. (Klik juga: Merangkul Milenial Lewat Brand Lokal: Pelopor Gerakan)

Mereka tak seperti kebanyakan remaja di tempat tersebut yang umumnya memilih duduk bersama. Kelima anak muda itu memilih tempat nongkrong sendiri dan terpisah-pisah, namun ternyata saling berkomunikasi via MiRc –perangkat lunak berbayar untuk Internet Relay Chat atau percakapan daring yang beroperasi di sistem operasi Windows. “Kami biasa begini kalau di luar. Pura-pura enggak kenal,” ucap seorang diantara kelima remaja ini kepada Klik Samarinda, terkekeh.

Remaja berkulit putih dan berwajah tampan tersebut adalah satu diantara sosok yang berada di balik eksistensi situs/web bernama www.kawalrusmadi.com –sebuah kanal informasi dunia maya yang mengkampanyekan sosok Rusmadi di kontestasi Pemilihan Walikota Samarinda tahun depan. (Klik juga: Merangkul Milenial Lewat Brand Lokal: Memberdayakan Kreativitas)

Rekan sejawatnya yang lain, adalah support person yang telah memiliki job masing-masing dalam project kolektif ini. Di manapun mereka berada, aktivitas inilah yang mereka lakukan. Nyaris 24 jam. Beberapa rekan FE101 lain di saat yang sama juga sedang menjalankan tugas membuat karikatur dan buzzer konten di lokasi terpisah.

FE101 —profile nickname yang terdapat dalam MiRc remaja tadi– adalah nama yang digunakannya untuk berinteraksi kepada Klik Samarinda setelah berminggu-minggu media ini mencoba mewawancarainya secara langsung via surel. Keputusan memenuhi permintaan Klik Samarinda sendiri diakuinya setelah berembuk dengan rekan-rekannya yang lain.

Menurut FE101, apa yang ia lakukan dan keempat rekannya merupakan hal biasa. Di Pemilihan Presiden 2014 dan 2019, FE101 dan rekan-rekannya juga terlibat menyokong Joko Widodo di Kalimantan Timur. “Bedanya, ini social job. Kami enggak dibayar, dan emang enggak mau dibayar. Kami bilang ini project idealis sih, karena menyangkut tempat kami lahir dan besar,” tuturnya.

Ada pelbagai alasan mengapa FE101 dan rekannya mendukung Rusmadi secara cuma-cuma alias gratis. Selain karena pilihan politik, Rusmadi –kata mereka– dianggap punya catatan bersih. “Diantara kami dulu ada yang jadi relawan beliau waktu pilgub (pemilihan gubernur Kaltim, Red.) dan pileg (pemilihan legislatif, Red.). Kata mereka sih beliau sempat marah-marah di grup WA (WhatsApp, Red.) waktu ada ide beli suara buat menang,” ujarnya. “Entah benar atau enggak, saya pikir sih itu cool aja. Hari gini mana ada politik yang gratis. Tapi beliau ternyata punya attitude yang beda soal itu,” timpal FE101.

Menurutnya, kolektif kerja yang mereka bangun bukanlah bagian dari tim sukses Rusmadi. Sebab, mereka sendiri memilih tidak show off di depan publik dan tidak ingin diketahui secara personal. “Kalau timses kan wajahnya muncul melulu di media tuh. Kami sih bukan timses. Profesi kami masing-masing di dunia nyata juga tidak memungkinkan untuk itu. Lebih baik, ya, silent aja. Kayak secret societies,” sebutnya, tertawa.

FE101 enggan menyatakan secara eksplisit apakah di kolektif kerja tersebut –salah satu diantaranya– ada beberapa hacker. “Ya, lihat saja nanti. Tapi untuk ‘jaga’jaga’ sah aja kan?” terangnya.

“Jaga-jaga”? FE101 tak memungkiri dalam setiap kontelasi politik psywar sering terjadi. Meski, untuk skala Samarinda, kejadian itu kecil terjadi. Sebab, “pemain” dalam bidang ini masih bisa dihitung dengan jari. “Pilgub kemarin ekskalasinya enggak begitu masif di dunia maya. Ada paling cuma 1 sampai 2 akun doang. Itupun enggak banyak yang respon,” ungkapnya.

FE101 berharap, pilihan politik mereka tidak salah. Sebab, ada visi besar yang mereka titipkan kepada Rusmadi untuk perubahan Samarinda. “Perwakilan kami pernah bertemu beliau beberapa kali. Kami titip program kayak Smart City itu benar-benar terealisasi. Jangan cuma kalimat doang di baliho. Karena itu berhubungan dengan dunia kami, hobi kami. Mungkin juga masyarakat kita,” katanya. “Jujur aja, untuk nyari WiFi gratis di Samarinda ini sulit sekali. Kami bisa aja tembus sistemnya. Tapi kan itu sama aja dengan tindak kriminal,” tukas FE101. (*)