News Politik

Merangkul Milenial Lewat Brand Lokal: Memberdayakan Kreativitas (2)

Tak banyak yang tahu jika Rusmadi memiliki tim yang bergerak di balik layar. Tak seperti kebanyakan kelompok kepala daerah, mereka adalah kolektif milenial progresif yang punya kemampuan mumpuni dipelbagai bidang. Kecemasan terhadap perubahan Samarinda yang kian radikal namun tanpa makna ternyata menyatukan mereka.

DALAM sejumlah kesempatan, Rusmadi berkali-kali mengaku partisipasinya ikut serta dalam konstelasi Pemilihan Walikota Samarinda 2020 tak lepas dari kelompok ini. Merekalah, ucap Rusmadi, yang meyakinkan dirinya untuk duduk di Balai Kota dan berpihak pada kepentingan milenial.

Kelompok ini sendiri resmi berdiri 10 Oktober 2019, himpunan dari milenial otonom dan relawan Rusmadi saat Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur 2018 dan Pemilihan Legislatif 2019.

Di belakang sosok Rusmadi, mereka berkreativitas secara bebas. Membuat kanal informasi sendiri berupa web/situs, membuat konten untuk sosial media, dan lain sebagainya. Bahkan, kelompok milenial ini juga memiliki kolektif kerja yang khusus bertugas di lapangan untuk menghimpun dukungan milenial.

Saat diwawancara Klik Samarinda, Selasa 3 Desember 2019 lalu, via seluler, Rusmadi mengatakan beberapa kali berjumpa dengan perwakilan kelompok ini. Rusmadi sendiri tak mengenal siapa sosok tersebut. Pun mengetahui siapa saja orang-orang yang terlibat di dalamnya.

“Saya cuma tahu perwakilannya saja, sisanya saya tidak tahu. Di mana mereka kerja, bagaimana cara mereka saling koordinasi, dan memutuskan sesuatu. Semua saya bebaskan, tidak ada intervensi apapun. Saya cuma sempat terkejut saat tahu ada begitu banyak orang di dalamnya yang terlibat, dengan disiplin ilmu yang bermacam-macam,” urai Rusmadi.

Ditengah kencenderungan antipolitik dari sebagian besar milenial Samarinda saat ini, Rusmadi bersyukur masih ada sekelompok remaja yang justru melek terhadap politik. Terlepas dari peran relawan, Rusmadi melihat ada harapan dari Generasi Z ingin berpartisipasi dalam pembangunan Samarinda.

“Saya berharap keberadaan mereka menjadi titik balik milenial lainnya untuk berpartisipasi dalam pilwali nanti. Setidaknya, ikut datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara, Red.) dan memilih pemimpin yang mereka pilih,” sebutnya.

Rusmadi menjelaskan, memberdayakan kreativitas milenial merupakan satu dari sekian visinya 5 tahun mendatang. Itu musababnya ia mengaku tidak banyak memberikan arahan maupun intervensi kepada kolektif kerja ini.

“Mereka minta ingin kerja secara otonom. Itu alasan saya membebaskan apa yang mereka buat. Cuma tetap saya ingatkan jangan menyinggung yang lain. Itu yang tidak bisa saya tolerir,” ujar Rusmadi. “Saya justru terima kasih karena ada yang membantu. Apalagi dari kalangan milenial,” timpal Rusmadi.

Bagi Rusmadi, memberdayakan kreativitas adalah poin penting dalam program Kota Madani –Maju, Berbudaya, dan Harmoni. Melalui The Spirit of River City, Rusmadi ingin menciptakan kantong sumber Pendapatan Asli Daerah yang baru. Salah satunya mendorong industri kreatif di Samarinda yang diawaki kalangan milenial. “Saya sudah keliling melihat usaha mereka. Bagus-bagus kok. Produk mereka saya rasa sangat laik jual dan kompetitif,” bebernya.

Ditanya soal bayaran, Rusmadi menegaskan tak ada transaksi apapun dalam wujud nominal. Kolektif kerja ini justru tak ingin dibayar dan hanya menitipkan program Smart City agar benar-benar terealisasi.

“Itu saja yang mereka minta. Tidak ada yang lain. Sebelum saya ngomong budget mereka sudah bicara duluan, tidak mau dibayar. Saya dengar karena masing-masing mereka sudah banyak yang bekerja,” jelas Rusmadi. (*)