News Politik

Merangkul Milenial Lewat Brand Lokal: Pelopor Gerakan (1)

Lupakan sejenak soal konstelasi politik Pemilihan Walikota Samarinda 2020. Disadari atau tidak, Rusmadi –dengan konten video KAmis WAktunya mileniaL (KAWAL) di channel Youtube Kawal Rusmadi– menjadi sosok yang mempelopori gerakan mengangkat brand lokal dari “keterasingan” di Samarinda.

STORE itu terletak di Jalan Antasari. Namanya Moodzy. Penggawanya adalah Feri, anak muda yang nekat membangun brand dan produk sendiri dengan modal sekira Rp 48 juta bersama ketiga kawannya.

Dalam video yang diunggah di channel Kawal Rusmadi, Feri menceritakan bagaimana proses panjang sejak 2015 itu akhirnya membuahkan hasil. Desain produk yang diciptakannya diminati kalangan milenial di Samarinda. Mulai dari t-shirt, shoes, mini waistbag, totebag, dan lain-lain. “Proses produksi masih dilakukan di Bandung (Jawa Barat, Red.),” katanya, dalam video itu.

Feri mengakui, awalnya ia menjual pelbagai produk dari Kota Kembang. Namun menginjak tahun ke 5 eksistensi Moodzy, Feri melakukan akselerasi dengan menjual produk terjangkau sesuai kantong milenial. “Jadi kalah ngasih diskon bisa besar,” ucapnya.

Strategi ini ternyata menarik atensi. Mereka yang biasa membeli produk Moodzy bahkan rata-rata adalah pelanggan. “Kalau kami mengeluarkan artikel baru, mereka excited,” jelas Feri. “Kami (Moodzy, Red.) bukan apa-apa. Kami berharap support teman-teman di Samarinda,” timpalnya.

Di lain tempat, ada Instinct. Beroperasi di Jalan Revolusi, footwear and store ini tak kalah mentereng di luar Kalimantan Timur dan luar negeri. Produk utamanya adalah shoes alias sepatu, yang dipakai oleh para skateboarder.

Ardian a.k.a. Bento, Chief Executive Officer Instinct menceritakan usahanya dimulai karena ia hobi bermain skateboard. Dari titik itu, ia kemudian sering menjual brand sepatu di Samarinda milik kawannya yang berdomisili di Bandung. “Dia nawarin, kenapa enggak bikin brand sendiri? Saya kan enggak mau ribet tuh. Saya tolak awalnya,” aku Bento.

Dua tahun penolakan itu dilakukan, Bento kemudian memutuskan mencoba peluang di depannya. Sekira 50 buah sepatu dengan dua desain, kemudian dirilis kali pertama dengan modal sekira Rp 5 juta. “Sebulan habis. Saya titip ke toko teman-teman di Samarinda awalnya,” terangnya.

Kini, Instinct bisa memproduksi sekira 1200 sepatu setiap 2 bulan. Menariknya, sepatu buatan milenial Samarinda ini telah melanglangbuana hingga ke Jakarta, Bandung, Bekasi, Solo, hingga Yogyakarta. Bahkan untuk model produk sepatu ini menampilkan model anak muda dari luar negeri. “Kalau di Kalimantan, ada di Pontianak, Banjar Baru, Palangkaraya,” bebernya. (Bersambung)