Warta

Spanduk “Merdeka dari Krisis Iklim” Terbentang di Samarinda, Transisi Energi Dianggap Palsu

KLIKSAMARINDA – Sebuah spanduk merah bertuliskan “Merdeka dari Krisis Iklim” terbentang pada dinding flyover Jalan Ir. H. Juanda Samarinda, Minggu 17 Agustus 2025.

Tampilan yang menyita perhatian para pelintas jalan di kawasan sibuk tersebut merupakan bagian dari aksi simbolik kampanye lingkungan hidup para aktivis lingkungan di Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) yang mewarnai momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.

Aksi ini dilakukan kelompok XR Bunga Terung Kaltim sebagai bentuk seruan agar Indonesia segera terbebas dari dampak krisis iklim yang kian mengkhawatirkan.

XR Bunga Terung menilai meski bangsa telah merdeka selama delapan dekade, masyarakat Indonesia, khususnya Kaltim, belum merdeka dari ancaman kerusakan lingkungan akibat energi fosil dan deforestasi.

Indonesia memang menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen pada 2030 melalui upaya sendiri, dan 43 persen dengan bantuan internasional.

Namun hingga akhir 2024, bauran energi baru terbarukan hanya mencapai 14 persen. Angka ini dinilai masih jauh dari target, yaitu 23 persen.

XR Bunga Terung menganggapnya sebagai bukti nyata bahwa Indonesia masih bergantung pada energi ekstraktif seperti batubara.

Dalam pernyataan tertulis, XR Bunga Terung menyoroti transisi energi yang dinilai masih bersifat palsu, termasuk di Kaltim.

“PLTS yang diterapkan di Kalimantan Timur kenyataannya justru tidak berjalan dengan lancar dan masih bergantung dengan PLTU, seperti Masjid Babburahman, Taman Para’an, dan lain sebagainya. Penggunaan panel surya juga justru memperpanjang nafas ekstraktivisme di Kalimantan Timur, sebab bahan dasarnya yang berasal dari tambang pasir silika membuat solusi EBT menjadi solusi palsu transisi energi,” ungkap XR Bunga Terung dalam keterangan tertulis, Minggu 17 Agustus 2025.

Dengan mendasarkan pada data Auriga Nusantara, XR Bunga Terung menyatakan Kaltim telah menjadi provinsi dengan tingkat deforestasi tertinggi di Indonesia pada 2024.

“Deforestasi Indonesia pada 2024 teridentfikasi seluas 261.575 hektare dengan Kalimantan Timur menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan
luas deforestasi tertinggi di Indonesia,” demikian ungkap XR Bunga Terung.

Dampaknya terlihat pada kualitas sungai Mahakam yang semakin terbebani aktivitas tambang dan lalu lintas tongkang setiap hari.

Bekas galian tambang juga dibiarkan terbuka, mencemari aliran anak sungai tanpa upaya reklamasi sesuai aturan izin usaha pertambangan.

Para aktivis lingkungan karena itu menyerukan empat tuntutan utama.

1. Transisi energi bersih dan upaya mengatasi dampak perubahaan iklim dalam berbagai konferensi dunia seperti Paris Agreement, COP29 adalah solusi palsu transisi energi.

2. Menuntut penghentian penggunaan energi fosil (batubara, pasir silika, nikel, dll) dan segera beralih pada energi yang berkeadilan.

3. Segera lakukan tindak lanjut atas lubang-lubang tambang yang ditinggalkan begitu saja oleh perusahaan pertambangan tanpa adanya reklamasi sesuai dengan IUP yang ada.

4. Segera lakukan pemulihan atas kerusakan yang terjadi pada ekosistem sungai di Kalimantan Timur dengan menghentikan laju deforestasi serta alih fungsi lahan yang berlebihan.

XR Bunga Terung menganggap momen kemerdekaan ini tepat untuk mengingatkan masyarakat bahwa perjuangan belum selesai.

Jika di masa lalu bangsa Indonesia berjuang melawan penjajahan, maka kini tantangan baru adalah melawan ancaman krisis iklim yang nyata dirasakan.

Dengan membentangkan spanduk di ruang publik, para aktivis berharap pesan sederhana “Merdeka dari Krisis Iklim” menjadi refleksi bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya lepas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari ancaman lingkungan yang menggerus masa depan generasi mendatang. (*)

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker