Opini: Rizal Effendi 

Saya tidak bisa membayangkan jika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sudah berlangsung masif, betapa ramainya orang menyerbu kepiting saus Dandito. Sebab, kepiting Dandito sudah pernah masuk Istana Negara Jakarta dan direkomendasikan sebagai menu yang “wajib” disantap jika singgah di Balikpapan.

Masakan kepiting Dandito terpilih sebagai salah satu menu hidangan utama Istana pada resepsi  peringatan HUT ke-71 RI  tahun 2016, yang diselenggarakan Presiden Jokowi. Dua bulan setelah saya dilantik menjadi wali kota periode kedua. Saya dan Pak Rudi lengkapnya Rudy Setiawan (62), pemilik Dandito bangganya luar biasa. “Ini kehormatan besar, sekaligus ajang promosi luar biasa,” kata Rudy, yang sempat menjadi ketua Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Balikpapan.

Sekarang Ibu Kota Negara pindah ke Sepaku, PPU, Kaltim. Tidak jauh dari Balikpapan yang jadi kota penyangga. Malah setiap orang yang mau ke IKN, ya turun lewat Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan. Jadi sudah pasti makannya di kota ini. Kalau saatnya ingin makan, maka salah satu yang jadi pilihan pasti Restoran Kepiting Dandito di Jalan Marsma R. Iswahyudi, yang memerlukan waktu hanya 5 – 10 menit dari Bandara Sepinggan.

Saya sudah beberapa kali membawa tamu IKN ke sana. Termasuk anggota DPR RI Ahmad HM Ali, yang juga wakil ketua umum Partai Nasdem, partai saya. “Nanti saya ditunggu di Dandito ya,” kata Pak Ali sebelum terbang dari Jakarta.

Saking populernya, Dandito sudah jadi tempat pertemuan. Itu bukan Pak Ali saja. Tamu lain juga begitu. Kalau datang atau mau pulang, maka tempat pertemuan dan perpisahannya di Kepiting Dandito. “Ya tamu IKN makin banyak, saya sampai kewalahan,” kata Rudy.

Saya berteman baik dengan pengusaha kuliner yang jatuh-bangun meniti usaha dan kariernya ini. Bahkan juga dengan istrinya, Yuli Setiawati, dulu sering bareng bermain tenis. Seperti Rudy yang juga senang berolahraga, Yuli selain tenis, juga pernah jadi atlet andalan Kaltim di cabang bowling. Dia pernah meraih juara nasional dan menyumbang medali pada arena PON.

Ketika saya singgah di Dandito beberapa waktu lalu, Rudy mengajak saya bernyanyi. Rudy juga pemusik. Dia jago bernyanyi dan memetik gitar. Sambil menikmati masakan kepiting, saya sempat tanya buah kesukaan saya nangkadak. Kebun wisata Rudy di Km 23 ada tanaman nangkadaknya. Saya sering diberi. Nangkadak adalah hasil persilangan nangka dan cempedak, sehingga buahnya lebih besar dan lebih manis. Maklum buah hibrida yang terbilang langka.

Kepada saya, Rudy mengatakan dia memang sudah mempersiapkan kiat-kiat apa saja yang akan dilakukannya untuk menangkap peluang usaha dari pembangunan IKN. “Ini kesempatan kita benar-benar menjadi pengusaha kuliner kelas nasional bahkan internasional,” tambahnya.

Rudy berencana mengembangkan usahanya di kawasan IKN. Dulu dia sempat buka di beberapa tempat termasuk juga di Bali.

Pemerintah Kota Balikpapan beberapa kali memberikan penghargaan kepada Rudy atas segala prestasi, pengabdian, dan kepeduliannya dalam ikut mempromosikan dan memajukan Kota Balikpapan. Pada HUT Kota ke-121 tanggal 10 Februari 2017, ada jalan dua jalur di kawasan Pantai Manggar yang diresmikan dengan nama Jalan Dandito. Maklum sebagian lahan itu dibebaskan berkat dukungan Rudy.

Ada yang bertanya apa arti nama Dandito itu? Ternyata nama itu muncul di benaknya terinspirasi dari nama anak kedua, Dandi. Hasil perkawinan dengan Yuli, Rudy memperoleh dua anak. Selain Dandi, ada kakaknya Gifta. Bahkan Gifta sudah berkeluarga dan baru saja melahirkan putra pertamanya. “Alhamdullilah saya sudah jadi kakek,” katanya bahagia.

 Teori Setengah Mati

Hampir sebagian orang sukses, awalnya berjuang setengah mati. Itu termasuk yang dialami Rudy. Dia orang yang mau bekerja keras, berani mencoba, dan tidak patah semangat. Rasanya tidak seberapa dengan perjuangan yang pernah saya lakukan. Meskipun dulu waktu kecil, kehidupan saya juga sangat berat, mulai jualan kue  –sama dengan orang tua Rudy-  sampai jadi wartawan dan wali kota.

Rudy sempat menggelandang di Pelabuhan Samarinda setelah merantau dari kampung halamannya di Jember, Jawa Timur. Lalu ditolong oleh seorang tentara yang membawanya ke Balikpapan. Sempat tiga hari bekerja di bioskop berhenti lagi.

Dia sempat menjadi pekerja bangunan di sebuah perusahaan migas di Muara Badak. Lalu tahun 1982 diangkat sebagai karyawan tetap dan bahkan sempat menjadi sekretaris manajer. Delapan tahun kemudian dia kena pemangkasan karena perusahaan mengalami penurunan.

Dari situ dia terinspirasi mau berwirausaha. Dan balik ke Balikpapan. Tidak langsung jualan kepiting. Tidak kurang ada 10 jenis usaha kecil-kecilan dia rintis. Mulai jualan nasi pecel, nasi campur, sate, steak, sembako, hingga pakaian. Semua berakhir dengan kegagalan.

Baru terakhir dia mencoba jualan masakan kepiting. Dia tahu kepiting banyak di daerah ini. Apalagi sudah ada yang sukses berjualan masakan kepiting, seperti Restoran Kepiting Kenari, yang tidak jauh dari lokasi Dandito di Jl Iswahyudi sekarang ini.

Berkat banyak relasi, Rudy dipinjami bahan-bahan dari temannya termasuk modal. Ada yang meminjami rempah-rempah atau bumbu, ada juga beras. Modal awal bahan utamanya kepiting hanya seberat 5 kg. Lalu dia berkolaborasi dengan juru masak untuk menemukan menu terbaik, yang akhirnya sampai jatuh ke menu saus kepiting, yang terkenal itu.

Selain saus kepiting, sebagian orang termasuk saya juga suka dengan menu kepiting sokanya, yang dimasak goreng tepung. Kepiting soka atau kepiting cangkang lunak adalah istilah kuliner untuk kepiting-kepiting yang baru berganti kulit. Jadi kalau dimasak sangat lunak.

Karena keberhasilan usahanya berkat teman-teman dan relasi, Rudy memperkenalkan cara berusaha itu sebagai teori 267. Dalam tangga nada, 267 itu dibaca re-la-si. “Ini saya pegang erat sampai sekarang, untuk sukses tetap menjaga hubungan baik dengan relasi,” katanya.

Di tengah kesibukannya, Rudy juga memelopori olahraga paramotor. Dia membentuk klub Dandito Team. Rutin beratraksi di angkasa Pantai Manggar untuk menambah atraksi objek pariwisata. Sesekali dia tampil dalam kegiatan upacara HUT Kota atau event lainnya. Latihannya di Pantai Ambalat. “Glen Roy Nirwan juga ikut, kalau mau bergabung datang ke sini,” kata Rudy mengajak saya.

Ketika wabah Covid-19 memuncak tahun 2020 dan 2021, Rudy mengakui omzet kepitingnya menurun karena adanya pembatasan. Dia sendiri banyak berkutat di perkebunan wisatanya, Gifta Garden di Km 23 seluas 4 hektare. Di situ dia asyik menanam sejumlah sayur dan buah-buahan, rambutan, durian termasuk nangkadak tadi. Malah ada restorannya dan rumah villa, yang bisa disewa. “Saya juga mau menanam sorghum,” katanya.

Yang menarik Rudy mendatangkan beberapa ekor kuda dan membentuk klub kuda El Caballo Dandito. Caballo itu dalam bahasa Spanyol artinya kuda. “Saya maunya orang datang ke sini, bisa juga naik kuda. Karena kuda terbilang langka di daerah ini,” jelasnya. Rudy juga merasa berkuda itu juga menjalankan sunah Nabi, olahraga yang tak lekang dengan waktu.

Waktu saya jalan-jalan bersama keluarga ke sana, cucu saya Defa dan Dafin sempat menaiki kudanya Dandito. Rudy sendiri yang mengawal. “Saya mau di sini ada sekolah kuda, biar anak-anak menyukainya,” kata Rudy bersemangat. Apalagi setelah itu makan kepiting telur saus Dandito. Lengkap sudah kenikmatannya. Pasti kudanya meringkik-ringkik sampai tak terasa kepitingnya mencapit. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status
error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda.@gmail.com