Stadion Palaran, Kemegahan Yang Minim Pemeliharaan – KLIK SAMARINDA
Fokus

Stadion Palaran, Kemegahan Yang Minim Pemeliharaan

(Last Updated On: August 6, 2019)

Pembangunan kerap menyisakan optimisme. Di Kalimantan Timur (Kaltim) pun demikian. Contoh yang masih dapat teraba saat ini adalah Stadion Utama Kaltim Palaran Samarinda. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim membangun Stadion Utama Palaran menjadi bagian Kompleks Olahraga Kompleks Stadion Utama Kaltim untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII. Presiden RI waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono, meresmikan penggunaannya pada 18 Juni 2008.

Stadion ini berkapasitas 67 ribu penonton. Bagi Kaltim, Kompleks Stadion Palaran merupakan satu sejarah bagi perkembangan olahraga nasional. Stadion dengan harga Rp3 trilyun ini menempatkan Kaltim menjadi sorotan nasional karena pertama kali menggelar PON yang terbagi di 4 kota di Kaltim. Pun, pembangunan infrastruktur olahraga besar-besaran ini menjadi daya tarik warga waktu itu karena Kaltim akan memiliki dua kompleks olahraga yang berdiri megah, Kompleks Olahraga Stadion Madya Sempaja dan Stadion Utama Kaltim di Palaran.

Pembangunan pun bergulir dalam menyambut perhelatan 43 cabang PON 2008. Arena olahraga berstandar internasional. Kaltim lantas menjelma menjadi primadona olahraga Indonesia. Publik kala itu tertuju kepada kualitas Stadion Utama Kaltim yang terletak di Palaran, Samarinda Seberang. Wujudnya, tribun dua tingkat dengan 67 ribu tempat duduk yang memakai single teater. Arsitektur ini terhitung lebih dulu daripada single teater di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK atau Senayan Jakarta).

Standard internasional pada stadion di Palaran itu nyatanya hanya label semata. Ajang internasional yang rencananya akan digelar di tempat ini tak pernah mewujud. Menyusul kemudian, kemegahan stadion kebanggaan rakyat Kaltim ini mulai memudar. Penggunanya pun berkurang. Stadion Utama Palaran hanya pernah menggelar laga Timnas Indonesia U-19 melawan Persisam Putra U-19. Di luar moment nasional itu, stadion ini pernah dijadikan kandang oleh tim Liga 1 Persiba Balikpapan dan Borneo FC. Selebihnya, Stadion Utama Palaran hanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk pertandingan pesahabatan antar tim lokal.

Kondisi lapangan stadion pun tampak tak terawat. Rumput lapangan berjenis Zoysia matrella kini sudah tidak terlihat hijau rata. Warna hijau lapangan sudah memudar dan terganti dengan warna pasir coklat pda bagian-bagian tertentu. Rumput liar setinggi sekitar 40 sentimeter justru tumbuh subur menghiasi sekeliling luar stadion utama. Di sisi lain, arena atletik delapan lajur yang mengelilingi lapangan utama juga sudah terlihat kusam. Papan skor digital yang berdiri tegap di sisi utara stadion pun tampak kusam. Sementara bangunan utama stadion bertabur retakan.

Tak sedikit warga di Kaltim yang menyayangkan kondisi stadion kebanggaan warga Kaltim itu. Kondisi lapangan stadion memerlukan perhatian dan recovery dari pihak yang bertaggung jawab. Misal, bagi Abdulrahman Amin, warga yang kerap berolahraga di lapangan sepak bola. Abdulrahman Amin menilai, stadion tersebut merupakan aset daerah yang dapat bermanfaat khususnya untuk menarik pendapatan dari pemanfaatannya. Dia menyesalkan adanya masalah dalam pengelolaan Stadion Utama Palaran. Abdulrahman Amin bahkan mengusulkan agar stadion ini dikelola oleh pihak swasta sehingga pemanfaatannya juga akan lebih optimal.

“Sangat menyayangkan. Tidak ada upaya untuk melakukan pemeliharaan aset daerah ini. Kita tahu, biaya pembangunannya mencapai Rp3 trilyun. Kalau dikonversikan dengan APBD, itu bisa satu tahun APBD kabupaten/ kota. Ini merupakan aset yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh beberapa daerah. Tapi kurang dimanfaatkan. Kalau diberikan ke perusda (perusahaan daerah) mungkin bisa bermanfaat karena atusiasme masyarakat Samarinda dan Kaltim dalam berolahraga khususnya sepak bola itu sangat tinggi,” ujar Rahman, sapaannya, Selasa 6 Agustus 2019.

Pandangan miring terhadap kondisi Stadion Utama Palaran yang terbengkalai itu memiliki pelbagai penyebab. Satu di antaranya terkait pemeliharaan terhadap aset senilai Rp3 triliun itu kurang maksimal. Alasannya adalah faktor anggaran yang kurang untuk pemeliharaan. Meski begitu, pemeliharaan yang dibebankan kepada Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Komplek Stadion Utama dan Madya (PKSUM) Dinas Pemuda dan Olahraga (Dipora) Provinsi Kaltim ini, tetap berlangsung. Kepala UPTD PKSUM, Sayid Husein Sadly, membantah jika pihaknya membiarkan stadion seluas 88 hektare itu tak dipelihara. Sadly mengakui ada beberapa bagian yang memerlukan pendanaan ekstra. Sehingga, pihaknya melakukan perawatan yang sesuai dengan anggaran yang ada.

“Ya, selama ini yang kita lakukan hanya maintenance biasa, memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil. Jadi, memang kita berusaha semua, termasuk stadion Madya di sini. Ya, saya katakan tadi, mengelola stadion tidak sedikit budgetnya. Kita bisa membangun, tapi memelihara perlu anggaran ekstra,” ujar Sadly ketika ditemui Senin 5 Agustus 2019.

Berupaya mendapatkan pembiayaan pemeliharaan yang optimal, UPTD PKSUM telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) agar melakukan audit building. Audit ini penting untuk mengetahui standardisasi gedung dan struktur bangunan. Upaya serupa telah berlangsung sejak stadion berdiri. Namun, gelombang defisit APBD Kaltim menyurutkan langkah itu sehingga biaya pemeliharaan stadion tak optimal.

“Pembiayaan itu terkendala karena APBD Kaltim terkadang mengalami defisit. Kita harapkan pembiayaan ini maksimal. Sejak tahun 2008, sedikit saja yang bisa kita lakukan. Tapi untuk pembenahan total, kondisinya memang perlu perawatan. Kami berusaha juga berkoordinasi melalui Dinas PU untuk minta audit building. Jadi, bisa diketahui bagaimana standardisasi gedung di sana. Kami kurang paham tentang struktur bangunan. Mudah-mudahan, dengan adanya audit dari Dinas PU, bisa membantu kita,” ujar Sadly.

Soal lainnya di Komplek Stadion Utama Palaran adalah fasilitas olahraga. Sejak tahun 2012 lalu, fasilitas olahraga yang ada di Stadion Utama Palaran telah dimanfaatkan, khususnya untuk Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kaltim. Komplek Stadion Utama Palaran sudah digunakan oleh para atlet SKOI untuk berlatih.

Kepala SKOI Kaltim, Suprayogi menerangkan, sejak menggunakan eks fasilitas PON 2008, pihaknya menerima kondisi bangunan yang terlihat mulai retak. Plafon rusak hingga lantai bangunan yang kotor akibat debu yang tidak pernah dibersihkan. Meski begitu, menurut Suprayogi, harus diakui bahwa luasnya kompleks Stadion Palaran membuat komplek stadion ini terlihat tidak terurus. Suprayogi membantah jika seluruh fasilitaas peninggalan PON 2008 ini terbengkalai. SKOI sendiri, menurut Suprayogi, tidak memiliki anggaran untuk melakukan pembersihan. Untuk lokasi latihan, para atlet SKOI tetap menjaga kebersihan karena turut memanfaatkan stadion.

“Terbengkalai itu, kan dalam artian sama sekali tidak termanfaatkan. Ini masih termanfaatkan. Alhamdulillah, kita di SKOI itu pemanfaatan gedung masih termanfaatkan. Tidak terbengkalai sama sekali,” ujar Suprayogi, saat ditemui di lapangan komplek Stadion Utama Palaran, 5 Agustus 2019.

Saat ini, pihak SKOI berupaya mengoptimalkan penggunaan komplek Stadion Utama Palaran. Misalnya, para atlet menggunakan gedung bela diri Tarung Drajat. Mereka menggunakan satu lokasi berukuran 7 x 8 meter yang berada di lantai dua gedung bulutangkis. Di sini, sedikitnya ada 10 atlet SKOI yang berlatih setiap harinya.

Tidak jauh dari tempat atlet Tarung Drajat berlatih, ada atlet karate yang berlatih di lorong. Di bagian lain, 4 lapangan bulutangkis disulap menjadi tempat berlatih judo, gulat, dan senam. Tempat latihan atlet bulutangkis dilakukan di lorong luar gedung bercampur dengan atlet angkat besi. Namun, beberapa cabang olahraga hingga saat ini, tidak memiliki tempat berlatih dan harus berlatih di luar stadion.

“Ada kerjasama yang sangat baik, pasti bisa terakomodir semua cabor di Palaran. Karena memang itu sangat positif sekali. Dari 32 cabor yang ada, kurang lebih 5 cabor yang tidak punya tempat berlatih,” pungkas Suprayogi. (Jie)