Warta

Melintasi Danau Berbahaya untuk Kepastian Energi Masyarakat

Kutai Kartanegara, KLIKSAMARINDA – Sukardi sangat waspada dan berhati-hati saat melintasi Danau Melintang yang dipenuhi enceng gondok dan ilalang. Ia selalu mengingatkan motoris untuk berhati-hati karena kondisi danau yang dipenuhi tumbuhan dan akar yang dapat melilit baling-baling mesin perahu. Motoris pun harus sering mengangkat mesin perahu untuk menghindari kerusakan dan memastikan perjalanan tetap aman.

Bagai membelah sungai dengan perahu kertas, Sukardi terus maju walaupun hanya ada satu jalur selebar 80 centimeter atau sebesar bodi perahu motor yang mereka tumpangi jalan yang tersedia untuk menuju perkampungan nelayan yang berada di Muara Enggelam, sebuah pulau yang berada di tengah danau Melintang yang tidak memiliki daratan dan mayoritas penduduknya adalah nelayan.

Setelah melewati hamparan ilalang dan enceng gondok, tantangan berikutnya yang dihadapi Sukardi dan motoris adalah angin kencang yang menyebabkan ombak besar di Danau Melintang. Motoris harus memiliki kemahiran dan pengalaman yang baik untuk memilih jalur yang aman dan menghindari bahaya.

Perjalanan Sukardi dan motoris di Danau Melintang sangat berisiko karena ombak besar yang menghantam perahu mereka. Meskipun telah berpengalaman, Sukardi tetap merasa was-was dan khawatir akan keselamatan mereka. Pakaian yang dikenakannya sudah basah kuyup oleh air yang memercik ke dalam perahu, namun mereka terus berjuang untuk mencapai tujuan dengan selamat.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, rombongan Sukardi yang saat itu membawa 20 tabung elpiji 3 kilogram, 4 tabung elpiji 12 kilogram, dan 4 tabung elpiji 5 kilogram tiba di pintu gerbang Pulau Harapan di atas air.

Memasuki desa tanpa daratan yang berada di Danau Melintang ini terlihat semangat penduduk yang terus berjuang dan bertahan di tengah tantangan hidup di atas air, menunjukkan ketangguhan mereka dalam menciptakan kehidupan yang layak.

Perahu motor yang digunakan Sukardi harus melintasi sungai yang dipenuhi ilalang dan enceng gondok. (Foto: Suriyatman)

Suasana di sepanjang jalur sungai yang dilalui tampak sangat hidup dan berwarna-warni. Susunan hasil tangkap nelayan yang dijemur di depan rumah warga dan perahu-perahu yang tersusun rapi memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sungai dan hasil lautnya. Suara mesin dompeng dari perahu warga yang silih berganti juga menambah kesan dinamis dan aktivitas yang terus berlangsung di desa tersebut.

Desa dengan jumlah penduduk sekitar 725 jiwa tersebut menghadapi tantangan dalam distribusi kebutuhan pokok, termasuk gas LPG 3 kilogram sebagai sumber energi bersih. Penggunaan gas LPG ini menjadi pilihan setelah minyak tanah tidak lagi tersedia, sehingga warga beralih dari kayu bakar dan arang.

Distribusi gas LPG yang memadai sangat penting untuk mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat desa tersebut. Namun, distribusi gas LPG di daerah terpencil seperti ini bisa jadi sulit karena keterbatasan infrastruktur dan transportasi.

Begitulah perjuangan Sukardi pedagang gas LPG asal Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara yang sehari-hari mengangkut tabung gas melon ke desa-desa terpencil, termasuk Desa Muara Enggelam dan Desa Enggelam.

Pendistribusian LPG 3 kg di kawasan pelosok seperti Desa Muara Enggelam memang menjadi bukti nyata pentingnya akses logistik yang inklusif.

Peran para penyalur sangat penting dalam memastikan ketersediaan pasokan energi di masyarakat. Dengan adanya akses logistik yang baik, masyarakat dapat memperoleh energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dengan lebih nyaman dan produktif.

Para penyalur ini menjadi tulang punggung dalam menjaga kelancaran distribusi energi, terutama di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Sukardi mengangkut sekitar 250 tabung gas setiap minggunya, dengan dua kali perjalanan bolak-balik tergantung jadwal dari agen dan cuaca.

Sukardi merasa sedih karena harga gas elpiji yang dijualnya masih jauh dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp19.500. Namun, ia merasa bahagia karena harga yang ditawarkan saat ini masih bisa membantu masyarakat mendapatkan gas elpiji dengan harga yang lebih terjangkau. Meskipun tidak ideal, setidaknya Sukardi bisa berperan dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan energi mereka.

“Padahal masih banyak daerah di sekitar danau yang masih belum bisa mendapatkan pelayanan karena keterbatasan stok yang tersedia. Dari itu sejak beberapa waktu lalu kami sudah meminta kepada Pertamina untuk dilakukan penambahan kuota untuk masyarakat di sekitar Danau Melintang dan Danau Semayang,” kata Sukardi.

Sukardi menjelaskan bahwa harga gas LPG di Kota Bangun bisa lebih mahal jika warga membelinya langsung di sana, terutama jika mereka membeli dari pengecer yang harganya lebih tinggi dibandingkan dengan harga agen. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi gas LPG yang dilakukan oleh Sukardi sebagai agen dapat membantu masyarakat mendapatkan harga yang lebih kompetitif.

Dari itu ia berharap pemerintah dapat memberikan subsidi solar untuk perahu distribusi gas LPG, sehingga biaya operasional dapat ditekan dan harga jual gas LPG di desa dapat lebih murah. Saat ini, harga gas LPG di Desa Enggelam bisa mencapai Rp30.000 per tabung, lebih mahal dibandingkan dengan harga di kota.

Sukardi menjalankan usahanya dengan penuh tanggung jawab sosial, karena ia tahu bahwa tanpa distribusi gas LPG, dapur-dapur di kampung bisa berhenti berfungsi. Ia telah melakukan penyesuaian dengan mengatur stok gas LPG agar tidak terlalu banyak, sehingga cukup satu perahu untuk mengangkutnya.

“Jadi tidak 250 tabung gas Elpiji dibawa semua ke sini. Kita bagi-bagi agar semuanya dapat dan tidak menumpuk di satu tempat saja,” jelas Sukardi.

Seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang, Anita pedagang gorengan di desa Enggelam mengaku bahwa ia kini tidak kesulitan mendapatkan gas elpiji untuk sumber energi di dapur. kehadiran gas elpiji telah mengubah banyak hal.

“Dulu kami harus menggosok panci yang gosong dengan abu gosok agar panci tetap bersih, selain itu memasak saat ini juga lebih cepat,” kata Anita.

Sebagai pelaku usaha, Anita mengaku setiap minggunya ia mendapat jatah dua tabung gas elpiji 3 kilogram.

Anita mengaku harga elpiji di desanya memang lebih mahal dibanding kota, namun ia bersyukur bisa mengakses energi yang lebih bersih. Bagi ibu-ibu di Enggelam, gas elpiji bukan sekadar tabung hijau. Ia adalah simbol kemajuan yang nyata.

“Saya berharap agar pasokan gas elpiji ke daerahnya bisa lancar, karena masyarakat sangat bergantung pada gas elpiji untuk memasak setelah minyak tanah tidak lagi tersedia. Dengan pasokan yang lancar, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa kesulitan,” jelas Anita.

Ahad Jabbar Syaifullah, Sales Branch Manager Gas Kalimantan Timur-Utara Patra Niaga, melakukan peninjauan langsung ke Desa Muara Enggelam untuk melihat distribusi LPG. Ia menyatakan bahwa desa tersebut bukan hanya unik secara geografis, tetapi juga menjadi simbol komitmen Pertamina dalam menghadirkan keadilan energi di pelosok negeri. Dengan komitmen ini, Pertamina berupaya memastikan bahwa masyarakat di daerah terpencil seperti Desa Enggelam dapat menikmati akses energi yang memadai.

“Melalui program One Village One Outlet (OVOO) adalah wujud komitmen itu. Setiap desa berhak atas akses energi, tanpa terkecuali,” kata Ahad.

Ahad menegaskan komitmen Pertamina bukan hanya menyalurkan energi, tapi juga memastikan keadilan akses hingga desa-desa terpencil.

“Kita ingin energi hadir dan adil untuk semua. Enggelam harus mendapat perhatian yang sama seperti kota-kota besar. Itulah amanat dari OVOO,” jelasnya.

“Setiap hari kami kirim sekitar 250 tabung LPG, dari total kuota bulanan 1.600 tabung,” jelas Ahad.

Selain LPG 3 kg bersubsidi, pangkalan di desa ini juga menyediakan LPG non-subsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg. “Kami ingin masyarakat tetap bisa mengakses energi meski tantangannya besar,” tambahnya.

Ahad juga menyebut pentingnya membangun pangkalan di Muara Enggelam, pintu masuk ke Desa Enggelam, mengingat pertumbuhan penduduk yang pesat. “Kami mulai dari yang jauh dulu. Setelah itu Muara Enggelam. Kami pastikan satu per satu masalah selesai, asal targetnya dikejar,” katanya.

Salah satu kendala utama adalah ketimpangan Harga Eceran Tertinggi (HET). Biaya logistik tinggi, namun harga masih mengacu pada SK 2022 yang dianggap tidak relevan.

“Hitungan per kilometer itu seharusnya sudah dihapus dari SK yang sama. Tapi di lapangan, harga masih dipatok seperti itu. Tanpa memperhitungkan beban distribusi yang berat,” ungkapnya.

“Kami ke sini untuk melihat langsung dan memahami apa yang warga rasakan.”

Ahad menegaskan bahwa Pertamina sebagai badan usaha hilir tidak berwenang menetapkan HET. Namun mereka aktif mendorong penyesuaian kepada pemerintah daerah. “Kami tidak bisa menetapkan HET, tapi kami datang ke desa-desa seperti Enggelam agar kondisi riil bisa jadi bahan pertimbangan kebijakan,” ujarnya.

Kehadiran program OVOO adalah menjamin satu pangkalan resmi LPG di setiap desa. Enggelam menjadi salah satu prioritas karena aksesnya sulit dan kebutuhannya besar. Namun realisasinya penuh tantangan, terutama karena sistem transportasi multimoda—darat, sungai, hingga udara.

“Distribusi ke daerah seperti ini tidak bisa pakai satu moda. Kadang pakai truk, kapal, bahkan pesawat. Tapi kami tidak menyerah. Tidak boleh ada alasan warga tidak bisa akses LPG,” tegas Ahad.

Di Kalimantan Timur, OVOO baru mencapai 100 persen di Balikpapan dan Samarinda. Di delapan kabupaten dan kota lainnya, masih banyak desa yang belum memiliki pangkalan resmi.

Ahad Jabbar Syaifullah menargetkan cakupan distribusi LPG 100% di seluruh Kalimantan Timur, namun hal ini bergantung pada ketersediaan kuota dari Migas ESDM dan kesiapan infrastruktur daerah. Ia juga menyadari bahwa kebutuhan masyarakat terhadap LPG terus meningkat seiring dengan kesadaran akan pentingnya energi bersih. Jika distribusi terhambat, dampaknya akan langsung terasa bagi masyarakat yang sangat bergantung pada LPG untuk kebutuhan sehari-hari.

Ahad Jabbar Syaifullah mengakui bahwa masih banyak desa di luar Balikpapan dan Samarinda yang belum tercakup dalam program distribusi LPG, seperti di Kabupaten Kutai Kartanegara yang masih banyak desa tanpa pangkalan resmi.

“Kami akan bekerja ekstra agar masalah ini bisa diselesaikan pada tahun ini. Dengan tekad yang kuat, Pertamina berupaya memastikan bahwa masyarakat di seluruh Kalimantan Timur dapat menikmati akses yang memadai terhadap LPG,” tegas Ahad Jabbar Syaifullah. (*)

Penulis: Suriyatman

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker