Opini

Konservasi Beruang Madu

Opini: Rizal Effendi

Saya datang ke Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH)  Km 23, Karang Joang,  Balikpapan, Kamis 9 Maret 2023, kemarin. Saya bertemu dengan Gabriella Frederikson, peneliti perilaku satwa asal Belanda, yang baru datang. Dia lama ikut menangani KWPLH zaman Wali Kota Imdaad Hamid sampai periode saya. Belakangan dia menjadi koordinator Program Konservasi  Orangutan Sumatera (SOCP).

Sudah lama saya tak bertemu dia. “Saya sudah tak lagi di Sumatera, sekarang lebih banyak di Eropa,” kata Gabriella, yang akrab dipanggil Gaby. Dia mengaku sangat senang bertemu saya. “Pak Rizal sehat ya? Saya sangat perlu bertemu,” katanya.

Gaby ternyata sangat kepikiran dengan nasib KWPLH terutama dari aspek pembiayaan. “Saya sangat sedih Pak Imdaad sudah tiada. Jadi saya mau sharing dan brainstorming dengan Pak Rizal,” katanya dengan wajah serius.

KWPLH dikenal sebagai pusat pendidikan beruang madu (Helarctos malayanus), yang terbaik di Asia. Mulai tahun 2004 dibangun atas kerjasama Pemkot Balikpapan dengan lembaga donor swasta dan para ahli margasatwa. Di antaranya Gaby dan Stanislav Lhota, peneliti laku hewan dari Republik Ceko.

Di kawasan lahan seluas 1,3 hektare itu dibangun sebuah enklosur alami, yang ditinggali tujuh beruang madu, yang sudah tidak dapat dilepasliarkan lagi ke alam. Gaby ikut menangani sang beruang, sehingga binatang yang menjadi maskot Balikpapan sejak 2002 tersebut survive lagi.

Pada tahun 2008 diresmikan Pusat Informasi Beruang Madu, yang terbesar dan sangat komprehensif di Asia dan diikuti pembukaan fasilitas pendidikan yang fokus pada hewan domestik dan satwa liar. Kemudian pada 2014, saya selaku wali kota, meresmikan pusat informasi baru yang fokus pada kekayaan flora dan fauna endemik Kalimantan di KWPLH.

Ketika saya datang, salah seekor beruang madu bernama Batik sedang asyik tidur-tiduran. Usianya sudah sekitar 26 tahun. Tak lama dia bangun dan tidak merasa terusik dengan kedatangan saya. Sambil menyusuri jembatan ulin sepanjang 500 meter, Gaby banyak bercerita kepada saya mengenai kelangsungan hidup KWPLH.

Saya kaget melihat ada tupai berekor merah meloncat di atas pohon. “Itu tupai endemik, memang ada yang berekor merah,” katanya. Ada juga terbang seekor burung berwarna hijau. Tak lama ada tiga ekor beruang madu keluar dari rumahnya. Mereka asyik bermain. Lucu sekali.

Udara di KWPLH sangat segar. Bau hutannya terasa, yang menyemburkan oksigen sehat. Saya jadi teringat bagaimana bangganya Gubernur Kaltim Dr Isran Noor sebagai provinsi pertama di Indonesia, yang menerima pembayaran karbon dari Bank Dunia. Kaltim bakal menerima pembayaran hampir Rp2 triliun bahkan bisa lebih karena masih ada kawasan hutannya yang dijaga dan dipertahankan.

KWPLH juga menjadi rumah kucing dan anjing liar, yang tadinya dibuang masyarakat karena sakit atau cacat. Mereka mendapat tempat di sana. Diberi makan dan dipelihara. Sehingga bisa berkembang seperti layaknya hewan lain.

Menurut Gaby, KWPLH yang ditangani Yayasan Pro Natura dalam kondisi yang berat terutama dari masalah pembiayaan. Sekarang ini sumber pendanaannya sangat terbatas. Tidak ada bantuan dari pemerintah. Donor luar juga sangat terbatas. Saat ini hanya Protelindo dari Jakarta yang masih berkenan membantu.  Padahal dibutuhkan dana sekitar Rp2 miliar setahun. Petugasnya pun berkurang. Dulu ada 40-an, sekarang tinggal 20 saja. “Singkatnya kita butuh partisipasi dari berbagai pihak terutama swasta,” jelasnya.

Gaby meminta dukungan saya untuk mengajak berbagai perusahaan swasta yang banyak memanfaatkan sumber alam Kaltim untuk memberikan perhatian terhadap peng ikut embangan KWPLH sebagai pusat pendidikan beruang madu, yang sangat berguna untuk kelangsungan hewan tersebut serta pengetahuan dan pendidikan buat anak cucu. “Para peneliti juga banyak datang ke sini,” jelasnya.

Kepada Gaby saya berjanji mencoba mengomunikasikan masalah itu dengan berbagai pihak terutama perusahaan-perusahaan besar batubara dan kelapa sawit seperti Gunung Bayan, Singlurus, KRN dan lainnya ikut berpartisipasi. “Saya coba bicara dengan Pak Gubernur. Apa bisa dana karbon pertama yang diperoleh Kaltim Rp320 miliar ada yang disalurkan ke KWPLH,” kata saya

Ada juga rencana saya mengajak Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Dr Myrna Asnawati Safitri datang ke KWPLH. Menurut saya, KWPLH bisa menjadi bagian dari konsep pembangunan IKN di bidang lingkungan hidup karena lokasinya tak jauh dari kawasan IKN.

Banyak Terbunuh

Beruang madu dikenal sebagai jenis beruang paling kecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Panjang tubuhnya sekitar 1,4 meter dengan tinggi punggungnya sekitar 70 cm. Beruang madu dewasa beratnya antara 50-65 kg.

Habitatnya terdapat di daerah hujan tropis di pulau Borneo, Sumatera, Indocina, Cina Selatan, Burma sampai Semenanjung Malaya. Tapi karena berbagai tekanan dan gangguan, populasinya semakin langka termasuk di Kaltim.

Dari pengamatan para ahli, beruang madu adalah jenis binatang omnivora yang memakan apa saja di hutan. Bisa memakan serangga, madu, burung dan buah-buahan hutan. Kalau makan buah, bijinya ditelan utuh dan dibuang lagi lewat kotorannya. Sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, karantungan dan jenis buah lainnya. Beruang madu juga punya andil besar dalam melestarikan hutan tropis.

Di kawasan hutan lindung Sungai Wain, buah hutan tersebut masih ada. Saya menyarankan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, selain menanam jengkol dan rambai di kawasan hutan IKN, juga berbagai jenis buah durian hutan seperti lai, lahung, dan karantungan.

Para ahli satwa mengungkapkan beruang madu termasuk binatang yang mudah diserang dan terancam kelangsungan hidupnya. Terutama akibat semakin menyusutnya kawasan hutan primer akibat kepentingan pertanian, perkebunan, dan pertambangan. Konflik dengan kepentingan manusia membuat beruang madu banyak terbunuh atau mati.

Ancaman lain bagi beruang madu adalah perburuan. Bagian tubuh beruang madu seperti kantung empedu serta cairannya banyak diperdagangkan secara gelap untuk memenuhi permintaan pasar pengobatan tradisional. Konon khasiatnya untuk berbagai penyakit sangat ampuh. Ada juga yang bilang untuk kekuatan laki-laki.

Konservasi beruang madu masih sangat jarang dilakukan. Sejak tahun 1979 hewan ini dimasukkan CITES sebagai hewan yang tidak boleh diburu atau diperdagangkan oleh siapapun. Termasuk juga tidak boleh dipelihara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
DMCA.com Protection Status