HM Syahrun Meninggal Dunia, Simak Jejak Pengabdiannya di Kalimantan Timur
KLIKSAMARINDA – Kabar duka HM Syahrun meninggal dunia itu datang pada pagi tenang di Samarinda. Kamis, 25 Desember 2025, ruang perawatan RSUD Abdoel Wahab Sjahranie menjadi tempat berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh yang telah melekat dalam sejarah politik Kalimantan Timur.
H.M. Syahrun, H.S., atau yang lebih dikenal sebagai Haji Alung, mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 71 tahun. Bagi banyak orang, nama Haji Alung bukan sekadar deretan huruf dalam struktur kekuasaan.
Ia adalah sosok yang pernah duduk di kursi tertinggi legislatif daerah, pernah bersilang pendapat dalam rapat paripurna yang panjang, dan pernah berdiri di tengah masyarakat dengan bahasa yang sederhana namun penuh keyakinan. Kepergiannya meninggalkan ruang hening—bukan hanya di gedung DPRD, tetapi juga di benak mereka yang mengikuti perjalanan politik Kalimantan Timur selama puluhan tahun.
Ucapan duka mengalir deras sejak kabar wafatnya menyebar. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui akun Instagram resminya menyampaikan belasungkawa mendalam, mendoakan agar seluruh amal ibadah almarhum diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kalimat doa itu singkat, namun memuat pengakuan atas jejak panjang pengabdian yang telah ditorehkan Haji Alung.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya H. M. Syahrun, H.S, Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Timur Periode 2014–2019. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Almarhum, mengampuni segala khilafnya, serta memberikan ketabahan dan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.”
Ucapan duka juga datang dari lembaga yang pernah menjadi tempat pengabdian HM Syahrun, yaitu DPRD Kaltim. Melalui akun Instagram DPRD Kaltim Official, ucapan duka pun dilayangkan atas kepergian tokoh politik ini.
“Pimpinan, Anggota DPRD dan Sekretaris DPRD beserta Seluruh Jajaran Sekretariat DPRD Provinsi Kalimantan Timur turut berbelasungkawa atas berpulangnya ke Rahmatullah, H. Muhammad Syahrun HS (H. Alung) Bin H. Syahran HK (Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Timur Periode 2013-2014 & 2014-2019). Wafat pada Kamis, 25 Desember 2025, pukul 08.35 WITA. Semoga Almarhum Husnul Khotimah dan segala amal kebaikannya menjadi penerang di alam barzakh. Aamiin.”
Haji Alung lahir di Kota Bangun pada 3 Mei 1954. Kota kecil di tepian Sungai Mahakam itu bukan hanya tempat kelahiran, tetapi juga titik awal pembentukan karakternya. Ia tumbuh dalam lingkungan yang keras sekaligus hangat, tempat kerja keras dan kedekatan sosial menjadi nilai yang tak terpisahkan. Dari sanalah ia belajar memahami masyarakat akar rumput, sesuatu yang kelak menjadi ciri khasnya sebagai legislator.
Perjalanan hidupnya tidak langsung menuju panggung politik. Pada era 2000-an, Haji Alung dikenal sebagai kontraktor yang cukup diperhitungkan di Kalimantan Timur. Dunia usaha membentuk nalarnya tentang angka, risiko, dan tanggung jawab. Ia pernah bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan swasta, sebelum akhirnya memimpin PT Bantera Bahagia sebagai direktur utama. Pengalaman ini membuatnya akrab dengan persoalan anggaran dan ekonomi—bekal yang kelak sangat berguna di lembaga legislatif.
Nama Haji Alung mulai dikenal luas ketika ia aktif di Partai Golkar. Ia bukan figur instan. Karier organisasinya ditempa dari bawah, mulai dari Wakil Bendahara Golkar Kaltim pada 2003–2004, Bendahara Golkar Kaltim selama hampir satu dekade (2005–2013), hingga menjadi salah satu tokoh kunci di internal partai. Loyalitas dan konsistensinya membuatnya dipercaya mengemban tanggung jawab besar.
Di luar partai, ia juga aktif di berbagai organisasi. Ia memimpin GAPENSI dari tingkat kabupaten hingga provinsi, menjadi Ketua IPDP Kabupaten Kutai Kartanegara, serta duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Kadin Kaltim. Aktivitas organisasi ini memperluas jejaringnya, sekaligus memperkuat pemahamannya tentang dinamika ekonomi dan pembangunan daerah.
Karier politik Haji Alung di DPRD Kalimantan Timur mencerminkan perjalanan panjang dan berlapis. Ia tercatat sebagai anggota DPRD Kaltim dari Partai Golkar, mewakili daerah pemilihan Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Dua wilayah ini bukan sekadar daerah pemilihan baginya, melainkan ruang hidup yang ia pahami betul denyutnya—dari persoalan infrastruktur hingga ekonomi rakyat.
Puncak pengabdiannya di lembaga legislatif terjadi ketika ia dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRD Kalimantan Timur di tahun 2013, pada sisa masa jabatan periode 2009–2014. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kaltim pada 19 Desember 2013. Momentum itu menjadi titik penting dalam perjalanan politiknya.
Sebagai Ketua DPRD, Haji Alung dikenal menekankan pentingnya hubungan yang seimbang antara legislatif dan eksekutif. Ia percaya bahwa perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam demokrasi, namun dialog harus tetap dijaga. Almarhum dikenal sebagai figur yang terbuka terhadap diskusi, tidak alergi kritik, dan mampu menjadi penengah di tengah ketegangan politik.
Setelah masa kepemimpinannya berakhir, Haji Alung tidak meninggalkan parlemen. Ia kembali terpilih sebagai anggota DPRD Kaltim periode 2019–2024. Pada periode ini, ia duduk di Komisi II yang membidangi keuangan dan perekonomian daerah, sekaligus dipercaya menjadi anggota Badan Kehormatan DPRD serta bagian dari Fraksi Golkar. Peran ini menunjukkan bahwa pengalamannya masih dianggap relevan dan dibutuhkan.
Di tengah kesibukan politik, Haji Alung juga meninggalkan jejak di dunia kewirausahaan. Plaza Mulia Samarinda, salah satu pusat perbelanjaan yang cukup dikenal di ibu kota provinsi, adalah salah satu karya nyatanya. Mal tersebut diresmikan oleh Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak pada 2010 dan menjadi simbol keberaniannya menggabungkan visi bisnis dengan perkembangan kota.
Namun, mungkin warisan paling personal dari Haji Alung bukanlah jabatan atau bangunan, melainkan kedekatannya dengan masyarakat. Ia dikenal sering turun langsung ke lapangan, menyapa warga tanpa jarak, dan mendengar keluhan dengan bahasa yang sederhana. Di kampung halamannya, Kota Bangun, ia membangun sebuah masjid pada era 2000-an—sebuah kontribusi yang hingga kini dikenang sebagai kebanggaan warga setempat.
Kabar wafatnya Haji Alung menyebar cepat. Dari sana, ucapan duka dan doa mengalir dari berbagai kalangan: politisi, jurnalis, aktivis, hingga masyarakat biasa.
Bagi kalangan pers, Haji Alung bukan sosok asing. Ia sering menjadi narasumber, kadang menjadi objek kritik, namun tetap membuka ruang komunikasi. Hubungannya dengan wartawan mencerminkan pemahamannya bahwa demokrasi membutuhkan keterbukaan dan kontrol publik.
Kepergian Haji Alung menandai berakhirnya satu bab dalam sejarah politik Kalimantan Timur. Ia adalah representasi generasi politisi yang tumbuh dari bawah, ditempa oleh pengalaman organisasi dan kerja lapangan, serta menapaki tangga kekuasaan dengan proses panjang. Di tengah perubahan zaman dan wajah politik yang terus berganti, kisah hidupnya menjadi pengingat tentang arti konsistensi dan pengabdian.
Kini, gedung DPRD Kaltim tetap berdiri, rapat-rapat terus berlangsung, dan dinamika politik berjalan seperti biasa. Namun bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, ada ruang kosong yang sulit diisi. Sosok yang akrab disapa Haji Alung itu telah pergi, meninggalkan jejak langkah yang tak mudah dihapus oleh waktu.
Rumah duka di Jalan S. Parman Nomor 8, Samarinda dan cerita tentang HM Syahrun kembali berkelindan. Semoga almarhum husnul khatimah, diampuni segala dosa-dosanya, dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin. (*)



