El-Rayyi Mujahid Faqih Paskibraka Nasional 2025 Pembentang Bendera Pertama dari Samarinda Kaltim
KLIKSAMARINDA – “Bendera, siap!” Pekik suara itu memecah keheningan di halaman Istana Negara, Jakarta, Minggu (17/8/2025). Sumbernya datang dari seorang remaja 17 tahun bernama El-Rayyi Mujahid Faqih. Sejurus kemudian, komandan upacara Kolonel (Inf) TNI Amril Hairuman Tehupelasury, mengambil alih. Ia memberi instruksi; hormat senjata. Dan, lagu kebangsaan Indonesia Raya pun berkumandang.
Peristiwa ini bukan seremonial belaka. Keberadaan siswa SMK Kehutanan Negeri Samarinda di Pasukan 8 itu, menciptakan sejarah tak biasa. Untuk pertama kalinya, sejak pekik kemerdekaan 1945 berkumandang di Indonesia, tugas pembentang bendera yang tak pernah diemban putra asal Kaltim selama 80 tahun, akhirnya terjadi saat itu.
Suasana haru seketika pecah. Di antara deretan tamu undangan, duduk di barisan paling belakang sepasang pasutri. Keduanya menyapu air mata di pipi, dengan tangan kanan di kepala memberi hormat. Amir Mahmud (43) yang saban hari bekerja sebagai pemangkas rambut di Jalan Antasari, dan Yuyun Rahyuni (40) yang kesehariannya diisi aktivitas ibu rumah tangga, masih tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Sang putra kedua, membawa kebanggaan tiada tara.
Usai tugas negara itu dan seluruh prosesi kenaikan bendera merah putih tuntas dilaksanakan, Rayyi datang. Ia mencium tangan dan memeluk Amir dan Yuyun di sudut ruangan Istana Negara. Ketiganya berbincang sebentar, sebelum ia kembali untuk melaksanakan tugas berikutnya.
Momen di atas diceritakan secara detail oleh Yuyun, ibunda Rayyi, Selasa (19/8/2025) kemarin. Melalui bantuan Alumni SMP Negeri 10 Samarinda Angkatan 2000, KLIKSAMARINDA berkesempatan mewawancarainya selama 20 menit. Lewat Yuyun pula, KLIKSAMARINDA mendapatkan akses ribuan dokumentasi foto dan video Paskibraka Indonesia Berdaulat yang dikelola Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI). Di dalamnya, tergambar jelas bagaimana Rayyi mengikuti seluruh proses pembinaan selama di Jakarta setelah terpilih mewakili Kaltim.
Kepada KLIKSAMARINDA, Yuyun menceritakan bagaimana keharuan menyelimuti seluruh keluarga besar Rayyi di Samarinda. Mereka tak pernah menyangka, remaja kelahiran 2 Agustus 2008 itu, dipilih sebagai pembentang bendera merah putih saat prosesi upacara HUT ke-80 di Istana Negara. “Katanya deg-degan. Dia berdoa sepanjang tugas itu, baca Bismillah,” aku Yuyun.
Apalagi, sejak proses seleksi di tingkat kota, Yuyun selalu mengingatkan Rayyi agar tidak berkecil hati jika tidak terpilih. “Saya bilang ke Rayyi, sampai provinsi aja sudah Alhamdulillah, enggak apa kalau tidak terpilih, nak. Saya justru kaget saat tahu dia lolos sampai ke Jakarta,” ucapnya, mengenang momen itu.
Yuyun mengisahkan, Rayyi adalah salah satu dari sebelas siswa SMK Kehutanan Negeri Samarinda yang mengikuti seleksi tingkat kota. Di fase itu, ia harus bersaing dengan 300 siswa lain. Lolos di sana, Rayyi kemudian melangkah ke seleksi tingkat provinsi dan bersaing dengan 60 siswa dari seluruh kabupaten/kota. Ia lalu terpilih kembali bersama 5 siswa lain dari seantero Kaltim untuk menuju Jakarta. Mereka terdiri dari 3 siswa dan 3 siswi.
Di Jakarta, seleksi kembali dilakukan hingga akhirnya menyisakan Rayyi dan Putri Nur Azizah, siswi SMK Putra Bangsa Bontang.
Rayyi, seperti penuturan Yuyun, belum sempat menceritakan semua perasaan dan pengalamannya selama di Jakarta. Namun dia mengingat, cerita sang buah hati usai melaksanakan tugasnya sebagai pembentang bendera. Perjumpaan itu, diakui Yuyun, tak lama. Sebab, Istana Negara harus dalam kondisi steril sebelum prosesi penurunan bendera merah putih.
Sebulan selama Rayyi di Jakarta, komunikasi terputus. Sebagai seorang ibu, Yuyun mengaku sempat dilanda kekhawatiran. Namun, pesan Rayyi sebelumnya menenangkan hati dan pikiran ibu 5 anak itu. “Rayyi bilang, mama tenang saja. Rayyi insyaAllah baik-baik aja,” ucapnya. “Dia bilang apa yang dijalani waktu itu biasa, kurang lebih sama seperti saat di asrama (SMK Kehutanan Negeri Samarinda, Red.) yang menuntut kedisiplinan. Memang sebulan itu enggak bisa komunikasi karena memang aturannya. Tapi setiap telepon Rayyi selalu bilang ‘doa kan Rayyi ya, mamake’,” timpal Yuyun, tersenyum.
Untuk memantau Rayyi, Yuyun mengaku harus memantau akun resmi BPIP RI di Instagram. Dia bahkan mengingat, kekhawatiran itu membuncah saat Rayyi melakukan gladi kotor saat hujan deras mengguyur. “Dalam hati saya, mudahan Rayyi enggak kenapa-kenapa. Saya sempat khawatir takut sakit,” akunya.
Di Samarinda, acara nobar digelar saat mengetahui Rayyi terpilih sebagai pembentang bendera merah putih. Di SMK Kehutanan Negeri Samarinda, nobar diikuti para siswa yang satu angkatan dengannya. Di kediaman keluarga Rayyi, nobar juga digelar dan disaksikan seluruh keluarga besar.
Yuyun menguraikan, dukungan untuk Rayyi tak hanya datang dari keluarga besar. Pihak SMK Kehutanan Negeri Samarinda, turut berperan dalam membantu persiapan Rayyi. Terutama kebutuhannya saat proses seleksi.
Menariknya, menurut penuturan Yuyun, capaian yang dilakukan Rayyi, tak lepas dari seorang sosok penting yang membawanya hingga sampai ke Jakarta. Ia adalah Ramlan, salah satu guru sekaligus pembina Rayyi di SMK Kehutanan Negeri Samarinda. “Rayyi bilang, pertama kali yang saranin Rayyi ikut seleksi paskib adalah pak Ramlan. Makanya berkali-kali Rayyi mengucapkan terima kasih kepada beliau,” urainya.
Kepala SMK Kehutanan Negeri Samarinda, Mukhamad Ari Hidayanto, juga berperan mengantar Rayyi ke tingkat tertinggi anggota Paskibraka.
Di antara proses itu, Yuyun menuturkan, bagaimana Rayyi juga sempat berupaya belajar Sampe, alat musik tradisional Suku Dayak. Proses itu dilalui hanya karena ingin menampilkan bakat saat proses seleksi. “Kalau gitar kan biasa. Jadi saya suruh belajar Sampek. Untung ada temanya dari Kaltara yang mengajari Rayyi main Sampek,” ulas Yuyun.
Yuyun bersama suami, memang bertolak ke Jakarta. Undangan untuk datang dari Istana Negara itu, disampaikan Jumat (15/8/2025) via WhatsApp. Di sana, waktu dirasakan cukup sempit. Apalagi, undangan fisik harus diambil pada hari H lebih dulu dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 07.30 WIB di BPIP.
Di balik itu, Yuyun mengucapkan terima kasih kepada keluarga besarnya yang telah memberikan dukungan moril serta materi. Pun, semua pihak yang telah membantu Rayyi. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Samarinda Andi Harun yang telah memberikan bantuan melalui Kesbangpol Samarinda. “Rayyi dapat bantuan dari wali kota Samarinda Bapak Andi Harun melalui Kesbangpol. Saya mewakili keluarga berterima kasih kepada beliau,” tutupnya.
Rayyi adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakaknya, Al-Gading Jihad Sabiluna. Adiknya Devan Ziandri Sholeh, Abriezaidan Al-Alim, dan Shaima Nadeera Shaliha.
Sejak TK hingga SMP, Rayyi bersekolah di Loa Bakung. Tepatnya di TK Negeri 2, SD Muhammadiyah 5, dan SMP Muhammadiyah 6. Selama menempuh Pendidikan itu hingga ke SMK Kehutanan Negeri Samarinda, Rayyi dikenal aktif.
Rayyi tidak hanya menunjukkan prestasi di bidang akademik. Ia juga aktif dalam pelbagai organisasi dan ekstrakurikuler, mulai dari OSIS, Kesamaptaan Pramuka, bela diri Kempo, hingga Kerohanian Muslim.
Keterlibatannya dalam berbagai bidang tersebut membentuk pribadi yang disiplin, berjiwa kepemimpinan, dan penuh tanggung jawab. Seluruh pengalaman itu menjadi bekal penting ketika dirinya dipercaya menjalankan tugas sakral membentangkan Merah Putih dalam upacara di Istana Negara. (fai)



