Fokus

Ketika Longsor Tanah di Batuah Semakin Parah

Warga mengungsi dan masjid tak berfungsi

KLIKSAMARINDA – Longsor jalan di Batuah Loa Janan Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) semakin parah. Warga cemas karena di sekitarnya kerap terjadi pergerakan tanah susulan.

Jalan poros Samarinda-Balikpapan pun kini tak sama lagi. Pergerakan tanah di KM 29 Loa Janan itu membuat 15 rumah dan satu masjid rusak.

Hingga Jumat, 2 Mei 2025, tepat di Hari Pendidikan Nasional, kondisinya belum berubah.

Tak hanya jalan yang retak dan perlahan seperti terbelah, pergerakan tanah di jalur poros Samarinda-Balikpapan, tepatnya di KM 29 Desa Batuah itu telah terjadi berulang kali.

Rumah warga hancur dan jumlah bangunan yang rusak meningkat drastis dari enam menjadi 15 rumah. Satu masjid pun kini tak pernah digunakan lagi untuk beribadah karena tak luput dari bencana.

Warga KM 29 Desa Batuah semakin resah dengan kondisi itu. Pergeseran tanah yang terjadi sejak beberapa bulan lalu hingga saat ini belum mendapatkan penanganan yang memadai dari pihak berwenang.

Sejumlah warga yang terdampak hanya bisa pasrah. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah tetangga yang tidak terkena dampak pergeseran tanah. Mengungsi pun bukan tanpa konsekuensi karena kebutuhan hidup harus selalu terpenuhi setiap hari, seperti air, makanan, hingga ketenangan.

Meluasnya area bencana membuat warga yang tinggal di daerah terdampak merasa semakin cemas, terutama karena kondisi tanah yang terus bergerak menyebabkan dinding rumah retak, jebol, bahkan ada yang sudah ambruk.

Beberapa warga yang khawatir akan keselamatan mereka telah memilih untuk mengungsi dan membangun tenda darurat di halaman rumah mereka sejak sebulan lalu. Upaya swadaya ini menjadi antisipasi sementara jika sewaktu-waktu bangunan mereka runtuh.

Dugaan Penyebab Pergeseran Tanah

Dugaan warga, longsor dan pergerakan tanah di Batuah itu akibat operasional tambang yang beroperasi di sekitarnya. Warga menduga pergeseran tanah yang menimpa kampung mereka diakibatkan oleh aktivitas lalu lintas kendaraan tambang batubara.

Jarak area tambang ke pemukiman warga dan jalan raya hanya sekitar 400 meter. Warga kerap menyaksikan truk-truk pengangkut batubara setiap hari melintas di wilayah kampung mereka.

Lokasi lubang tambang batubara yang diangkut berjarak kurang dari 1 kilometer dari permukiman.

Rusnawati, salah satu korban pergeseran tanah, mengaku sejak terjadi bencana sebulan yang lalu, ia telah memilih untuk keluar dari rumahnya dan membangun tenda di halaman.

Semua kegiatan mulai dari tidur, memasak, hingga beristirahat dilakukan di luar rumah karena khawatir rumah beton tempat tinggalnya akan ambruk sewaktu-waktu.

Setiap Rusnawati keluar rumah, dia selalu menyimpan barang sebagai penanda terjadinya pergeseran atau pergerakan tanah.

“Kalau hujan yah bangun begadang sampai pagi, gak tidur sampai pagi. Biar gak hujan tidurnya gak nyenyak, takut runtuh, terus bergeser. Ini selalu kuukur. Kalau aku jalan, ukur dulu, kuturunkan apa sembarang kutaruhkan, kalau pulang pasti jatuh itu,” ungkap Rusnawati, ditemui Jumat 2 Mei 2025.

Rumah beton yang baru ditempati setahun oleh Rusnawati kondisinya kini makin memprihatinkan. Pondasi rumahnya turun sekitar 30 cm, dinding beton rumahnya retak di beberapa bagian, dan lantai rumah sudah miring.

Beberapa peralatan elektronik seperti kulkas, mesin cuci, meja makan dan alat memasak terpaksa dikeluarkan dari dalam rumah, sementara tempat tidur hanya dikeluarkan pada malam hari.

Korban Berharap Ganti Rugi

Sementara itu, Baharudin, warga Batuah lainnya yang rumahnya hancur akibat pergeseran tanah, mengaku ingin memperbaiki kembali rumahnya.

Ia meminta kepada perusahaan batubara yang beroperasi tidak jauh dari rumahnya untuk mengganti kerugian atas kerusakan rumahnya.

Baharuddin kini tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Rumah yang ditempatinya sejak muda kini terancam ambruk dengan lantai yang sudah jebol ke dalam tanah.

“Minta ganti rumah, (tapi) belum ada pembicaraan,” ujarnya singkat dengan nada putus asa.

Respon Pemerintah Setempat

Kepala Desa Batuah, M. Rasyid saat ditemui di kantornya menjelaskan bahwa pergeseran tanah yang terjadi di Desa Batuah telah diteliti oleh tim ahli yang didatangkan oleh pihak desa.

Hal ini dilakukan agar para peneliti bisa profesional dalam melakukan kajian terhadap fenomena tersebut.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) pun telah meminta kepada warga yang terdampak untuk meninggalkan lokasi guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan, Pemkab Kukar menyatakan siap membangun rumah bagi para korban bencana.

“Akan dibangunkan (rumah) tipe 36 dengan catatan mereka yang menyediakan lahan, karena tidak boleh lagi dibangun di lokasi yang lama. Lokasi itu sudah ditetapkan sebagai lokasi rawan bencana. Jadi yaitu mustinya yang dilakukan warga berusaha supaya ada kaplingan atau apa,” terang M. Rasyid.

Untuk jalan yang longsor, pemerintah telah melakukan penanganan dengan cara menimbun jalan dengan batu agar jalanan masih bisa digunakan oleh masyarakat.

Harapan pada DPRD Kaltim

Berdasarkan jadwal yang diterima Desa Batuah, sejumlah anggota DPRD Kalimantan Timur akan melakukan peninjauan lokasi bencana dalam waktu dekat. Warga dan pemerintah setempat berharap para legislator dari DPRD Kaltim bisa memberikan solusi terbaik bagi masyarakat yang terdampak pergeseran tanah.

Kasus pergeseran tanah di KM 29 Loa Janan ini menjadi sorotan karena dampaknya yang signifikan terhadap warga setempat dan infrastruktur publik. Antara pemerintah daerah, perusahaan tambang, dan masyarakat perlu sinergi untuk menangani masalah ini secara komprehensif dan berkelanjutan. (Suriyatman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *