Fokus

Kisah Hamdan di Tengah Keterbatasan Fisik Tanpa Listrik Pemerintah

Kliksamarinda.com – Deru mesin genset sesekali memecah keheningan pesisir Kampung Teluk Sumbang. Di bawah temaram cahaya bengkel sederhana, seorang pria paruh baya tampak sibuk mengerjakan sebuah perahu kayu.

Pria itu adalah Hamdan, warga asli Teluk Sumbang yang dikenal gigih bekerja. Dengan satu tangan yang dimilikinya, ia memegang bor listrik dan mengarahkannya dengan presisi ke lambung perahu yang belum selesai.

Keterbatasan fisik tidak pernah menghentikan langkah Hamdan. Ia tetap bekerja sebagai nelayan sekaligus pembuat kapal kayu. Baginya, setiap papan yang terpasang bukan sekadar bagian dari sebuah perahu, tetapi juga simbol perjuangan dan martabat.

Namun, selama empat bulan terakhir, perjuangan Hamdan menjadi semakin berat. Kampung tempat tinggalnya kini harus menghadapi pemadaman listrik dari pemerintah yang membuat aktivitas warga terganggu.

Bagi sebagian orang, listrik mungkin hanya berarti penerangan saat malam. Namun bagi pelaku usaha kecil seperti Hamdan, listrik merupakan bagian penting dari sumber penghidupan.

Untuk mengoperasikan alat serut listrik dan bor kayu, Hamdan kini harus mengandalkan mesin genset. Masalahnya, penggunaan genset membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Sekali menyalakan mesin, butuh 3 sampai 5 liter BBM, belum lagi olinya,” ungkap Hamdan saat ditemui pada Sabtu 18 Juli 2026.

Kondisi semakin sulit karena harga bahan bakar minyak (BBM) di wilayah pelosok seperti Teluk Sumbang mencapai sekitar Rp22.000 per liter. Setiap kali hendak melanjutkan pekerjaan, Hamdan harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli bahan bakar.

Padahal, perahu yang sedang dikerjakannya bukan untuk keperluan pribadi. Perahu tersebut merupakan pesanan warga yang mempercayakan pembuatannya kepada Hamdan.

Untuk mengatasi mahalnya biaya operasional, Hamdan terpaksa menyesuaikan ritme kerja dengan hasil tangkapan ikan. Saat mendapatkan hasil laut yang cukup, sebagian pendapatannya disisihkan untuk membeli BBM.

Jika bahan bakar sudah tersedia, mesin genset kembali dinyalakan. Suara bisingnya pun kembali terdengar di tengah suasana kampung yang sepi. Barulah pekerjaan membuat perahu dapat dilanjutkan.

Begitulah Hamdan bekerja. Tidak ada jadwal pasti. Aktivitasnya sangat bergantung pada hasil tangkapan ikan dan kemampuan membeli bahan bakar.

Meski begitu, semangatnya untuk bekerja tidak pernah padam. Di tengah keterbatasan fisik, mahalnya BBM, dan terputusnya aliran listrik, Hamdan tetap berusaha menjalankan pekerjaannya demi menghidupi keluarga.

Kisah Hamdan menjadi gambaran tentang daya juang masyarakat kecil yang terus bertahan di tengah keterbatasan. Ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin bekerja, berkarya, dan mendapatkan kesempatan untuk menjalani hidup dengan layak.

Kini, di balik suara genset yang terus menguras biaya, Hamdan menyimpan harapan sederhana: listrik di Kampung Teluk Sumbang segera kembali menyala.

Bagi warga pesisir, listrik bukan sekadar cahaya di malam hari. Listrik adalah urat nadi perekonomian, penopang usaha kecil, dan bagian penting dari harapan untuk bangkit.

Selama empat bulan, Hamdan dan warga Teluk Sumbang telah berjuang dalam gelap. Kini, mereka hanya ingin kembali melihat terang. (*)

Penulis: Suriyatman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda@gmail.com