Warta

Susur Gang Samarinda: Gerakan Sarekat Bakar Kalori dengan Aktivitas Jalan Kaki (2-Habis)

Dari gerakan Susur Gang, mereka banyak menciptakan interaksi. Terutama dengan warga yang rumahnya dilintasi.

WAHYU Musyifa (28), salah satu penggagas Susur Gang, mengatakan lantaran sudah mengenal gerakan ini via media sosial, beberapa warga bahkan berbaik hati memberitahu mereka akses mana yang paling tepat dan cepat untuk dilalui. “Mereka ada yang kasih tahu kami, lewat jalan ini-itu. Mereka juga sempat menjelaskan kondisi jalannya bagaimana,” ucapnya, kepada KLIKSAMARINDA.COM, Minggu 13 Juli 2025.

Melalui Susur Gang, mereka juga jadi mengetahui beberapa fakta penting. Misalnya, roti bakar yang banyak beredar di Kota Samarinda, ternyata berasal dari salah satu gang di Cendana –Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang. Lalu ada pula keripik singkong pedas, ternyata diproduksi di sekitar Jalan Lambung Mangkurat –Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir. “Semula kami kira camilan-camilan itu dari luar kota. Ternyata diproduksinya di Samarinda,” paparnya.

Sepanjang eksistensinya, Susur Gang pernah diikuti hingga 40 orang. Momen itu terjadi saat mereka melintasi Bukit Steling yang berada di antara Gunung Manggah dan Gunung Selili di Kelurahan Sungai Dama –Kecamatan Samarinda Ilir. “Kami lewat di atas Terowongan Manggah. Itu lumayan banyak karena mengcover 40 orang. Karena banyak, jalan kakinya jadi tidak bisa cepat karena saling tunggu. Karena ada yang istirhan dan swafoto,” kisahnya.

Saat ini, setiap kegiatan Susur Gang, jumlah pesertanya mencapai 20 orang. Seperti sebelumnya, mereka yang berpartisipasi tak hanya datang dari latar belakang. Mereka juga hadir dari pelbagai tempat. “Pernah kami buat Susur Gang di Sambutan (Kecamatan Sambutan, Red.), salah satu partisipan yang datang justru dari Loa Bakung. Saya langsung bilang tidak perlu ikut, nanti biar Susur Gang yang ke sana,” sebutnya, tertawa.

Selain Loa Bakung, Sambutan dan Sempaja –rute Susur Gang yang paling jauh di Kota Samarinda– belum lama ini mereka juga menjelajah hingga ke Kota Tenggarong –Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu 12 Juli 2025, dengan titik kumpul Museum Mulawarman, Jalan Diponegoro.

Dari riwayatnya, nama Gerakan ini semula bukanlah Susur Gang. Melainkan Sarikat Bakar Kalori. Dikemudian hari, nama Susur Gang dipilih. Sementara nama Sarikat Bakar Kalori ditempatkan sebagai taglinenya. “Saat ini yang ikut datang dari mana-mana dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dari pelajar, mahasiswa, pekerja. Ada juga anak kecil dan ibu-ibu. Dari aparat juga ada. Dari tentara, polisi, sampai sipir penjara,” bebernya, terkekeh.

Bagi Wahyu Musyifa, jalan di gang, pedestrian, hingga trotoar di Kota Tepian, belum cukup ramah bagi pejalan kaki. Misalnya, di beberapa tempat, masih ada portal, polisi tidur, hingga bollard. Kondisi ini belum termasuk dengan keberadaan kendaraan roda dua dan empat hingga aktivitas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di sekitarnya. “Belum ramah sebenarnya. Masih banyak jalan untuk pejalan kaki, tapi seperti beralih fungsi,” katanya.

“Konsep pedestrian dan trotoar memang banyak menyadur dari luar. Tapi rasanya tidak cocok untuk karakter masyarakat kita. Kita di Samarinda kebanyakan kalau jalan gerakannya cepat,” imbuh Wahyu Musyifa.

Sepanjang pengalamannya berkeliling jalan kaki, bukan sekali dua dia merasa mendapatkan pandangan sinis dari warga yang beraktivitas di atas trotoar. “Mereka sih enggak ngomong. Cuma dari ekspresi wajah kan kelihatan,” paparnya, terkekeh. “Apalagi kalau masuk gang. Kami sebagai pejalan kaki memang harus mengalah ketika ada kendaraan yang lewat,” timpal Wahyu Musyifa.

Kendati begitu, dampak paling signifikan yang terjadi dari aktivitas ini, justru bukan hanya soal meningkatnya kesehatan mereka. Berkat Susur Gang, sejumlah gang di Kota Tepian justru berbenah lantaran sering dilintasi. Ini terjadi di sekitar Jalan Siti Aisyiah –Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu.

“Pernah kami lewat di salah satu gang. Sudah 3 kali kami lewat di wilayah itu. Kondisinya memang kotor awalnya. Tapi saat keempat kalinya, gang itu jadi bersih. Pagar rumah warga yang karatan sampai di cat dan ada beberapa pot tanaman diletakkan,” kenangnya.

Saat ini, Susur Gang rutin menggelar aktivitasnya dua kali tiap pekan. Yakni Selasa dan Jumat setiap pukul 17.00 Wita hingga 18.00 Wita. “Karena waktunya mepet, jadi kalau sudah waktu, kami tetap jalan tanpa menunggu yang lain,” tegasnya.

Susur Gang, seperti disampaikan Wahyu Musyifa, punya target untuk melakukan jalan kaki sepanjang 5 kilometer. Namun, karena banyak faktor, perjalanan mereka kini rata-rata mencapai 3 kilometer. “Kami juga tidak bisa terlalu cepat jalan. Karena ada banyak anak kecil, acil-acil (ibu-ibu, Red.). Belum lagi kalua spot yang dilintasi bagus. Pasti harus menunggu dulu karena beliau-beliau asyik foto-foto,” tuturnya, tersenyum. (Faisal Rahman)

 

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker