Clicky

Sempuri Kota Bontang: Pertemuan Aji Pao dengan Jin Bergelar Sang

Dari mulut ke mulut, tersebutlah nama Aji Pao; kerabat Sultan Kutai yang dianggap menjadi penduduk pertama belantara Kota Bontang.

AJI Pao berkelana mencari tempat. Bersama orang-orang kepercayaannya –dengan bekal tekad dan semangat– dia tak sekadar berburu. Aji Pao berniat mencari tempat terbaik untuk berkebun, sekaligus menjadikannya tempat tinggal baru.

Beragam bukit curam dilaluinya, hingga sampailah Aji Pao ke tempat yang dijaga tiga sosok jin. Jin pertama bergelar Sang, yakni Sang Attak. Sosok tersebut menjaga anak sungai Api-Api –kini di sekitar Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur– yang disebut Sangatta.

Jin kedua bernama Sang Antan. Sosok tersebut juga menjaga daerah aliran anak sungai Api-Api yang kini disebut Santan –Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Jin terakhir bernama Sang Kima, penjaga aliran anak sungai Sangkima –sekitar Desa Sangkima, Kecamatan Sanggata Selatan, Kabupaten Kutim. Kepada ketiga jin bergelar Sang tersebut, Aji Pao meminta izin. Dia ingin tempat tersebut menjadi pemukiman, sekaligus tempat berkebun dan berburu.

Para Sang kemudian mengabulkan permintaan Aji Pao. Mereka bahkan ikut menjaga keamanan dan keselamatan Aji Pao berserta keluarga dan pengikutnya. Pilihan kerabat Sultan Kutai ini ternyata tidak salah. Tempat yang dialiri sungai itu sangat subur. Panen pertama di sawah, menggembirakan. Bulir padinya panjang dan berisi. Pun dengan hasil perkebunan.

Labu parang yang ditanam, juga panen. Belum lagi binatang buruan seperti pelanduk dan payau, mudah didapat. Jerat yang dipasang, tak pernah luput. Lautnya, kaya dengan pelbagai macam jenis ikan dan binatang laut yang dapat dimakan.

Demikianlah cerita Aji Pao di masa awal pencariannya. Dia dan para pengikutnya berhasil menemukan tempat yang subur untuk hidup. Maka, kembalilah Aji Pao ke Kutai. Bersama para pengikutnya, mereka memgabarkan situasi dan keadaan dari daerah yang baru ini.

Aji Pao dan pengikutnya kemudian membawa keluarga masing-masing untuk tinggal di daerah baru tersebut. Konon, perpindahan ini bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Kutai ke 16, yaitu Sultan Aji Muhammad Salehuddin (1782-1850). Perpindahan itu sendiri diperkirakan terjadi sekira 1826. Medio 1826 itulah, Aji Pao disebut diangkat oleh kaum kerabat dan pengikutnya untuk menjadi petinggi yang pertama di kampung yang belum bernama ini.

WAKTU berlalu. Pun dengan masyarakat di wilayah pesisir yang semula dihuni penduduk Melayu-Kutai. Dengan ketekunan dan semangat, mereka mampu membangun pasar sederhana. Sistem ekonomi dibangun lewat barter untuk melakukan transaksi jual-beli. Jika mereka menawarkan hasil kebun, laut, maupun hasil buruan, biasanya ditukar dengan keperluan perkakas rumah tangga dan sebagainya.

Tumbuhnya ekonomi, membuat wilayah pesisir menarik perhatian masyarakat lain di seberang lautau. Atau –dalam hal ini– masyarakat Sulawesi dari suku Bugis dan Bajau. Proses perpindahan masyarakat Sulawesi ini diperkirakan terjadi sejak 1900-an.

Kehadiran masyarakat dari pulau seberang ini tentu saja berdampak. Wilayah pesisir semakin ramai. Apalagi, para pendatang yang kebanyakan pria, memutuskan menikah dengan perempuan setempat. Pun sebaliknya. Perkembangan wilayah pesisir juga semakin masif saat masyarakat Melayu-Banjar, juga datang ke tempat yang sama. Mereka membaur dan menetap di wilayah pesisir ini.

Lantaran perbedaan bahasa, mereka menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi. Konon, bahasa Melayu menjadi tren saat itu. Sebab, siaran radio yang menjadi hiburan masyarakat pesisir, menggunakan bahasa Melayu. Pun dengan tembang yang diputar. Semua berbahasa Melayu.

Penggunaan bahasa Melayu jadi bahasa sehari-hari oleh generasi pertama yang lahir di wilayah ini. Hal itu diperkirakan terjadi pada medio 1920 dan terus diwariskan pada generasi berikutnya.

 

TATANAN masyarakat kian maju. Bertambahnya penduduk karena kelahiran dan arus pendatang, berdampak pada perkembangan pasar. Masyarakat Tiongkok, disebut-sebut pernah melakukan perdagangan di sana. Mereka dapat menguasai ekonomi lokal dalam waktu singkat. Caranya, dengan menawarkan barang dagangan yang menarik dan diminati perempuan.

Di lain sisi, para pedagang dari Negeri Tirai Bambu itu juga menawarkan barang dagangannya melalui kesepakatan, “ambil dulu bayar nanti”. Tidak sedikit masyarakat setempat tertarik dengan cara seperti itu. Pembayarannya mereka lakukan setelah pulang dari berburu, berkebun, dan melaut.

Kebiasaan “ambil dulu bayar nanti” inilah yang membuat para pedagang Tiongkok menulis bon –surat kecil berisi keterangan pengambilan barang, peminjaman uang, dan sebagainya– untuk setiap transaksi.

Jika penghasilan mencukupi, bon dibayar lunas. Namun, sebagian masyarakat setempat justru tidak mampu melunasi barang yang sudah dimiliki. Itu sebabnya, bon yang tidak terbayar tersebut menjadi utang. Makin hari, utang makin menumpuk. Terlebih bagi para nelayan. Mereka tidak dapat melaut karena cuaca buruk. (pelbagai sumber)

DMCA.com Protection Status
error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda.@gmail.com