Clicky

Pertempuran Akbar Penutup PD II Itu Terjadi di Kota Balikpapan (2-Habis)

Untuk menaklukkan Jepang, pada awalnya armada sekutu memiliki 6 rencana operasi militer.

ENAM rencana itu adalah penyerbuan Kota Tarakan (Oboe-1), penyerbuan Kota Balikpapan (Oboe-2), penyerbuan Kota Banjarmasin (Oboe 3), penyerbuan Kota Surabaya atau Kota Jakarta (Oboe-4), penyerbuan kawasan timur Indonesia (Oboe-5), dan penyerbuan ke Sabah (Oboe-6).

Namun, pada akhirnya hanya 3 dari 6 operasi militer tersebut yang terwujud; penyerbuan ke Kota Tarakan, Kota Balikpapan, serta Sabah. Menurut Australian War Memorial, penyerbuan ke Kota Balikpapan merupakan salahsatu operasi Australia yang paling kontroversial selama Perang Dunia II.

Peta Penyerbuan Balikpapan oleh Divisi ke 7 Australian Imperial Force pada Juli 1945. PHOTO: Australian War Memorial

Panglima pasukan Australia Jenderal Sir Thomas Blamey, sebenarnya justru menyarankan Pemerintah untuk menarik dukungannya untuk Operasi Oboe-2. Tampaknya, Blamey melihat bahwa operasi Australia di Kalimantan tidak akan berhasil mengalahkan Jepang. Namun, Panglima Kawasan Barat Daya Pasifik Jenderal Douglas MacArthur yang telah merancang Operasi Oboe tetap bergerak ke Kota Balikpapan.

Operasi Oboe-2 di Kota Balikpapan merupakan serangan amfibi besar-besaran yang terakhir dalam Perang Dunia II. Operasi militer ini juga menjadi ekspedisi terakhir bagi pasukan Australia dalam melawan Jepang. Plakat tersebut juga mewartakan kengerian Operasi Oboe-2.

Kecamuk di kota pelabuhan minyak itu telah membinasakan 229 serdadu Divisi ke-7 Australia, dan 634 terluka. Sementara di pihak Jepang sejumlah 2.032 serdadunya binasa dan 63 lainnya menjadi tawanan perang.

Hingga saat ini, hubungan Indonesia dan Australia memang mengalami pasang surut. Namun, plakat itu menorehkan sejuta kenangan karib bagi keduanya. “Sejak masa perang itu Indonesia dan Australia telah meningkatkan pertukaran di bidang kebudayaan pendidikan dan ekonomi,” ungkap plakat itu pada paragraf terakhirnya.

Kedua negara tersebut sekarang hidup dengan damai dan rakyatnya akan selalu mengingat mereka yang telah mengorbankan jiwanya untuk mencapai tujuan tersebut,” seperti dikutip Klik Samarinda dari National Geographic.

Di baris paling akhir terdapat tiga kata yang menjadi imbauan kepada siapa saja untuk mengenang mereka yang tewas; “Lest We Forget”. “Jangan Sampai Kita Lupa”. Sebuah foto koleksi Australian War Memorial, yang dibidik Letnan Prior pada 4 Januari 1946, melukiskan satu keluarga Jawa yang memandang tugu peringatan kepada serdadu Australian Imperial Force (AIF) yang tewas.

Kini, monumen itu dikenal sebagai Tugu Australia. Prior mengungkapkan bahwa keluarga itu baru saja dibebaskan dari sebuah kamp kerja paksa di Kota Balikpapan.

Infanteri didukung oleh kendaraan lapis baja menyapu Klandasan dari kuasa Jepang. PHOTO: Australian War Memorial

INDONESIA itu Terrabellica—wilayah perang,” ujar Saleh As’ad Djamhari, seorang sejarawan militer, purnawirawan, dan sekaligus pengajar di FIB Universitas Indonesia.

Saleh pernah mengungkapkan bahwa setiap kali terjadi perang antara dua pihak, perang itu selalu terjadi di Indonesia—Portugis vs. Spanyol, Inggris vs. Belanda-Prancis, dan Australia vs. Jepang. Kendati terjadi di wilayah Nusantara, bangsa ini tidak berpartisipasi dalam pertempuran mereka.

“Orang Indonesia itu sebagai penonton perang yang baik,” ujarnya. “Sampai zaman Jepang, kita hanya menonton dan mendengarkan cerita,” tutupnya. (*)

DMCA.com Protection Status
error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda.@gmail.com