Warta

Hj Meiliana Tokoh Birokrat Kaltim Meninggal Dunia, Ini Jejak Pengabdiannya

KLIKSAMARINDA – Suasana duka menyelimuti Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) setelah kabar Hj Meiliana binti H Muhammad Adnan Sabirin meninggal dunia tersebar pada Selasa, 7 April 2026 sekitar pukul 18.00 Wita.

Meiliana yang akrab disapa Bunda Mei ini meninggal dunia di usia 66 tahun di kediamannya di kawasan Karpotek Blok GG.

Kepergian tokoh perempuan birokrat Kaltim kelahiran Samarinda, 9 Mei 1959 ini langsung memicu gelombang duka, khususnya di kalangan aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat Kaltim. Dikenal sebagai birokrat senior dengan dedikasi tinggi, ia meninggalkan jejak panjang dalam dunia pemerintahan, khususnya di Kaltim.

Ucapan belasungkawa pun datang dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim. Dalam pernyataan resminya di media sosial, Pemprov menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas wafatnya almarhumah.

“Kepergian beliau menjadi kehilangan besar, namun semangat dan pengabdian yang telah diberikan akan selalu hidup dalam ingatan,” tulis pernyataan tersebut.

Kabar wafatnya Meiliana pertama kali beredar melalui media sosial dan dengan cepat menyebar luas. Banyak pihak yang tak menyangka kepergiannya, mengingat tidak ada tanda-tanda sakit serius sebelumnya.

Hal ini juga dibenarkan oleh adik almarhumah, Muhammad Ramadan. Ia menyebut bahwa sebelum wafat, kakaknya tidak menunjukkan gejala penyakit tertentu.

“Tidak ada aktivitas yang berbeda. Seperti biasa saja, sekitar jam 5 sore beliau masih istirahat di kamar,” ujarnya.

Doa dan simpati terus mengalir dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Anggota DPRD Samarinda, Viktor Yuan yang menyampaikan duka mendalam.

“Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ucapnya.

Meiliana bukan sosok biasa dalam sejarah birokrasi Kaltim. Namanya tercatat sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan tertinggi di kalangan ASN Pemprov Kaltim, yakni sebagai Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi.

Ia dilantik pada 8 Maret 2018 oleh Gubernur Kaltim saat itu, Awang Faroek Ishak, di Gedung Lamin Etam, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim Jalan Gajah Mada Samarinda. Momen tersebut bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional dan menjadi tonggak sejarah baru di Kaltim.

Sejak Provinsi Kaltim berdiri pada 1956, jabatan Sekprov selalu diisi oleh laki-laki. Meiliana memungkas tradisi tersebut sekaligus membuka jalan bagi perempuan untuk berkiprah di posisi strategis pemerintahan.

Sebelum menjabat Pj Sekprov, Bunda Mei juga dipercaya mengisi berbagai posisi penting. Ia pernah ditunjuk sebagai Penjabat Wali Kota Samarinda pada November 2015 hingga Februari 2016 saat kepala daerah definitif mengikuti Pilkada. Meiliana juga pernah menjabat Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Kaltim selama 2 hari di akhir masa jabatan Gubernur Awang Faroek Ishak.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setprov Kaltim serta aktif dalam berbagai program strategis daerah. Termasuk kala memasuki masa pensiun, Meiliana masih aktif sebagai Ketua Tim Pelaksana Percepatan Kerjasama Pengembangan Strategis Kepariwisataan Kepulauan Maratua.

Sebagai alumni Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman, Meiliana juga pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul Samarinda.

Dedikasi dan kiprahnya membuat namanya tak akan mudah dilupakan dalam perjalanan birokrasi Benua Etam. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras, hangat, dan dekat dengan banyak kalangan.

Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka di Jalan Kemangi, Perumahan Karpotek Blok GG, Samarinda. Rencananya, almarhumah akan dimakamkan pada Rabu, 8 April 2026 usai salat Ashar.

Lokasi pemakaman berada di Nurul Salam Memorial Park Tanah Merah Samarinda, yang merupakan tempat peristirahatan keluarga.

Kepergian Meiliana bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga kehilangan besar bagi Kaltim. Sosoknya yang inspiratif dan penuh pengabdian akan terus dikenang.

Meiliana yang kini telah meninggal dunia bukan sekadar pejabat, melainkan figur panutan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi daerah. Meski telah tiada, semangat dan jejak pengabdiannya akan tetap hidup di hati masyarakat. (*)

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *