Kisah Sukses Warga Muara Badak Kukar Usaha Daur Ulang Tali Kapal

limbah tali kapal

Usaha daur ulang limbah tali kapal milik Sahabuddin di Muara Badak, Kutai Kartanegara. (Foto: Klik/Man)

KLIKSAMARINDAWarga Jalan Petrolog Desa Gas Alam, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), bernama Sahabuddin sukses menjadi pengusaha tali berbahan daur ulang limbah tali kapal. Usaha tersebut memanfaatkan limbah tali kapal yang sebelumnya menjadi masalah di laut Muara Badak, Kukar.

Sahabuddin memiliki kemampuan mengolah limbah tali kapal dari keahlian yang didapatnya secara otodidak di Sulawesi Barat (Sulbar). Dalam prosesnya, Sahabuddin membeli limbah tali kapal seharga Rp5000-Rp8000 per kilogram.

Limbah tali kapal yang besar itu kemudian diubah menjadi tali dengan berbagai ukuran. Hasilnya digunakan khusus untuk mengikat rumpon atau alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut.

Rumpon sendiri digunakan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitarnya sehingga ikan mudah untuk ditangkap.

Dari setiap 20 meter tali hasil daur ulang ukuran apa saja dijual dengan harga Rp280 ribu. Sahabuddin pun mampu mendapatkan penghasilan demi menafkahi keluarganya.

Usaha Sahabuddin terus berkembang dan telah membantu sebagian tetangganya untuk bekerja bersamanya. Para tetangga itu pun merasakan manfaat pengolahan limbah tali kapal karena memberikan penghasilan untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Saat ditemui di bengkel kerjanya Selasa, 26 Juli 2022, Sahabuddin mengaku tidak sendiri dalam menjalankan usahanya. Dia dibantu beberapa rekan dan tetangga.

Sahabuddin lalu membentuk kelompok usaha yang diberi nama Balanipa Kecamatan Muara Badak. Dengan kelompok usaha tersebut, usaha Sahabuddin terus berkembang.

Sebelumnya, pengolahan limbah tali kapal dilakukan secara manual dengan menggunakan lahan seadanya. Dengan cara manual, dirinya hanya mampu menghasilkan 3-5 rol sehari.

Kini pengolahan limbah tali kapal sudah menggunakan mesin. Hasil produksi tali daur ulang pun meningkat dan mencapai 20-25 rol per hari.

Bahkan lahan yang digunakan juga semakin panjang. Sehingga kualitas produksi tali yang dihasilkan pun meningkat.

Melalui program pengembangan masyarakat, usaha daur ulang tali kapal ini mendapat bantuan dari berbagai pihak. Termasuk bantuan dari PT Pertamina Hulu Sanga-sanga (PHSS) dan Pemkab Kukar.

“Awalnya saya mau dagang. Tapi karena ada kendala, saya beralih menjadi pembuat tali. Awalnya saya itu melihat peluang kenapa tidak saya buat tali. Padahal banyak di Kalimantan Timur. Kenapa hanya di Sulawesi Barat yang membuat tali seperti ini? Maka tercetus saya bawa orang sana berguru, sekalian saya bawa orang ke sini untuk mengajari. Akhirnya jalan sampai sekarang,” ujar Sahabuddin.

Sebelumnya Sahabuddin memiliki satu kelompok kerja terdiri dari 4 orang. Kini kelompok usaha itu memiliki 12 orang pekerja yang merupakan tetangga sekitar rumahnya.

Sahabuddin mengaku penghasilan usahanya dapat membantu para tetangga yang kesulitan ekonomi. Apalagi pasca pandemi yang melanda Tanah Air dalam 3 tahun terakhir.

Seorang pekerja pembuat tali adalah Sutinun. Ibu 4 orang anak ini menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena sedang sakit.

Setiap hari Sutinun bolak-balik sejauh 200 meter di lokasi bekerja dengan menarik tali dan memutarnya dengan menggunakan alat khusus. Sedikitnya Sutinun mampu membuat 24 rol tali bersama 4 orang rekan dalam kelompoknya.

“Iya, tulang punggung keluarga. Anakku 4, dua masih kecil masih SD. Satu lagi kelas 1. Yang nomor 3 kelas 6 SD. Alhamdulillah membantu. Kadang dapat 70 kadang 80 sehari,” ujar Sutinun.

Dari penjelasan Community Development Officer PT Pertamina Hulu Sanga-sanga, Rahmat Dana Pratama, diketahui keberadaan usaha daur ulang tali kapal ini membantu PT PHSS untuk menanggulangi ancaman limbah tali kapal. Limbah tali kapal tersebut banyak menumpuk di dermaga dan juga di dalam laut.

Menurut Rahmat Dana Pratama, selama ini tali yang tidak bisa digunakan karena sudah kedaluwarsa atau rusak dan selalu dibuang ke laut. Tali-tali limbah itu berasal dari kapal-kapal yang sandar di dermaga khusus PHSS.

“Limbah-limbah tali kapal di kita ada juga tali dog. Itu juga gudangnya tali. Sebelumnya tali itu dibuang ke laut. Ada juga yang dari luar PHSS dibuang ke laut. Ada juga yang mereka harus membayar ke TPA untuk buangan tali tadi. Akhirnya kita ada program binaan untuk mengelola daur ulang tali itu. Tali yang besar-besar itu kemudian diolah menjadi kecil-kecil dan nanti sebagai bahan dasar pembuatan rumpon,” ujar Rahmat Dana Pratama.

Usaha tali daur ulang yang dirintis Sahabuddin tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan para nelayan di Muara Badak. Sejumlah nelayan dari kota Bontang, Kutai Timur, hingga kota Balikpapan dan Samarinda juga memesan tali limbah buatan Sahabuddin. (Man)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status