Sensasi Mancing di Apartemen Ikan Muara Pantuan Anggana Kukar

apartemen ikan

Spot mancing di Muara Pantuan Kukar

KLIKSAMARINDA – Apartemen ikan di kawasan laut Muara Pantuan, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memberikan sensasi memancing tersendiri bagi para pemancing. Para pemancing yang datang bisa merasakan tarikan ikan buruannya.

Di lokasi apartemen ikan Muara Pantuan, terdapat berbagai macam ikan. Antara lain, ikan kakap merah, ikan kerapu, ikan tongkol hingga tuna.

Apartemen ikan ini lebih populer disebut rumpon. Rumpon merupakan rumah buatan bagi ikan di dasar laut.

Rumpon ini dibuat secara sengaja dengan menaruh berbagai jenis barang di dasar laut seperti ban, dahan dan ranting dengan pohonnya, hingga besi yang tidak digunakan di dasar laut.

Keberadaan rumpon-rumpon di dasar laut ini mempermudah para nelayan untuk mencari ikan. Selain itu, keberadaan rumpon ini juga turut menjaga kelestarian alam di laut Muara Pantuan, Kukar.

Dengan adanya rumpon, para nelayan tidak menggunakan alat tangkap lain yang dilarang oleh pemerintah seperti trol maupun bom.

Keberadaan rumpon yang mempermudah mendapatkan ikan mampu manarik kedatangan pecinta pancing dari berbagai daerah. Mereka berasal dari Jakarta, Balikpapan, dan Samarinda.

Setiap minggunya, nelayan dari Desa Muara Pantuan selalu mengantarkan para pengunjung yang ingin memancing di seputar apartemen ikan milik warga Muara Pantuan ini.

Namun, untuk mencapai tempat ini, para pengunjung cukup sulit. Wisatawan harus menempuh perjalanan sungai menggunakan kapal nelayan selama 2.5 jam dari dermaga Sungai Meriam, Kecamatan Anggana.

Para pemancing juga bisa menikmati sensasi memancing ikan yang sangat menyenangkan karena tidak perlu lama untuk menunggu. Kail pemancing sudah langsung disambar ikan-ikan yang berada di apartemen ikan.

Untuk mengetahui keberhasilan rumpon, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit sekitar 3-6 bulan. Namun usaha pembuatan rumpon ini merupakan solusi terbaik meningkatkan hasil perikanan di laut.

Seorang pemancing dari Samarinda, Rusdi, mengaku memancing di rumpon milik warga Muara Pantuan sama seperti membeli ikan di pasar. Bedanya jika di pasar bisa melihat ikan yang dibeli.

Sementara di tempat apartemen ikan, pemancing belum bisa mengetahui ikan apa yang didapat sampai benar-benar diangkat ke permukaan.

Selain itu, Rusdi mengaku senang karena para nelayan benar-benar memberikan lokasi yang memang banyak di tempat ikan laut yang siap dibawa naik.

“Rumponnya bagus. Apalagi malam, lebih banyak lagi kendalanya,” ujar Rusdi.

Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kabupaten Kukar telah mencatatkan wilayahnya secara geografis dikelilingi wilayah perairan, seperti sungai, danau, dan lautan.

Pada 2021 lalu, sektor perikanan Kukar memberikan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp9 miliar. Saat ini, jumlah nelayan dan pembudidaya di Kukar mencapai 37 ribu orang.

DKP Kukar sangat mendukung langkah nelayan di Muara Pantuan yang mengembangkan ekowisata memancing di kawasan ini. Karena selain upaya mempertahankan laut di Muara Pantuan tetap terjaga, juga membuka destinasi baru pengembangan wisata di Kabupaten Kukar.

“Kita kira ini adalah potensi yang besar bagi kita, terutama untuk kegiatan-kegiatan yang bersiat ekowisata. Karena Delta Mahakam ini kaya akan jenis ikan. Terutama ikan-ikan dasar, ikan-ikan lumpur. Seperti ikan kerapu, ikan kakap. Itu merupakan destinasi yang bagus untuk kita,” ujar Kepala DKP Kukar, Muslik.

Pencetus apartemen ikan atau rumpon, Azis, mengatakan ide pembuatan rumpon di kawasan laut Muara Pantuan muncul karena mahalnya harga solar untuk nelayan Muara Pantuan.

Menurut Aziz, di kampung itu, tidak ada tempat pembelian solar resmi. Sehingga para nelayan harus rela membeli bahan bakar minyak jenis solar dengan harga Rp15 ribu rupiah per liter.

Para nelayan terpaksa membeli solar dari kapal-kapal motor yang singgah di kampung mereka. Biasanya, kapal-kapal yang berlayar singgah membeli ikan-ikan tangkapan nelayan dan pasa saat itulah terjadi barter antara ikan tangkapan nelayan dengan bbm solar.

Aziz menambahkan, solar yang terbatas juga membuat para nelayan tidak ingin mencari ikan jauh-jauh dari kampungnya. Para nelayan memutuskan membuat rumpon.

Pembuatan rumpon awalnya hanya coba-coba. Kini setelah berjalan 6 bulan, telah ada sebanyak 30 rumpon milik warga nelayan Muara Pantuan.

“Yang pertama kita buat itu dari bambu. Yang kedua terbuat dari besi. Yang ketiga ada memang itu khusus kaya apartemen yang dianjurkan dipakai termasuk yang tidak merusak laut. Dari Dinas Kelautan Pusat. Kalau untuk kami, saya sendiri ada 10 spot. Totalnya semua yang ada mungkin ada sekitar 30 spot,” ujar Aziz.

Desa Muara Pantuan ada di ujung Sungai Mahakam. Tidak ada jalan darat menuju perkampungan nelayan. Siapapun yang ingin datang, harus menumpang perahu atau kapal motor.

Sejak 55 tahun silam, kawasan Delta Mahakam dikenal sebagai sumber minyak dan gas bumi nasional. Produksinya mencapai 34 persen produksi nasional saat operatornya masih perusahaan asing Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.

Sejak 1 April 2017, kontrak perusahaan asing berakhir. Pertamina lalu menjadi pengelola baru seluruh sumur minyak dan gas di sana.

Kini Azis dan para nelayan berharap kelak desa mereka menjadi sasaran kunjungan para wisatawan. Mereka bisa datang memancing serta menikmati suasana perkampungan nelayan, taman mangrove, dan pemandangan lepas pantai berhiasan sinar dari rig-rig perusahaan. (Suriyatman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

DMCA.com Protection Status