79 Orang Meninggal dan 40 Ribu Rumah Rusak Akibat Bencana di Kaltim Sepanjang 2025

KLIKSAMARINDA – Deretan bencana yang melanda Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2025 meninggalkan duka mendalam. Data resmi infografis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim yang dirilis Senin, 5 Januari 2026, mencatat sebanyak 79 orang meninggal dunia dan 22 orang lainnya dinyatakan hilang akibat berbagai kejadian bencana selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025.
Selain korban jiwa, dampak kerusakan yang ditimbulkan juga tergolong masif. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB), total 40.180 unit rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat. Angka ini menunjukkan besarnya tekanan bencana terhadap permukiman masyarakat di berbagai daerah di Kaltim.
Bencana hidrometeorologi masih menjadi penyumbang utama korban dan kerusakan. Banjir yang terjadi sebanyak 268 kali sepanjang 2025 menyebabkan banyak rumah terendam, akses jalan terputus, serta aktivitas warga lumpuh selama berhari-hari. Kebakaran pemukiman yang tercatat 259 kejadian juga menyumbang kerusakan rumah dalam jumlah besar, terutama di kawasan padat penduduk.
Tak hanya rumah warga, infrastruktur publik ikut terdampak. BPBD Kaltim mencatat sebanyak 122 fasilitas umum mengalami kerusakan, termasuk kantor pelayanan masyarakat dan sarana ibadah. Sektor pendidikan pun tak luput dari dampak, dengan 59 fasilitas pendidikan dilaporkan rusak. Selain itu, sepanjang 23,46 kilometer jalan mengalami kerusakan, menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Dari sisi kemanusiaan, jumlah warga terdampak tergolong tinggi. Tercatat sebanyak 162.913 orang terdampak atau menderita akibat bencana sepanjang 2025. Sebanyak 278 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara 58 orang mengalami luka-luka atau sakit akibat bencana.
Secara wilayah, Kota Samarinda menjadi daerah dengan dampak bencana paling signifikan. Selain mencatat frekuensi tertinggi dengan 232 kejadian, ibu kota provinsi ini juga menyumbang angka kerusakan rumah dan fasilitas publik yang besar. Kutai Timur dan Kutai Barat menyusul sebagai wilayah dengan dampak bencana cukup berat, seiring tingginya kejadian banjir, longsor, dan kebakaran pemukiman.
BPBD Kaltim menegaskan bahwa tingginya jumlah korban meninggal dan kerusakan menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Upaya pengurangan risiko bencana perlu diperkuat, mulai dari perbaikan tata ruang, perlindungan lingkungan, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
“Kesadaran untuk menjaga lingkungan dan kesiapan dalam menghadapi situasi darurat adalah kunci untuk mengurangi risiko kebencanaan di tahun-tahun mendatang,” demikian BPBD Kaltim sampaikan pada keterangan tertulis, Senin 5 Januari 2026. (*)




