Clicky

Jatam Kaltim Kritik Kebijakan Wali Kota dan Wawali Samarinda

KLIKSAMARINDA – Dalam diskusi webinar bertema Kaltim dalam Jejak Bencana dan Jurnalisme Empati, Rabu petang 24 Maret 2021, Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang atau Jatam Kalimantan Timur menyoroti kebijakan kepala daerah dalam menangani dampak bencana yang diduga merupakan ekor dari pengelolaan sumber daya alam yang tidak terkendali.

Satu di antaranya adalah kepala daerah terpilih di Kota Samarinda.

Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang yang menjadi satu di antara 3 narasumber dalam webinar yang digagas Aliansi Jurnalis Independen Samarinda tersebut, menukil sejumlah fakta bencana dari ekploitasi sumber daya alam di Samarinda. Jatam Kaltim menilai, program pemulihan kawasan pasca tambang yang digagas Pemkot Samarinda di masa kepemimpinan baru ini justru menghadirkan defisit pemulihan.

Jatam Kaltim menilai jika Pemerintah Kota Samarinda tidak merespon dengan transisi proses pemulihan pasca penambangan yang ada di Samarinda, khususnya di wilayah krisis pasca industri ekstraksi pertambangan yang mengepung Samarinda. Kepemimpinan Samarinda yang baru mengalami transisi dinilai Jatam Kaltim tidak memberikan jalan keluar terhadap krisis yang ada.

Jatam Kaltim mempertanyakan kesungguhan pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana serta melakukan pemulihan dalam konteks revegetasi yang lebih progresif. Progres pemulihan yang dihadirkan yang ada hanya mengalihfungsikan sejumlah lubang tambang di wilayah terganggu menjadi ruang pengendali banjir.

”Kritik Jatam Kaltim terkait kebijakan Wali Kota terpilih yaitu Andi Harun dan Rusmadi justru tidak memberikan respon keselamatan dan penanggulangan untuk keluar dari problem bencana industri yang sudah berlangsung satu dekade lebih. Yang terjadi, justru adalah mencangkokkan kembali wilayah krisis tersebut dan bergantung kepada model warisan hasil pembukaan kolosal tambang. Ada 349 lubang tambang hasil temuan Jatam Kaltim di Kota Samarinda. Tapi itu justru dipertahankan untuk mitigasi bencana. Tapi bagi kami ini tidak lebih adalah pemutihan tanggung jawab reklamasi yang seharusnya dibebankan kepada perusahaan pemilik izin tambang,” ujar Pradarma Rupang.

Sementara aktivitas pertambangan batubara terus berjalan, dalam 5 tahun, Jatam Kaltim mencatat luasan wilayah terdampak banjir semakin meluas. Jatam menilai jika banjir menjadi salah satu dampak yang terjadi diduga berasal dari aktivitas tambang.

”Luasan banjir di Samarinda pada 2014 seluas 1722 hektare. Pada 2019 luasan banjir mencapai 2100 hektare. Hampir seratus persen peningkatannya. Jika mitigasi bencana yang menjadi program pemerintah tidak menyentuh jantung persoalan, hanya akan meningkatkan dampak banjir yang lebih luas. Hanya akan mempercepat kenaikan dan tidak memberikan solusi jangka panjang yang tepat. Bencana akan berulang,” ujar Pradarma Rupang.

”Politisi di daerah justru menghindari pendekatan yang paling utama yaitu menanggulangi hulu dari krisis tersebut,” ujar Pradarma Rupang.

Paparan Pradarma Rupang tersebut menjadi satu gambaran literasi kebencanaan yang dinilai AJI Samarinda kurang mendapat porsi pemberitaan media massa maupun jurnalis di Kaltim.

Menurut dinamisator AJI Samarinda, Zakarias Demon Daton, literasi kebencanaan akan menukil sejumlah fakta. Selain penyebab bencana karena faktor alam, salah urus Sumber Daya Alam (SDA) di Kaltim juga memberi kontribusi besar terhadap bencana. Misalnya, pertambangan batubara yang tak direklamasi, alih fungsi hutan, illegal logging dan lainnya yang areal banjir, longsor, dan lainnya.

”Karena itu, AJI Kota Samarinda ingin mendorong tiga perspektif perihal literasi kebencanaan ini. Pertama, mengkritisi pengelolan SDA di Kaltim yang tak berkelanjutan (unsustainable). Kedua, dampak dan kontribusinya bencana. Ketiga, edukasi mitigasi dan jurnalisme empati dalam peliputan bencana,” ujarnya melalui keterangan tertulis.

Dalam webinar yang juga disiarkan langsung melalui kanal Youtube AJI tersebut, hadir secara virtual tiga narasumber,, yaitu Ir. Fajar Alam, ST, M.Ling seorang Dinamisator Akademisi Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Pradarma Rupang dari Jatam Kaltim, dan Ahli Pers, Novi Abdi dengan moderator Fitri Wahyuningsih dari AJI Samarinda. (*)

Tinggalkan Balasan

DMCA.com Protection Status