Inflasi Samarinda Masih Terkendali di Bawah Rata-Rata Nasional

inflasi Samarinda

Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Kota Samarinda, Yuyum Puspitaningrum (Foto: Klik/Pia)

KLIKSAMARINDA – Hingga akhir November 2022, kondisi inflasi Samarinda masih terkendali. Menurut Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Kota Samarinda, Yuyum Puspitaningrum, inflasi Samarinda ada di kisaran 0,22 persen.

Yuyum Puspitaningrum menerangkan, kondisi terkini inflasi Samarinda itu menjadi fokus perhatian lintas OPD di Pemkot Samarinda bersama instansi vertikal lainnya.

Hal itu tertuang dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah berdasarkan radiogram Kementerian Dalam Negeri yang rutin digelr setiap pekan.

“0,22 persen itu termasuk normal. Kalau untuk negara kita saja, itu 5,25 persen dengan urutan ke-5 dalam G20. Belum lagi tadi ditampilkan ada yang inflasinya sampai 9,11 di daerah,” ujar Yuyum Puspitaningrum, Senin 28 November 2022.

Pada Oktober 2022, inflasi tertinggi berada di Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Inflasi di Tanjung Selor mencapai dengan 9,11 persen. Inflasi terendah berada di Ternate dengan 3,32 persen.

“Inspektorat Jenderal yang menghimpun, kemudian dari Dinas Perdagangan (Disdag) mengirim data dari TPID. Dari insprektorat ini juga akan mengirim data setiap hari kepada kementerian guna terus mengendalikan inflasi,” ujar Yuyum Puspitaningrum.

Antisipasi dan pengendalian inflasi di Kota Tepian, karena itu, menjadi penting bagi pihak terkait dalam upaya untuk terus melakukan tindakan pencegahan.

Beberapa upaya di Samarinda, menurut Yuyum Puspitaningrum, juga dilakukan. Antara lain, adanya Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber), penanaman cabai 10 hektar, probebaya mart, pasar murah, pasar tani, hingga pembagian voucher listrik.

Upaya-upaya tersebut terutama untuk mengurangi ketergantungan Samarinda atas produk yang berasal dari luar daerah.

“Kalau untuk penyebab inflasi pastinya karena banyak keinginan, permintaan (demand) tinggi, tapi stoknya kurang,” ujar Yuyum Puspitaningrum.

Yuyum Puspitaningrum mengakui bahwa persoalan pengendalian inflasi ini termasuk ke dalam hal yang darurat.

Pasalnya, pada tahun 2023 mendatang, negara-negara di dunia diprediksi akan collapse (jatuh). Tak terkecuali provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Kota Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Yuyum Puspitaningrum mengatakan, tolak ukur inflasi di Kota Samarinda adalah ikan layang. Sebab, demandnya sangat tinggi.

Namun ketersediaan ikan layang kurang karena ikan tersebut tidak bisa dibudidaya. Sementara pola konsumsi masyarakat memiliki permintaan tinggi terhadap ikan layang.

“Nah itu, secara jujur Badan Pusat Statistik (BPS) pun mensurvei, memang itu penyebabnya. Masyarakat sukanya itu, maka itulah yang jadi patokan,” ujar Yuyum Puspitaningrum.

Yuyum Puspitaningrum berharap pemerintah dan masyarakat solid dan saling mendukung program pengendalian inflasi yang tengah berjalan. Tujuannya agar inflasi dapat terkendali dan tidak membuat ekonomi kolaps.

“Semoga aja tim kita dapat terus solid dan masyarakat terus mendukung apa yang diupayakan oleh pemerintah,” ujar Yuyum Puspitaningrum. (Pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status