BPS Ungkap Beras dan Minyak Goreng Penyumbang Kenaikan Harga Pangan

penyumbang kenaikan harga

KLIKSAMARINDA – Beras dan minyak goreng menjadi komoditas yang menjadi penyumbang kenaikan harga komoditas pangan di 34 provinsi dan 514 kabupaten kota di Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto, menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), di Sasana Bhakti Praja, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin 31 Oktober 2022.

Rakor ini dipimpin langsung Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian diikuti jajaran pemerintahan terkait mulai tingkat pusat hingga pemerintah daerah tingkt provinsi dan kabupaten kota.

Dalam paparannya, Setianto menyatakan data tersebut merupakan data hasil pemantauan mingguan kenaikan harga di seluruh kabupaten kota dan provinsi di Indonesia per 30 Oktober 2022.

Dalam rinciannya, Setianto menerangkan, komoditas beras menjadi penyumbang kenaikan haarga di 34 provinsi di Indonesia.

Sementara minyak goreng menjadi faktor penyumbang kenaikan harga kedua disusul gula pasir.

“Sampai dengan minggu ke-4 Oktober 2022, (month to Date), beras menjadi komoditas yang menyumbang kenaikan harga di 34 provinsi. Sementara minyak goreng menjadi menyumbang kenaikan harga di 31 provinsi dan gula pasir di 29 provinsi,” ujar Setianto dalam rakor yang disiarkan melalui Kanal Youtube Kemendagri.

Sementara untuk komoditas yang menyumbang kenaikan harga di tingkat kabupaten kota di 514 kabupaten kota di seluruh Indonesia, tercatat minyak goreng menempati urutan pertama yang menyumbang kenaikan harga pangan di 318 kabupaten kota.

Sementara beras menyumbang kenaikan harga pangan di 281 kabupaten kota, gula pasir di 267 kabupaten kota, dan telur ayam ras di 150 kabupaten kota.

Setianto menjelaskan, hasil pemantauan harga mingguan ini berdasarkan pemantauan harga terhadap 20 komoditas terpilih.

Komoditas terpilih itu, antara lain, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai merah, cabe rawit, minyak goreng, gula pasir, bawang putih, daging sapi, tepung terigu, udang, ikan, mie instan, tempe, tahu mentah, pisang, susu bubuk balita, susu bubuk, dan jeruk.

Selain komoditas penyumbang kenaikan harga, Setiono juga merinci fluktiasi harga di kabupaten kota.

“Cabai rawit, pisang, dan cabai merah mengalami fluktuasi harga cukup signifikan di minggu ke-4 Oktober 2022. Selain itu tahu mentah dan tempe mengalmi fluktuasi harga di 31 provinsi di Indonesia,” ujar Setiono.

Indikator yang cepat dan akurat itu, menurut Setiono, sebagai upaya mitigasi untuk menentukan kebijakan yang akan diambil dengan mendeteksi perubahan harga mingguan di seluruh kabupaten kota dan provinsi di Indonesia.

“Perlu indikator yang cepat dan akurat untuk bisa memetakan komoditas pangan yang menjadi target kita yang akan dikendalikan harganya,” ujar Setiono.

BPS sendiri menentukan hasil pemantauan harga dengan metodologi pantauan harga 20 komodits terpilih yang disepakati dari Kemendagri dan Kementerian Perdagangan serta kementerian terkait di 34 provinsi dan 514 kabupaten kota.

BPS juga mengambil data dari sumber Dirjen Kemendagri, Kementerin Perdagangan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), serta data BPS. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status
error: Maaf Konten Diproteksi oleh Sistem !! Sila hubungi redaksi melalui email kliksamarinda.@gmail.com