Pesona Danau Biru Desa Panca Jaya, Area Wisata dari Bekas Tambang Batubara

KLIKSAMARINDA – Sejauh mata memandang, hamparan air berwarna hijau toska berkilau di bawah terik matahari Kutai Kartanegara (Kukar). Sekilas, pemandangan ini tampak seperti destinasi wisata premium di luar negeri. Namun siapa sangka, keelokan ini lahir dari rahim industri yang dulunya gersang: sebuah lubang raksasa bekas galian batubara.
Memasuki awal tahun 2026, wajah Desa Panca Jaya, Kecamatan Muara Kaman, berubah total. Lokasi yang dulunya merupakan lahan terbengkalai pasca-aktivitas pertambangan, kini disulap menjadi destinasi wisata keluarga yang populer dengan sebutan Danau Biru.
Warna hijau memikat yang menjadi daya tarik utama danau ini berasal dari proses alami mineral tanah yang bereaksi setelah aktivitas tambang berhenti. Meski terbentuk secara tidak sengaja, pengelola memastikan bahwa parameter air di danau ini tetap terpantau aman bagi pengunjung yang ingin berinteraksi langsung dengan air.
Segarnya air danau menjadi magnet yang sulit ditolak. Di beberapa sudut, tampak anak-anak dengan berani terjun dari ketinggian tebing, merasakan sensasi mendarat di air yang memiliki kedalaman hingga 20 meter tersebut.
Namun, pengelola tidak main-main soal nyawa. Mengingat kedalamannya yang ekstrem, standar keselamatan diterapkan dengan ketat. “Untuk keselamatan, kami selalu menghimbau pengunjung agar wajib menggunakan baju renang dan pelampung yang telah kami sediakan di bibir danau,” tegas Yusran, salah satu pengelola dari BUMDes setempat.
Ledakan pengunjung ini bermula sejak masa libur akhir tahun 2025 lalu. Keindahan dinding tebing sisa tambang yang estetik mendadak viral di media sosial, memicu rasa penasaran warga dari berbagai daerah.
Nurjayanti, seorang pengunjung asal Tenggarong Seberang, mengaku rela menempuh perjalanan jauh demi membuktikan apa yang ia lihat di layar ponselnya. “Iya, ke sini karena lihat viral di medsos. Ternyata aslinya memang bagus dan ramai banget buat liburan keluarga,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Akses menuju keindahan ini pun tergolong sangat merakyat. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek untuk parkir sebesar Rp3.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil. Bagi yang ingin menjelajahi tengah danau tanpa harus basah-basahan, tersedia penyewaan perahu karet dengan tarif Rp50.000. Sementara bagi yang hanya ingin bersantai, warga sekitar menyediakan penyewaan karpet hingga perangkat karaoke untuk memeriahkan suasana.
Kehadiran Danau Biru menjadi oase baru bagi ekonomi warga Desa Panca Jaya. Pengelolaan yang kini resmi dipegang oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) membuka lapangan kerja baru. Warung-warung kecil yang menjajakan kopi hingga makanan cepat saji kini menjamur di sekitar area wisata.
Yatimah, salah satu pedagang di area Danau Biru, mengungkapkan rasa syukurnya atas perubahan ini. “Alhamdulillah ramai, Pak. Sangat membantu ekonomi orang sini. Sebelumnya sepi sekali karena ini kan cuma bekas galian yang ditinggal gitu aja. Sekarang jadi ramai,” tuturnya semringah.
Fenomena Danau Biru di Desa Panca Jaya membuktikan bahwa bekas lahan tambang tidak selamanya meninggalkan luka lingkungan yang permanen. Dengan kreativitas dan tata kelola yang tepat, lubang galian yang dulunya terbengkalai kini menjelma menjadi sumber keceriaan sekaligus penggerak roda ekonomi masyarakat desa. (*)
Penulis: Suriyatman




