Gubernur Kaltim Tegaskan Sawit Minim Beri Kontribusi Daerah

KLIKSAMARINDA – Kontribusi perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai masih minim. Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menyebut daerah hanya menerima dampak buruk, mulai dari jalan rusak hingga minimnya fasilitas pendidikan dan kesehatan.
“Kaltim cuma dapat jalan rusak, ada daerah tertinggal. Fasilitas kesehatan tidak memadai, listrik tidak masuk desa, dan sekolah pun minim di area aktivitas perusahaan perkebunan sawit,” ungkap Rudy Mas’ud saat audiensi bersama Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan (FKPB), dan Dinas Pangan, Tanaman Pangan, serta Hortikultura (DPTPH), Selasa 19 Agustus 2025.
Menurutnya, potensi perkebunan sawit di Kaltim sangat besar, namun kontribusinya terhadap pembangunan daerah masih jauh dari harapan. Kondisi ini, tegas Rudy, harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan para pelaku usaha perkebunan.
Meski begitu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim tetap mengapresiasi FKPB yang berinisiatif menggelar diskusi publik sekaligus peluncuran buku berjudul Empat Dekade Perkebunan di Bumi Etam. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah strategis membahas persoalan kontribusi sawit, sekaligus memperluas perhatian hingga ke tingkat nasional.
Rudy Mas’ud menekankan pentingnya menghadirkan penghasil kelapa sawit dari Sumatera dan Kalimantan agar diskusi lebih komprehensif. Ia juga mendorong agar kementerian terkait, termasuk Kementerian Keuangan, ikut dihadirkan dalam forum tersebut.
“Saya setuju kalau Dinas Perkebunan mau buat kegiatan. Jangan tanggung-tanggung. Kalau bisa secara nasional. Bahkan, panggil juga Menteri Keuangan hadir ke Kaltim,” tegas Rudy.
Menurutnya, kehadiran kementerian pusat diperlukan agar pemerintah tahu porsi penerimaan Kaltim dari hasil sawit yang disetor ke pusat. Rudy berharap langkah ini membuka jalan bagi peningkatan kontribusi industri sawit terhadap pembangunan di daerah.
Rudy menegaskan bahwa kontribusi nyata industri sawit harus segera diwujudkan. “Semua itu, kita lakukan, agar mereka tahu bagaimana kondisi Kaltim. Kenapa kontribusi dari perkebunan sawit untuk Kaltim tidak ada,” kata Gubernur.
Buku Sejarah Perkebunan Sawit
Selain diskusi publik, penerbitan buku Empat Dekade Kelapa Sawit di Kalimantan Timur, Kisah Pertumbuhan dan Tantangan Berkelanjutan juga dianggap penting. Buku tersebut menjadi tonggak dokumentasi sejarah industri sawit di Kaltim.
Hingga kini, belum ada satu pun buku yang sistematis menggambarkan perjalanan hampir lima dekade perkembangan perkebunan sawit di Kaltim. Buku ini hadir sebagai refleksi, panduan masa depan, serta sumber pengetahuan yang merangkum catatan sejarah, data statistik, hingga testimoni para pelaku utama industri sawit.
Acara audiensi dihadiri Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, Siti Farisyah Yana, Plt Kadisbun Kaltim Andi Siddik, serta jajaran pengurus FKPB Kaltim. Turut hadir Ketua Harian FKPB H. Yus Alwi, akademisi Dr. Odit, dan Ketua Pokja Bidang Produktivitas Surono. (Adv/Diskominfo Kaltim)




