Warta

Mimpi Anak-Anak Muara Enggelam Menggema Lewat Puisi

KLIKSAMARINDA – Di tengah bentangan Danau Melintang yang luas dan sunyi, suara harapan anak-anak SD Negeri 11 Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), menggema lewat bait-bait puisi. Meski tinggal di perkampungan terpencil yang dikelilingi perairan, mereka tak kehilangan mimpi besar untuk masa depan.

Dalam lomba membaca puisi yang digelar oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulawarman (UNMUL), anak-anak Muara Enggelam menyuarakan cita-cita mereka dengan lantang. Mereka tahu jalan untuk meraih impian tidaklah mudah. Namun meski tak mudah, semangat belajar dan tekad kuat menjadi bekal utama mereka untuk menghadapi keterbatasan.

Lewat puisi, mereka menyampaikan keyakinan bahwa meski hidup di tengah danau dan keterisolasian, mereka tetap bisa berprestasi. Sebab bagi mereka, cita-cita tak mengenal batas geografis.

Desa Muara Enggelam memang memiliki kondisi geografis unik. Terletak di tengah Danau Melintang seluas sekitar 11 ribu hektar, masyarakat desa ini bergantung pada air sebagai jalur utama transportasi. Sebanyak 178 kepala keluarga dengan total 747 jiwa menggantungkan hidup sebagai nelayan. Untuk menuju sekolah atau desa terdekat, anak-anak harus menempuh perjalanan 30 menit menggunakan perahu.

Keterbatasan infrastruktur dan akses menjadi kendala besar bagi anak-anak desa ini untuk mengikuti berbagai kompetisi di luar wilayah. Meski memiliki banyak anak berprestasi, jarak dan biaya menjadi tembok penghalang yang belum mudah dirobohkan.

Araira, Ketua Rombongan KKN UNMUL, menilai bahwa potensi anak-anak Muara Enggelam setara dengan anak-anak kota. Sayangnya, minimnya fasilitas dan kurangnya dukungan membuat potensi itu sulit diasah secara maksimal. “Potensi mereka luar biasa, hanya saja kesempatan dan fasilitas belum mendukung,” ungkap Araira.

Hal senada disampaikan Kepala SDN 11 Muara Enggelam, Hery Hahyadi. Menurutnya, sudah ada anak dari desa ini yang kini menempuh pendidikan hingga ke Kairo, Mesir. Namun keterbatasan biaya membuat upaya mengembangkan bakat anak di bidang seni, akademik, dan lainnya sulit diwujudkan.

“Kami ingin sekali membawa mereka ikut lomba tari, puisi, dan lainnya. Tapi biaya transportasi menjadi kendala utama,” ujar Hery.

Meskipun demikian, semangat anak-anak di pedalaman Kalimantan Timur tak pernah padam. Harapan mereka tumbuh seiring semangat belajar yang terus menyala, menunggu uluran tangan untuk membantu mereka berkembang lebih jauh.

Mari kita dukung anak-anak Muara Enggelam. Mereka adalah aset bangsa yang berharga, yang hanya membutuhkan kesempatan dan ruang untuk menunjukkan kemampuannya. Dengan dukungan semua pihak, anak-anak pedalaman ini bisa menjadi generasi hebat yang membawa Indonesia menuju masa depan cerah. (Suriyatman)

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker