Fokus News

Dua Perawat Asal Kutai Kartanegara Yang Bekerja di Samarinda Terkonfirmasi Positif Covid-19

Ilustrasi

KLIKSAMARINDA – Dalam rilis Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kaltim, Kamis 28 Mei 2020, Juru Bicara Andi Muhammad Ishak menyatakan adanya dua pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum AW Syaharanie Samarinda.

Keduanya merupakan PDP yang ditetapkan DPJP dan Dinkes Samarinda dengan hasil Rapid test reaktif dan dinyatakan positif Covid-19, pada 23 Mei lalu.

Kedua perawat tersebut adalah pasien dengan kode SMR 39 laki-laki 30 tahun dan SMR 40 wanita 30 tahun. Kasus SMD 39 memiliki keluhan demam, batuk, dan pilek. Semua kssus dirawat di Wisma Atlet Kutai Kartanegara.

“Benar yang bersangkutan adalah perawat di AWS, ber-KTP Samarinda, namun menetap di Tenggarong,” ujar Andi Muhammad Ishak saat rilis update Covid-19 di Kaltim, via aplikasi Zoom Cloud.

Andi juga mengakui, baru menerima laporan detail pekerjaan dari SMR 39 dan SMR 40 pada hari ini. Laporan yang tidak lengkap dari Dinkes Samarinda, membuat Dinkes Kaltim baru dapat menyampaikan info tersebut ke media. Andi menegaskan pihaknya tidak dalam rangka menutupi informasi tersebut.

“Sebenarnya, info yang datang ke kami tidak dengan pekerjaannya, kami juga tidak mengetahui pekerjaan yang berdangkutan dari mana, kecuali ada informasi yang disampaikan oleh Dinkes Samarinda,” ujar Andi Muhammad Ishak.

Tak hanya kedua perawat yang merupakan pasangan suami istri tersebut, anak dari pasangan ini pun terpapar Covid-19 dan terkonfirmasi positif dengan kode SMR 41 (anak) pada Rabu 27 Mei 2020.

“SMD 41 (Laki-laki 2 Tahun) merupakan kasus OTG kontak erat SMD 29 dan 40 yang dirawat di Wisma Atlet Kutai Kartanegara sejak terkonfirmasi hari ini,” demikian rilis Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kaltim pada 27 Mei 2020.

Dugaan penyebab penularan kedua perawat ini, Plt. Kepala Dinas Samarinda, Ismet Kosasih menyebutkan potensi wilayah penularan bisa dari dua daerah, yaitu Samarinda sebagai tempat bekerja keduanya dan Kutai Kartanegara sebagai tempat tinggalnya.

“Ada dua daerah yang besar kemungkinan jadi penularan, sehubungan dengan aktivitas dan tempat tinggalnya. Samarinda dan Kukar,” ujar Ismed Kosasih. (*)