DPRD Samarinda Dorong Materi Antinarkoba Masuk Sekolah, Tes Urine Pelajar Masih Dikaji
Kliksamarinda.com – Upaya memerangi penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar Kota Samarinda didorong agar tidak hanya bergantung pada penanganan ketika kasus muncul.
Edukasi sejak dini melalui lingkungan sekolah dinilai menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran sekaligus mempersempit ruang penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, mengungkapkan pentingnya memperkuat kolaborasi antara Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Samarinda, Dinas Pendidikan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) dalam menyusun langkah pencegahan yang lebih terarah.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan lintas perangkat daerah yang membicarakan sinergi untuk menekan kasus narkotika di Kota Tepian.
Menurut Ismail, salah satu gagasan yang mengemuka ialah mengintegrasikan pendidikan antinarkoba ke dalam kegiatan pembelajaran maupun aktivitas ekstrakurikuler di sekolah.
Skema tersebut masih perlu dibahas lebih lanjut agar dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi satuan pendidikan.
Ia menilai pendekatan edukasi harus mendapat porsi lebih besar dibandingkan penanganan yang baru dilakukan setelah muncul persoalan.
“Jangan sampai kita baru bergerak ketika sudah ada kasus. Yang lebih penting adalah membangun pencegahan sejak awal, sehingga seluruh pihak memiliki kepedulian yang sama terhadap bahaya narkoba,” ujarnya belum lama ini.
Ia menekankan, sekolah dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkuat pemahaman pelajar mengenai risiko penyalahgunaan narkotika. Namun, upaya tersebut tidak cukup jika hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Keterlibatan pemerintah, keluarga, dan lembaga terkait juga diperlukan agar pencegahan berjalan berkesinambungan.
“Selain penguatan edukasi, wacana tes urine bagi pelajar turut menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan dalam upaya deteksi dini,” tuturnya.
Meski demikian, Ismail menjelaskan bahwa pelaksanaan tes urine belum dibahas secara khusus dalam pertemuan tersebut.
Ia berpandangan, pemeriksaan dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu orang tua mengetahui kondisi anak lebih awal, sehingga langkah pendampingan bisa dilakukan sebelum persoalan berkembang lebih jauh.
Namun, penerapan tes urine secara menyeluruh bagi pelajar di Samarinda membutuhkan perhitungan matang, terutama dari sisi pembiayaan.
Dengan jumlah siswa yang besar, pemerintah daerah perlu mengkaji kebutuhan anggaran apabila pemeriksaan hendak dilakukan terhadap seluruh pelajar.
Karena itu, pembahasan lanjutan bersama Dinas Pendidikan diperlukan untuk menilai kemampuan pembiayaan sekaligus mencari alternatif yang memungkinkan.
“Tes urine bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari deteksi dini. Tetapi kita juga harus menghitung kemampuan anggaran daerah. Kalau sasarannya seluruh pelajar, tentu kebutuhan biayanya perlu dikaji terlebih dahulu,” jelasnya.
Bagi Ismail, tantangan utama bukan sekadar menentukan program yang akan dijalankan, melainkan memastikan setiap langkah pencegahan dapat diterapkan secara realistis dan berkelanjutan.
Ia berharap pembahasan lanjutan antarlembaga mampu menghasilkan pola kerja yang tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi berlanjut menjadi program konkret untuk melindungi pelajar dari ancaman penyalahgunaan narkotika. (Adv)
Penulis: Harpiah AM



