Clicky

Perkawinan Usia Anak di Kaltim Seribu Kasus Lebih

KLIKSAMARINDA – Pernikahan usia anak di Kalimantan Timur pada tahun 2020 lalu, melampaui angka seribu orang. Berdasarkan data Kanwil Kementerian Agama Kaltim. jumlah tersebut terdiri dari 254 anak laki-laki dan 905 anak perempuan.

Dalam acara Penurunan Angka Perkawinan Usia Anak di Balai Penyuluhan KB Penajam Paser Utara (PPU), Senin 24 Mei 2021, Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Noryani Sorayalita mengatakan pihakya akan terus berupaya menurunkan angka pernikahan usia anak.

“Kasus perkawinan usia anak pada tahun 2020 berjumlah 1.159 kasus. Jumlah ini terdiri 254 anak laki-laki dan 905 anak perempuan,” ujar Noryani Sorayalita.

Kaltim sendiri telah memiliki sejumlah payung hukum untuk mengatur pernikahan usia anak. Antara lain, Instruksi Gubernur Nomor 483/5665/III/DKP3A/2019 tentang Pencegahan dan penanganan perkawinan usia anak dan Perda Ketahanan Keluarga yang terbit pada tahun 2018.

Noryani Sorayalita menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan 1 dari 4 anak perempuan di Indonesia telah menikah pada umur kurang dari 18 tahun. Menurut Noryani Sorayalita, faktor yang memengaruhi terjadinya perkawinan usia anak antara lain faktor sosial budaya, ekonomi, pendidikan, agama, sulit mendapatkan pekerjaan, media massa, pandangan dan kepercayaan, serta orang tua.

“Padahal dampaknya sangat luar biasa dari perkawinan usia anak ini. Rentan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berdampak buruk pada kesehatan. Terputusnya akses pendidikan. Rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) karena aspek pengembangan diri menjadi terhambat dan meningkatkan risiko terjadinya perceraian dan penelantaran,” ujar Noryani Sorayalita.

Dampak perkawinan usia anak tersebut antara lain timbulnya kerentanan tindak kekerasan pada perkawinan usia anak. Hal tersebut relevan dengan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA) DKP3A Kaltim, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak per 1 Mei 2021 sebanyak 120 kasus.

Pemerintah Provinsi Kaltim terus berupaya melakukan upaya pencegahan dengan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki sampai tingkat bawah diantaranya, sosialisasi pencegahan perkawinan usia anak melalui Forum Anak, Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), 241 sekolah ramah anak, 61 puskesmas ramah anak, 21 tempat ibadah ramah anak, 11 ruang bermain ramah anak, dan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

“Korban kekerasan perempuan dan anak yaitu sebanyak 57 persen korban usia anak dan 43 persen korban dewasa,” ujar Noryani Sorayalita.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Plt Kepala Dinas DP3AP3KB PPU Siti Aminah, Kasi Kepenghuluan dan Fasilitas Bina Keluarga Sakinah, Elhamsyah, dan Ketua Ikatan Bidang Indonesia (IBI) Kabupaten PPU Surati. (*)

Tinggalkan Balasan

DMCA.com Protection Status