Warta

Warga Sengkotek Samarinda Menanti Keadilan usai Dapur Hancur Dihantam Tongkang Batubara

KLIKSAMARINDA – Malam di tepian Sungai Mahakam, kawasan Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) biasanya hanya diisi oleh simfoni kecipak air dan embusan angin yang menenangkan. Namun, ketenangan itu mendadak pecah. Suasana syahdu berubah mencekam saat jeritan warga beradu dengan raungan sirene kapal yang membelah kegelapan.

Dari balik keremangan sungai, dua sosok pengangkut raksasa muncul. Dua ponton batubara berukuran masif tampak hilang kendali, meluncur liar mengarah ke pemukiman padat penduduk yang berdiri ringkih di atas permukaan air.

Di atas Tug Boat Bloro 7, para ABK berjibaku. Asap hitam pebal mengepul dari cerobong kapal, diiringi deru mesin yang dipaksa bekerja ekstra keras untuk menarik beban ribuan ton itu agar menjauh dari daratan.

Di darat, kepanikan luar biasa pecah. Warga berhamburan keluar rumah tanpa sempat menyelamatkan harta benda. Di tengah hiruk-pikuk itu, Jayati, warga RT 17, sedang berada di dalam rumahnya.
“Saya kaget, tidak bisa berbuat apa-apa,” kenang Jayati dari atas tempat tidurnya. Suaranya masih menyiratkan trauma mendalam belum lama dari malam pergantian tahun.

Malam itu, Sabtu dini hari 4 Januari 2026, Jayati sebenarnya hendak menuju kamar kecil. Langkahnya terhenti tepat sebelum mencapai pintu saat matanya menangkap pemandangan mengerikan: dinding besi raksasa bergerak maju menghantam rumahnya. Teriakan suaminya memintanya segera lari menjadi satu-satunya penanda bahwa maut sudah di depan mata.

Belum sempat ia mencapai pintu keluar, dentuman keras memekakkan kupingnya. Kayu-kayu rumahnya berderit, patah, dan ambruk seketika. Lantai tempatnya berpijak bergoyang hebat, seolah sungai ingin menelan seluruh bangunan. Dapur miliknya rata, hancur tersenggol lambung ponton.

“Beruntung kejadian itu tidak berlangsung lama. Dua ponton pengangkut batubara itu akhirnya berhasil ditarik menuju tengah sungai,” jelas Jayati.

Ketua RT 17, Budi, mengungkapkan bahwa dampak insiden ini cukup luas. Tak hanya menghantam rumah warga, dua tongkang tersebut juga sempat hanyut hingga menabrak pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu).

Selain dapur warga, aset ekonomi masyarakat ikut lumpuh. Keramba ikan milik Bumdes Probebaya RT 17 hancur ditabrak ponton, menyebabkan ikan-ikan yang siap panen lepas ke arus Mahakam. Sebuah perahu yang biasa digunakan untuk pemadaman kebakaran di pinggir sungai juga mengalami kerusakan parah.

“Selain bangunan yang hancur, beberapa peralatan darurat dan barang berharga milik warga hilang. Ada yang hancur tergilas besi, ada yang hanyut ditelan arus Mahakam yang deras,” kata Budi.

Kini, setelah asap kapal menghilang, yang tersisa hanyalah puing-puing kayu yang mengapung dan ketidakpastian. Jayati dan warga Sengkotek lainnya kini hanya bisa menanti dalam kebimbangan.

Meski perwakilan perusahaan pemilik kapal telah menemui mereka, mendata kerusakan, hingga meminta nomor rekening, hingga Selasa, 6 Januari 2026 “saldo keadilan” mereka masih kosong.

“Sudah bertemu, sudah dicatat semua. Ya, sampai sekarang saya masih menunggu ganti rugi itu,” pungkas Jayati lirih. Matanya menatap kosong ke arah belakang rumah—ke tempat di mana dapurnya dulu berdiri, yang kini telah menyatu dengan sungai.

Bagi warga RT 17 Sengkotek, Sungai Mahakam adalah urat nadi kehidupan. Namun, peristiwa malam itu menjadi pengingat pahit bahwa di balik ketenangannya, Mahakam menyimpan ancaman besar. Hidup mereka kini berada di bawah bayang-bayang raksasa besi pengangkut “emas hitam” yang setiap hari melintas; mengadu nasib antara mencari rezeki dan risiko kehilangan tempat tinggal dalam sekejap mata.

Hingga warga Sengkotek menerima ganti rugi, janji perusahaan masih terasa sedingin angin malam Mahakam—ada, namun belum dapat didekap. (*)

Penulis: Suriyatman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *