News

Pelepasliaran 4 Individu Orangutan ke Habitat Hutan Kehje Sewen Kutim

KLIKSAMARINDA – Demi pelestarian spesies, empat individu orangutan yang sebelumnya dirawat di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Borneo Orangutan Survival (BOS), dilepasliarkan. Mereka menempuh perjalanan dari kawasan konservasi orangutan ke Hutan Kehje Sewen Muara Wahau di Kutai Timur Kalimantan Timur pada Kamis, 9 November 2023.

Perjalanan menuju Hutan Kehje Sewen bukanlah perjalanan biasa. Dengan jarak yang cukup jauh dari pusat rehabilitasi, dibutuhkan waktu dua hari dan satu malam untuk mencapai tujuan. Tiga mobil yang membawa keempat orang utan harus beristirahat setelah dua jam perjalanan, memberikan mereka waktu untuk makan dan minum. Namun, perjalanan ini tidak hanya bergantung pada waktu, tetapi juga pada kondisi lapangan, termasuk jalan yang rentan terhadap longsor.

Hutan Kehje Sewen, yang dipilih sebagai tempat lepasliar, dianggap memiliki kemiripan dengan habitat asli orang utan di hutan Kalimantan. Keempat individu orang utan, Gami (23), Ozi (30), Eliona (5), dan Ila (13), yang semuanya berasal dari masyarakat dan telah menjalani pelatihan intensif di BOS Kaltim, dipersiapkan untuk kembali ke habitat alaminya.

Menurut Adrianto Priyatjati, Manajer Regional BOS Kaltim, pemilihan Hutan Kehje Sewen didasarkan pada penilaian bahwa hutan tersebut mirip dengan habitat asli orang utan di Kalimantan. Proses pemulihan individu orang utan bervariasi, bergantung kepada kemampuan masing-masing. Semakin lama mereka berinteraksi dengan manusia, semakin lama pula proses rehabilitasi yang diperlukan.

“Prosesnya ada bermacam-macam. Ada yang sebentar sejak tahun 2021, ada yang sudah cukup lama. Dan ini juga bergantung kemampuan dari orangutan sendiri. Jadi, kalau kami melihat, makin lama berada dengan manusia, maka semakin lama pula untuk proses rehabilitasi,” ujar Adrianto Priyatjati.

Denny Mardiono, Wakil Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim), menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya pembebasan orang utan ke habitat aslinya, tetapi juga membuka pintu harapan bagi kelangsungan hidup spesies ini dan ekosistem yang mereka huni. Adanya habitat khusus yang dikelola oleh PT Rehabilitasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) di Hutan Kehje Sewen, yang terus direhabilitasi seluas 86.000 hektar, menjanjikan tempat yang cocok bagi orang utan Borneo.

Menurut Denny Mardiono, Hutan Kehje Sewen bukan hanya tempat hidup orang utan, melainkan juga hasil dari kerjasama antara masyarakat, BKSDA, dan Yayasan BOS. Setelah melewati serangkaian penyerahan dari masyarakat, rehabilitasi intensif, hingga pelepasliaran, langkah ini menjadi simbol nyata kerja sama untuk keberlanjutan spesies dan ekosistem.

“Memang di sana adalah habitat sudah dilakukan kajian dan beberapa kali sudah dilakukan pelepasliaran di sana. Semuanya memang hasil dari penyerahan dari masyarakat ke BKSDA. Kemudian dilakukan rehabilitasi kerjasama dengan yayasan BOS,” ujar Denny Mardiono.

Hutan Kehje Sewen, dikelola oleh PT Rehabilitasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), memiliki peran vital dalam melestarikan orang utan Borneo. Dengan luas hutan yang terus direhabilitasi, diharapkan dapat menjadi tempat yang ideal bagi orang utan untuk hidup dan berkembang biak. Kehadiran hutan khusus yang dibuat oleh pemerintah menunjukkan komitmen untuk melindungi habitat orang utan dan menjaga kelestarian hidup mereka.

Pelepasliaran orang utan bukan hanya sekadar pemindahan individu dari satu tempat ke tempat lain, tetapi merupakan upaya nyata untuk mengembalikan mereka ke habitat asli mereka. Proses ini melibatkan kerjasama antara berbagai pihak, termasuk masyarakat, BKSDA, dan Yayasan BOS. Semua itu adalah langkah konkret dalam menjaga ekosistem dan kelangsungan hidup spesies yang terancam.

Sebagai bagian dari persiapan menuju kehidupan bebas, keempat orang utan tersebut menerima makanan dan minuman dari petugas BOS di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam di Jalan MT Haryono, Samarinda. Mereka, yang sebelumnya telah diselamatkan dan dirawat dengan penuh cinta di fasilitas rehabilitasi BOS Samboja Lestari, Samboja, Kutai Kartanegara, telah dimasukkan ke dalam peti sebelum mereka dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kutai Timur.

Pelepasliaran orang utan ke Hutan Kehje Sewen Muara Wahau adalah sebuah langkah penting dalam upaya pelestarian spesies dan ekosistem. Proses ini menunjukkan komitmen dan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk masyarakat, BKSDA, dan Yayasan BOS. Hutan Kehje Sewen, dengan luas 86.000 hektar yang terus direhabilitasi, menjadi tempat penting bagi orang utan Borneo untuk hidup dan berkembang biak. (Suriyatman)

Back to top button
DMCA.com Protection Status