Aksi di Kaltim Bela Korban di Muara Kate, Tuntut Gubernur dan Kapolda Mundur

KLIKSAMARINDA – Puluhan aktivis dari Aliansi Masyarakat Sipil Kalimantan Timur (Kaltim) berdemonstrasi di depan Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajah Mada Samarinda, Kamis 21 November 2024.
Mereka memprotes kasus dugaan pembunuhan di Dusun Muara Kate, Kabupaten Paser yang terjadi pada 15 November 2024 lalu.
Para pendemo juga menuntut penertiban aktivitas pertambangan batubara ilegal yang meresahkan masyarakat.
Aksi yang dipimpin juru bicara Dede Wahyudi ini bermula dari insiden berdarah di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kecamatan Muara Komam. Kasus ini diduga berkaitan dengan tambang batubara ilegal.
Warga setempat saat itu memasang portal untuk menolak kendaraan pengangkut batubara, yang berujung pada pengeroyokan yang menewaskan satu orang dan melukai seorang lainnya.
Warga Muara Kate tengah melakukan perlawanan demi menolak penggunaan jalan desa yang merupakan jalan nasional untuk lalu lintas kendaraan pengangkut batubara.
Dalam demonstrasinya, mahasiswa membentangkan spanduk menyatakan bahwa aktivitas pertambangan batubara telah menyebabkan 56 orang meninggal di Kalimantan Timur.
Mereka menuntut Pj Gubernur Kalimantan Timur dan Kapolda untuk mundur dari jabatannya.
Aksi berlangsung dramatis dengan terjadinya saling dorong antara mahasiswa dan petugas keamanan di pintu masuk Kantor Gubernur.
Mahasiswa bahkan membakar ban sebagai simbol perlawanan, menandakan eskalasi konflik yang mencapai titik didih.
Dede Wahyudi menegaskan, aksi membela korban di Muara Kate ini adalah bentuk solidaritas melawan pertambangan yang ugal-ugalan dan menyiksa masyarakat Kaltim. Negara dan aparat penegak hukum nyatanya tidak pernah ada untuk masyarakat.
“Bentuk kemarahan dan kita merespon bagaimana pemerintah hari ini yang tidak mampu menjamin kualitas hidup dan masyarakat dan melakukan penegakan hukum. Dalam hal ini adalah kualitas penegakan hukum. Tapi sudah beberapa kasus yang terjadi, sudah kita lihat, tidak ada penegakan hukum yang jelas dan tegas dan ada pengabaiaan terhadap tugas-tugas mereka,” ungkap Dede di sela aksi.
Meskipun gagal menemui Pj Gubernur, Aliansi Masyarakat Sipil Kaltim membubarkan diri Kamis malam, sambil mengancam akan menurunkan massa lebih besar pada aksi selanjutnya. (Suriyatman)




