Mengenal Badak Kalimantan Yang Diambang Kepunahan

Badak Kalimantan

KLIKSAMARINDA – Pahu badak Kalimantan ditranslokasi dari alam liar pada 2015. Pahu lalu dipindahkan ke Suaka Badak Kelian Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 2018.

Translokasi badak ini menuju konservasi eksitu untuk program pengembangbiakan. Ada satu badak lain, dinamai Najak, yang juga ikut ditranslokasi namun tidak bertahan dan mati di tahun 2016.

Pahu badak Kalimantan hingga September 2022, hidup di sebuah lahan seluas 10 hektare. Lahan suaka tersebut dikelilingi pagar kawat listrik.

Kondisi suaka dibuat persis seperti habitat badak di alam liar. Petugas suaka yang masuk pun dibatasi, hanya keeper dan dokter hewan.

Pahu badak Kalimantan berkelamin betina ini hanya ditemani para petugas Resort Konservasi Suaka Badak Kelian Kubar.

Sejauh ini, suplai pakan badak Pahu sekitar 25 kilogram (kg). Jenis pakan badak pahu berupa daun dan buah-buahan yang diambil dari kawasan hutan lindung.

Badak Pahu membutuhkan sekitar 10 persen dari berat badannya dalam pemenuhan pakan harian. Badak Pahu sendiri memiliki bobot mencapai 350 kilogram.

“Jadi per hari itu, dia butuh makan sekitar 35 kg daun dan buah-buahan. 25 kilonya kita siapkan, sisanya dia mencari sendiri,” ujar Kepala Resort Konservasi Suaka Badak Kelian Kubar, Jono Adiputro, Jumat 23 September 2022, dikutip dari Kominfo Kaltim.

Sembilan tahun lalu, badak kalimantan ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Badak Kalimantan ditemukan dengan bukti visual tahun 2013 dari camera trap yang dipasang.

Badak yang ada di Pulau Kalimantan pernah diduga tidak ada. Namun beberapa kali terdapat laporan masyarakat lokal, terkait tanda keberadaan badak tersebut.

Badak Kalimantan dikenal dalam bahasa latin Dicerorhinus sumatrensis harrisoni. Badak Kalimantan secara genetik masih satu spesies dengan badak sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis yang ada di Pulau Sumatera.

Ada perbedaan mendasar antara badak kalimantan dan badak sumatera. Antara lain perbedaan ukuran tubuh.

Badak Kalimantan memiliki bobot sekitar setengah dari bobot badak sumatera. Yaitu sekitar 350 hingga 370 kilogram (kg). Sementara, bobot tubuh badak sumatera bisa mencapai berat 600 hingga 700 kg.

Badak kalimantan masuk ke dalam daftar merah International Union For Conservation of Nature (IUCN) dan termasuk satwa langka yang harus dilindungi.

Pemerintah Indonesia bersama mitra terkait, hingga saat ini masih terus melakukan pendataan populasi badak di Pulau Kalimantan.

Jono Adiputro menjelaskan, badak kalimantan adalah satwa purba yang hidup sejak sekitar 20 juta tahun lalu hingga saat ini. Badak kalimantan masuk dalam jenis hewan mamalia dari Genus dicerorhinus.

“Jejak populasi badak kalimantan setelah kami telusuri, badak ini ada di seluruh daratan Kalimantan. Bahkan bisa dibilang, mereka lah penduduk asli Kalimantan yang sudah ada sejak zaman dulu,” ujar Jono Adiputro.

Keberadaan habitat badak sebagai satwa asli Kalimantan diduga menjadi asal mula nama salah satu daerah di Kaltim, Muara Badak.

Penetapan Taman Nasional Kutai pun dimaksudkan untuk menjaga habitat badak.

“Hampir di seluruh wilayah Kaltim ini disinyalir menjadi sebaran habitat satwa badak. Bahkan sampai ke wilayah Sabah, Malaysia. Ada suaka badak di sana, sempat ditemukan dua ekor,” ujar Jono Adiputro.

Indonesia diketahui memiliki dua spesies satwa badak dari lima yang tersisa di dunia. Yakni, Dicerorrhinus sumatrensis dan Rhinoceros sondaicus.

Keduanya, kini dikategorikan terancam punah atau critically endangered.

Ada pun ciri-ciri badak kalimantan adalah bercula dua, berambut pada lipatan kulit panggal paha, pinggang, pangkal kaki depan, dan bahu.

Kini badak Kalimantan diambang kepunahan. Kepunahan badak kalimantan ada beberapa penyebab.

“Kerusakan habitat yang besar, jumlah yang kecil dalam satu lokasi, dan fragmentasi habitat yang menyulitkan badak bertemu satu dengan lainnya untuk berkembang biak,” ujar Jono Adiputro.

Jono Adiputro menambahkan, angka kelahiran yang rendah, kelainan reproduksi, dan perburuan atau poaching juga menambah deretan faktor kepunahan mamalia asli Kalimantan ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DMCA.com Protection Status