Dampak Kenaikan Harga Tiket Pesawat Mulai Dirasakan Pelaku Usaha Wisata di Kaltim
Melemahnya nilai tukar rupiah jadi masalah serius. Di Kaltim, harga tiket pesawat mengalami kenaikan. Sementara tingkat hunian hotel belum mencapai 30 persen.
General Manager Bandara SAMS Balikpapan, Iwan Winaya Mahdar, menjelaskan kenaikan harga tiket pesawat pasca Lebaran 2026 berdampak langsung pada jumlah penumpang.
“Jika sebelumnya jumlah penumpang mencapai 14-15 ribu orang per hari, kini turun menjadi sekitar 9-11 ribu orang per hari. Pada akhir pekan rata-rata sekira 12 ribu penumpang,” akunya, seperti dilansir laman resmi Pemprov Kaltim.
Kata Iwan, kenaikan harga tiket dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya adalah meningkatnya harga avtur akibat kondisi geopolitik global. Sebagai contoh, tarif penerbangan Balikpapan–Jakarta yang sebelumnya sekira Rp1,1 juta, kini berada di kisaran Rp1,7 juta hingga Rp2 juta per orang.
Sementara itu, sektor pariwisata Kaltim diklaim masih menunjukkan daya tahan. Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menerangkan kunjungan wisatawan nusantara pada April-Mei 2026 telah mencapai sekira 1,1 juta kunjungan. “Sementara wisatawan mancanegara tercatat lebih dari 10 ribu kunjungan. Pasar utamanya berada di Berau, Kubar, Mahulu, dan Kukar,” katanya.
Dampak kenaikan tiket mulai dirasakan pelaku usaha wisata. Tingkat hunian hotel di sejumlah daerah dilaporkan belum mencapai 30 persen. Selain itu, sektor MICE juga ikut terdampak akibat berkurangnya kegiatan pemerintah dan perusahaan di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Untuk menjaga daya saing pariwisata, Ririn mendorong adanya dukungan berupa subsidi tiket dari pemerintah pusat serta kolaborasi antara pelaku wisata, hotel, dan platform perjalanan daring seperti Traveloka, Agoda, dan platform sejenis lainnya.
Selain itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menegaskan tiket pesawat menjadi salah satu komponen yang turut memengaruhi inflasi daerah. “Karena itu, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi antara Bank Indonesia, Pemprov Kaltim, dan TPID,” paparnya.
Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Politik UMKT, Farid Wajdi menilai, kenaikan harga tiket pesawat merupakan faktor eksternal yang sulit dikendalikan daerah. “Diperlukan strategi adaptif agar sektor pariwisata dan penerbangan tetap mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi global,” tegasnya. (*)



