Warta

Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan PWI 2026 untuk Wali Kota Samarinda

KLIKSAMARINDA – Di tengah suasana khidmat Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat malam, 9 Januari 2026, nama Samarinda menggema dengan nada kebanggaan. Wali Kota Samarinda Andi Harun resmi menyabet Trofi Abyakta dalam ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.

Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan PWI 2026 untuk Wali Kota Samarinda menjadi sebuah capaian prestisius yang datang tepat waktu, menjadi kado manis menjelang HUT Kota Samarinda ke-358 dan HUT Pemerintah Kota Samarinda ke-66.

Trofi Abyakta bukan sekadar piala yang berkilau di etalase. Nama “Abyakta”, yang diambil dari bahasa Sanskerta, berarti nyata atau manifestasi yang terlihat. Bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), penghargaan ini merupakan pengakuan tertinggi bagi kepala daerah yang mampu menerjemahkan gagasan kebudayaan menjadi kebijakan konkret—hidup, berjalan, dan dirasakan masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Andi Harun, Samarinda dinilai berhasil menghidupkan kembali “roh” Sarung Samarinda. Wastra lokal yang dulu kerap dianggap busana seremoni itu kini tampil berbeda. Ia hadir di ruang publik, forum resmi, hingga aktivitas harian warga. Tak lagi statis, tak lagi sekadar simbol masa lalu.

“Kebudayaan tidak boleh berhenti di panggung seremoni. Ia harus hidup, dikenakan, dan dirasakan,” tegas Andi Harun saat memaparkan visinya di hadapan dewan juri nasional.

Bagi Andi Harun, Sarung Samarinda adalah busana tropis yang membumi. Sederhana, inklusif, dan lentur mengikuti zaman. Ia bukan nostalgia, melainkan identitas. Sebuah penanda jati diri masyarakat Samarinda yang tetap relevan di tengah arus modernisasi yang kian deras.

Perjalanan menuju trofi ini pun tidak instan. Dalam tahap pengajuan proposal bertajuk “Dari Wastra Lokal Menuju Kebudayaan Nasional”, Andi Harun sempat berada di posisi kedua, terpaut tipis lima poin dari Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. Persaingan ketat itu menjadi bukti bahwa ajang ini bukan formalitas, melainkan arena adu gagasan dan konsistensi.

Yang membedakan Samarinda, menurut dewan juri, adalah implementasi nyata di lapangan. Kebijakan tidak berhenti di dokumen, tetapi diterjemahkan dalam praktik sehari-hari. Dari regulasi, teladan pemimpin, hingga penerimaan publik yang tumbuh perlahan namun pasti.

Ketua Panitia Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menyebut Samarinda sebagai contoh harmonisasi pembangunan dan pelestarian budaya.

“Penghargaan ini menegaskan bahwa Samarinda bukan sekadar membangun fisik kota, tetapi juga merawat makna. Dari selembar sarung, lahir pesan tentang jati diri dan keberlanjutan masa depan budaya yang tidak ditinggalkan zaman,” kata Yusuf

Kini, di ambang hari jadi kota, Trofi Abyakta menjadi penanda arah. Bahwa di balik deru pembangunan dan laju modernisasi, Samarinda tetap menjaga denyut nadinya. Di tangan Wali Kota Andi Harun, selembar Sarung Samarinda tak lagi terlipat diam di lemari. Ia telah berjalan—tenang, anggun, dan pasti—menapaki panggung kehormatan di level nasional dengan cara menghargai kebudayaan. (*)

Penulis: Yuni

seedbacklink

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker