Clicky

Jumat, 26 Februari 2021 00:55:17

Trend Garis Kemiskinan Kaltim Naik

KLIKSAMARINDA –  Di Kalimantan Timur, Badan Pusat Statistik atau BPS Kaltim mencatat daftar komoditi yang berdampak besar bagi garis kemiskinan adalah Beras, Rokok kretek filter, Telur ayam ras, Daging ayam ras, Mie instan, Gula pasir, Cabe rawit, Tongkol/tuna/cakalang, Bawang Merah, dan Susu bubuk.

BPS Kaltim juga mencatat, jumlah penduduk miskin pada September 2020 mengalami peningkatan hingga 13.730 orang. Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwitjahyono menuturkan, pada Maret 2020 penduduk miskin di Kaltim berada di angka 230 ribu jiwa. Hingga September 2020, jumlah mencapai 243 ribu jiwa atau naik sebanyak 0,54 persen.

”Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur pada September 2020 sebanyak 243,99 ribu (6,64 persen). Pada Maret 2020 sebanyak 230,26 ribu (6,10 persen), berarti jumlah penduduk miskin secara absolut bertambah 13,73 ribu orang (secara persentase naik 0,54 persen poin),” ujar Anggoro Dwitjahyono dalam rili vitrual melalui channel BPS Kaltim, Senin 15 Februari 2021.

Point of View:  Pelepasan Jenazah Bupati Paser Secara Militer

BPS Kaltim juga mencatat Garis Kemiskinan (GK) mengalami kenaikan hingga 1,11 persen. GK sendiri dijelaskan sebagai suatu nilai pengeluaran untuk kebutuhan minimun terhadap makanan dan non makanan per bulan yang harus dipenuhi.

”Selama Maret 2020 – September 2020, garis kemiskinan (GK) naik sebesar 1,11 persen, yaitu dari Rp. 662.302,- per kapita per bulan pada Maret 2020 menjadi Rp. 669.622,- per kapita per bulan pada September 2020,” ujar Anggoro Dwitjahyono.

“Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran konsumsi per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin,” ujar Anggoro Dwitjahyono.

Kenaikan GK utamanya disebabkan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Sehingga menurut Anggoro penting sekali menjaga stabilitas harga di kelompok bahan pokok.

Periode Maret 2020 – September 2020, Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 1,015 pada keadaan Maret 2020 menjadi 1,031 pada keadaan September 2020. Indeks Keparahan Kemiskinan juga naik dari 0,240 menjadi 0,293 pada periode yang sama.

Point of View:  Tiga Warga Samarinda Jalani Isolasi di RSU AW Syahranie

Pada September 2020, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur dengan Gini Ratio tercatat sebesar 0,335. Angka ini naik sebesar 0,007 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2020.

Pada September 2020, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah sebesar 20,33 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Angka ini turun sebesar 0,40 persen poin dibandingkan angka Maret 2020.

”Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 1,015 pada Maret 2020 menjadi 1,031 pada September 2020. Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 0,240 menjadi 0,293 pada periode yang sama,” ujar Anggoro Dwitjahyono.

Point of View:  Update Covid-19 Kaltim Kasus Positif Sentuh Angka 54, Dua di Samarinda

BPS Kaltim juga mencatat terdapat beberapa faktor-faktor yang terkait dengan tingkat kemiskinan di Kalimantan Timur. Pertama, menurut Anggoro Dwitjahyono, adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) naik.

Pada Agustus 2020, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,87 persen. Terjadi kenaikan sebesar 0,93 persen poin dibandingkan Agustus 2019 yang sebesar 5,94 persen.

Faktor kedua adalah dampak pandemi Covid-19. BPS Kaltim mencatat, ada sebanyak 411,38 ribu penduduk usia kerja terdampak Covid-19 sebanyak 411,38 ribu penduduk usia kerja (14,28 persen) terdampak Covid-19 pada
Agustus2020.

”Rinciannya adalah 30,98 ribu penduduk menjadi pengangguran, 14,34 ribu penduduk menjadi bukan angkatan kerja, 21,20 ribu penduduk sementara tidak bekerja, dan 344,85 ribu penduduk bekerja dengan pengurangan jam kerja(shorter hours), ujar Anggoro Dwitjahyono. (*)

DMCA.com Protection Status
error: Terima kasih telah membaca kliksamarinda.com