DPRD Samarinda

SPMB Samarinda 2026, Sri Puji Astuti Nilai Kebijakan Calistung dan Kurikulum SD Tidak Sinkron

Kliksamarinda.com – Sri Puji Astuti memberikan sorotan terhadap ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat terkait sistem penerimaan murid baru (SPMB) dan penerapan kurikulum di tingkat sekolah dasar (SD) tahun 2026.

Sorotan terhadap SPMB Samarinda 2026 itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Juknis dan Konsultasi Publik SPMB jenjang PAUD, SD, dan SMP Kota Samarinda yang digelar di Arutalla Ballroom Bapperida Kota Samarinda, Senin 25 Mei 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Puji menyinggung aturan terbaru dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang menyebutkan bahwa anak masuk SD tidak lagi wajib berusia tujuh tahun. Calon peserta didik juga tidak diwajibkan memiliki kemampuan baca tulis hitung (calistung) maupun latar belakang pendidikan TK.

Menurutnya, kondisi ini memunculkan persoalan baru di lapangan. Di satu sisi, TK tidak diperbolehkan memberikan pembelajaran calistung secara penuh. Di sisi lain, kurikulum kelas 1 SD justru menuntut anak mampu memahami materi berbentuk cerita.

“Bagaimana anak-anak yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung harus mengikuti pelajaran? Guru juga akan kesulitan jika harus mendampingi banyak murid dengan kemampuan dasar yang berbeda-beda,” ujarnya.

Ia menilai persoalan tersebut terjadi karena kebijakan pusat belum selaras dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah dasar dan meminta pemerintah pusat melakukan penyesuaian kurikulum beserta buku pembelajaran agar lebih sesuai dengan kemampuan siswa kelas awal.

Menurutnya, kondisi saat ini justru membuat banyak orang tua kebingungan. Meski sekolah dasar negeri tidak memungut biaya, orang tua akhirnya memilih memasukkan anak ke tempat les demi mengejar kemampuan calistung sebelum masuk SD.

“Seakan-akan dipaksakan karena sistemnya yang tidak sinkron. Orang tua jadi bingung, anak juga bingung,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa usia bukan satu-satunya indikator kesiapan anak masuk SD. Ia menilai setiap anak memiliki tingkat kematangan emosional dan intelektual yang berbeda sehingga perlu adanya assessment atau rekomendasi khusus sebelum masuk sekolah dasar. (Adv)

Penulis: Harpiah AM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *