Pilar Jembatan Mahulu Samarinda Ditabrak Tongkang Batubara Lagi
KLIKSAMARINDA – Terulang kembali Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), ditabrak tongkang bermuatan ribuan metrik ton batubara. Tongkang pengangkut emas hitam ini tak terkendali dan menghantam pilar jembatan pada Minggu pagi, 25 Januari 2026.
Peristiwa tongkang bermuatan batubara menabrak pilar Jembatan Mahulu ini kembali menyorot lemahnya pengawasan aktivitas pelayaran di Sungai Mahakam.
Tongkang pengangkut batubara tersebut diketahui tersangkut di bawah Jembatan Mahulu.
Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, dua unit tugboat langsung dikerahkan ke lokasi.
Sejumlah pekerja tampak berupaya memasang tali penarik agar ponton bisa segera dijauhkan dari pilar jembatan.
Sejak Senin pagi, 26 Januari 2026, personel Sat Polairud Polresta Samarinda langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Hasil pemeriksaan sementara pihak kepolisian terungkap tongkang dengan nama B-G Marine Power 3066 diduga terlepas saat dalam posisi tambat di buoy.
Kasat Polairud Polresta Samarinda, Kompol Rahmad Ariwibowo, menjelaskan bahwa derasnya arus Sungai Mahakam menjadi faktor utama.
Selain itu, tali buoy diduga putus setelah tersenggol kapal lain, sehingga ponton bergerak liar tanpa kendali.
Menurut Kompol Rahmad, pada saat berlabuh di buoy, tali tambatnya putus karena ada kapal lain yang menyenggol buoy tersebut. Akibatnya kapal lepas kontrol, menabrak fender luar, lalu menyenggol jembatan.
“Sementara hasil penyelidikan kami, kapal yang menyenggol jembatan, BG Marine ini, pada saat berlabuh di buoy. Dia tali bouynya putus karena ada kapal yang menyenggol bouy tersebut. Karena lepas kontrol sehingga menabrak vender luar kemudian menyenggol jembatan,” ujar Kompol Rahmad, Senin 26 Januari 2026.
Seorang saksi mata bernama Awang mengaku melihat tongkang sudah hanyut tanpa pengawalan tugboat.
Ia dan warga sekitar sempat khawatir ponton lain di sekitar lokasi ikut terdampak insiden tersebut. “Waktu saya lihat tadi sudah larut (hanyut). Saya lihat sama teman-teman, ini tugboat-nya mana? ternyata tidak ada. Karena banyak ponton di sini, kami khawatir ponton lain juga kena,” kata Awang.
Pihak kepolisian juga mendalami aspek teknis lainnya, termasuk klarifikasi rekaman komunikasi terkait dugaan keterlibatan oknum aparat dalam penyediaan tambatan ilegal.
Namun, hasil sementara memastikan individu yang dimaksud hanyalah warga setempat berinisial D. Hingga kini, polisi telah memeriksa sekitar 13 orang saksi.
Sebagai langkah pengamanan, KSOP Samarinda mengeluarkan larangan sementara seluruh kapal melintas di kolong Jembatan Mahakam Ulu pada Senin, 26 Januari 2026, hingga sore hari.
Larangan ini diterapkan selama tim teknis melakukan pemeriksaan struktur jembatan pasca-tabrakan.
Tak hanya itu, Dinas PUPR dan PERA Kalimantan Timur juga dikabarkan akan membatasi lalu lintas di Jembatan Mahulu mulai Selasa, 27 Januari 2026, pukul 17.00 WITA.
Pembatasan dilakukan untuk pengujian geometri dan uji beban jembatan. Selama pemeriksaan, hanya kendaraan roda dua dan roda empat yang diperbolehkan melintas, dengan pemasangan portal pembatas setinggi 2,45 meter untuk mencegah kendaraan berat masuk.
Langkah ini diambil demi menjamin keselamatan pengguna jalan serta memastikan kondisi struktur Jembatan Mahakam Ulu tetap aman pasca insiden ditabrak tongkang batubara. (*)
Penulis: Suriyatman



