Ekbis

Produksi Masker Samarinda Gunakan Proses Cutting Laser

KLIKSAMARINDA – Di tengah wabah corona (Covid-19) di Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) warga tetap menjalankan aktivitas untuk menopang kehidupan sehari-hari. Meskipun begitu, ada proses adaptasi di dalamnya karena harus menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di tengah pandemic global virus corona saat ini.

Seperti usaha pembuatan souvenir atau merchandise yang dikelola sejumlah rumah produksi di Samarinda. Mereka melakukan alih fungsi mesin untuk tetap berproduksi.

Mesin cutting laser yang bisa digunakan untuk memotong pola untuk souvenir atau merchandise yang terbuat dari acrylic, marmer, kaca, kayu, kertas, karet stempel, kulit sintetis dan lainnya, kini berubah fungsi menjadi alat pemotong kain.

Sepinya order menjadi penyebab perubahan itu di tengah pancemic Covid-19. Pengusaha Dokter Printing di Jalan Wahid Hasyim 2 Sempaja misalnya, memutar otak agar mesin tetap berfungsi.

Saat ini, mereka menggunakan mesin itu untuk membuat masker. Dengan daya listrik sekitar 3000 Watt, mesin ini mampu membuat 6000 masker kain dalam sehari. Masker menggunakan bahan kain scuba, khusus dan layak digunakan untuk masker.

Mohammad Bahzah melirik kreatifitas anak buahnya. Dosen senior di Universitas Mulawarman ini tergugah ketika melihat banyak sekali masyarakat yang panik akibat tidak mendapatkan masker.

Ia kemudian merancang sebuah masker yang ekonomis dan disukai oleh masyarakat. Setiap hari, lebih dari 2000 masker dengan harga Rp4000 per masker ini keluar dari gudang Dokter Printing.

“Yang pertama adalah ketika lockdown, anak buah tidak ada pekerjaan. Kasihan. Mesin kita punya dan kita manfaatkan mesin ini membantu masyarakat pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan masker. Dengan mesin laser, kita lebih cepat kerjanya,” ujarnya, Jumat 10 April 2020.

Kepala Dinas Perindustrian Samarinda, Muhammad Faisal mengaku bahwa apa yang dilakukan Dokter Printing saat masyarakat membutuhkan masker sangat membantu. Apalagi masker ini dijual dengan harga yang sangat murah.

“Industri yang sebenarnya terlalu mahal untuk ini. Tapi mereka mau bantu untuk kebutuhan di kota Samarinda. Kita gembira. Sebenarnya yang lain juga ikut, tidak hanya penjahit butik, konveksi. Tapi usaha-usaha cutting laser juga bisa,” ujar Muhammad Faisal. (Jie)