Warta

Kasus Narkotika di Kaltim Meningkat, Dipicu Asmara dan Patah Hati

Kasus penyalahgunaan narkotika di Kaltim masih menjadi ancaman serius. Penyebarannya kian massif. Tidak mengenal batas usia, profesi, maupun latar belakang sosial.

Kepala BNN Kaltim Brigjen Pol. Rudi Hartono, menyatakan tahun ini menjadi periode yang penuh tantangan. Berdasarkan data terbaru, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Kaltim mengalami kenaikan signifikan. Ini jika dibandingkan 2021.

“Pada tahun 2021, angka prevalensi kita berada di 1,7 persen. Namun, di tahun 2025 ini melonjak menjadi 2,11 persen. Kenaikan ini sejalan dengan hasil penangkapan yang meningkat,” jelasnya, Selasa (30/12/2025) kemarin, seperti dikutip KLIKSAMARINDA dari unggahan resmi @beritapemprovkaltim di Instagram.

Peningkatan angka penangkapan ini, lanjut Rudi, menandakan jika jaringan, lokasi, serta pola peredaran narkotika di Kaltim tak sekadar terpetakan. Tetapi juga terungkap secara transparan.

Menghadapi situasi tersebut, Rudi mengatakan BNN Kaltim menerapkan strategi komprehensif. “Jika pada 2023 pendekatan dilakukan melalui lima pilar perang terhadap narkotika, maka di periode 2024–2025 strategi diperkuat pendekatan ikonik dan tematik,” terang Rudi.

Data BNN Kaltim menunjukkan, usia produktif hingga 64 tahun merupakan kelompok yang paling rentan menggunakan narkotika. Faktor pemicunya beragam. Mulai dari kegagalan bisnis, masalah keluarga, hingga persoalan asmara atau patah hati.

Pada 2025, BNN Kaltim telah membangun 7 Desa Bersinar –Bersih Narkoba– dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah. “Program ini diharapkan menjadi benteng pertahanan pertama dalam mengurai pengaruh bandar di tingkat desa,” tandas Rudi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *