Menag Serukan Gerakan Nasional Teladan Pelayan Umat

Jakarta – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyerukan pentingnya Gerakan Nasional “Teladan Pelayan Umat” dalam peluncuran buku Teladan Sang Menteri karya akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang digelar oleh Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal di Ruang VIP Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin 6 April 2026.
Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan mockup sampul serta penyerahan buku secara simbolis oleh Menag. Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar juga menjadi pembicara utama yang memaparkan perjalanan intelektual dan spiritualnya, termasuk kebiasaan membaca, menulis, serta refleksi mendalam yang dijalaninya secara konsisten.
Menurutnya, proses pembelajaran yang ditempa dari tradisi pesantren dan kajian tasawuf membentuk cara pandangnya dalam memahami ilmu dan kehidupan secara utuh. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi dalam membangun kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan umat.
Dalam sambutannya, Menag RI menegaskan komitmen kuat Kementerian Agama untuk mendorong transformasi pelayanan publik berbasis nilai.
“Kementerian Agama berkomitmen menghadirkan Gerakan Nasional Teladan Pelayan Umat sebagai arah baru birokrasi yang melayani. Komitmen ini harus dijalankan secara menyeluruh, mulai dari Kementerian Agama pusat, Kanwil provinsi, Kankemenag kabupaten/kota, hingga KUA di setiap kecamatan,” tegas Nasaruddin Umar.
Ia menambahkan bahwa gerakan tersebut harus berlandaskan nilai-nilai utama pelayanan, yakni integritas, empati, profesionalitas, dan inklusivitas.
“Penekanan utama kita adalah seluruh struktur Kementerian Agama harus menjadi Teladan Pelayan Umat dan Seluruh Lapisan Masyarakat Indonesia. Inilah wajah pelayanan keagamaan yang kita bangun—meneduhkan, mempersatukan, dan melayani,” lanjutnya.
Buku Teladan Sang Menteri ditulis oleh tim akademisi yang dipimpin Mujiburrahman bersama Reza Idria, Kamaruzzaman, Rahmad Syah Putra, Muhajir Al Fairusy, dan Arkin. Karya ini mengangkat sosok Nasaruddin Umar sebagai ulama, akademisi, dan negarawan melalui pendekatan biografis reflektif.
Selain menelusuri perjalanan hidupnya sejak masa kecil di Bone, Sulawesi Selatan, buku ini juga mengulas gagasan besar yang ia kembangkan, seperti moderasi beragama, pendekatan teo-sofi dalam memahami Al-Qur’an, serta konsep eko-teologi yang mengaitkan ajaran tauhid dengan tanggung jawab ekologis. Gagasan tersebut telah diterjemahkan dalam berbagai kebijakan konkret, termasuk pengembangan eco-masjid dan program berbasis lingkungan.
Di bidang pendidikan, buku ini juga memperkenalkan konsep “kurikulum cinta” yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai fondasi utama dalam membangun relasi sosial dan pembelajaran yang humanis.
Sejumlah pejabat dan tokoh nasional turut menghadiri kegiatan ini, di antaranya Nurhayati, Ismail Cawidu, Dwi Larso, Kamaruddin Amin, serta Abu Rokhmad. Hadir pula sejumlah rektor PTKIN dari seluruh Indonesia.
Sebagai narasumber, tampil Yusny Saby dan Farid F Saenong yang memperkaya diskusi dengan perspektif akademik dan kebijakan.
Melalui peluncuran buku ini, UIN Ar-Raniry menghadirkan potret utuh kepemimpinan religius yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada pengabdian. Buku ini diharapkan menjadi referensi penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas dalam membangun model kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga berakar pada nilai spiritual dan kemanusiaan. (*)




